RSS

Beberapa Aliran Sastra

23 Feb

Artikel Terkait

* Contoh Esai Sastra: Kemat Jaran Guyang
* Mengenal Beberapa Novel Sastra Indonesia
* Deskripsi, Jenis Karangan Bahasa Indonesia
* Sastra Lama: Naskah Sastra Melayu Klasik

Karya sastra sebagai karya seni tidak akan terlepas dari pengaruh aliran yang melatarbelakangi lahirnya karya tersebut. Hal ini disadari atau tidak oleh pengarangnya, pengaruh aliran tersebut dapat dianalisis dalam karya sastra yang ditulisnya.

Menurut Korrie Layun Rampan, aliran sastra dapat diartikan sebagai hasil ekspresi para sastrawan yang meyakini bahwa jenis sastra yang mereka ciptakan itulah hasil sastra yang paling cocok untuk zamannya.

Jika hasil sastra sebelumnya dapat dianggap sastra konvensional, sastra yang mereka ciptakan kemudian dianggap sastra inkonvensional.
Berikut beberapa aliran dalam karya sastra.

1. Aliran Realisme

Realisme adalah aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya (real). Aliran ini berusaha menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif.

Analoginya, seperti cermin yang memantulkan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga pembaca seolah-olah melihat kenyataan tersebut secara kasat mata. Aliran realisme muncul pada abad ke-18, tetapi berkembang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kaum realis ini menetang romantisme yang dianggap cengeng dan berlebih-lebihan. Seniman yang dianggap sebagai tokoh realisme adalah Gustave Flaubert (1821-1889) dari Prancis.

2. Aliran Impresionisme

Impresionisme berarti pelahiran kembali kesan-kesan yang dirasakan oleh pengarang terhadap sesuatu yang dilihat atau dirasakannya. Menurut Suparman Natawidjaja, impresionisme adalah rentangan alur cerita atau persajakan berdasarkan kesan benda yang dilihat, kemudian diolah dalam sukma dan keluar dalam bentuk baru yang mengandung arti konotatif dan benda yang dilihat tadi.

3. Aliran Naturalisme

Naturalisme adalah aliran yang cenderung melukiskan kenyataan-kenyataan yang buruk, kejelekan-kejelekan atau kekurangan-kekurangan tentang keadaan masyarakat atau sifat manusia.

Tokoh-tokoh naturalisme mengungkapkan aspek-aspek alam semesta yang bersifat fatalistis dan mekanis. H.B. Jassin mengatakan bahwa naturalisme berdasarkan filsafat materialisme adalah pikiran bahwa apa yang bisa diraba dengan pancaindera itulah kebenaran.

Aliran naturalisme berkembang pada akhir abad ke-19. Orang yang pertama kali memperkenalkan aliran ini adalah Honore de Balzac lewat novelnya yang berjudul La Comedie Humaine dan Le Pere.

4. Aliran Ekspresionisme

Ekspresionisme dikembangkan oleh Gustave Flaubert, seorang pengarang Prancis. Aliran ekspresionisme merupakan aliran yang lebih mengungkapkan perasaan dan gejolak jiwa pengarangnya. Kaum ekspresionis ingin mengekspresikan inti dari kenyataan yang terlihat.

Pengaruh aliran ini sangat besar pada awal abad ke-20. Tokoh-tokoh terpenting dari aliran ini adalah Franz Kafka, Ernest Toller, George Kaisar, dan Fritz von Unruth.

5. Aliran Romantisme

Romantisme adalah aliran dalam karya sastra yang mengutamakan perasaan. Romantisme ini timbul sebagai reaksi terhadap rasionalisme yang menganggap segala rahasia alam bisa diselidiki dan diterangkan oleh akal manusia.

Romantisme dianggap sebagai aliran yang lebih mementingkan penggunaan bahasa yang indah, mengawang ke alam mimpi. Pengalaman romantisme adalah pengalaman yang hanya terjadi dalam angan-angan, seperti lamunan muda-mudi dengan kekasihnya.

Namun, ketika romantisme diolah dengan pengalaman yang dewasa dapat melahirkan karya agung seperti Romeo dan Yuliet karya William Shakespeare, Les Miserables karya Victor Hugo.

Beberapa karya sastrawan Indonesia yang dapat dikategorikan beraliran romantisme di antaranya Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Hilanglah si Anak Hilang karya Nasjah Djamin, dan Dewi Rimba karya Nur Sutan Iskandar.

6. Aliran Simbolisme

Simbolisme adalah aliran sastra yang menekankan pada simbol atau lambang dalam karya sastra mereka, terutama puisi. Aliran ini muncul pada akhir abad ke-19 sebagai reaksi terhadap realisme yang dianggap berlebih-lebihan. Tokoh aliran ini antara lain Charles Baudelaire, Stephane Mallarme, Paul Verlaine, dan Arthur Rimbaud.

Dasar pemikiran simbolisme adalah dunia objektif yang fana ini bukanlah kenyataan sejati, melainkan hanya banyangan dari kebenaran yang tak kelihatan. Kaum simbolis yakin bahwa kebenaran abadi hanya dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dilukiskan.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: