RSS

Bunga Rampai Karya Sastra Angkatan 20

23 Feb

Pada paruh pertama abad ke-20, Hindia Belanda mengalami perubahan politik yang cukup ekstrem, ditandai dengan pergeresan bentuk perjuangan kemerdekaan yang mulai meninggalkan bentuk-bentuk revolusi fisik. Perjuangan bangsa bergerak ke bentuk perjuangan intelektual.

Perjuangan tersebut didukung dengan semakin banyaknya rakyat pribumi yang mengenyam pendidikan, bebas buta huruf, dan membuka mata terhadap pergaulan dunia. Perkembangan sastra pada dekade ini tampak mengalami kemajuan pesat, meninggalkan genre sastra lama yang didominasi pantun dan gurindam, cenderung istana sentris dan patriarkhi.

Seiring dengan perkembangan tersebut, tak bisa dihindari bahwa ruang baru kesusastraan menyisakan lorong hitam-gelap tempat menjamurnya karya-karya tulis yang rendah nilai estetika. Karya-karya tersebut, misalnya, adalah tulisan-tulisan cabul, pornografi, dan tulisan yang dinilai memiliki misi politis.

Angkatan 20 berawal dari sebuah lembaga kebudayaan milik pemerintah kolonial Belanda, bernama Volkslectuur, atau Balai Pustaka. Kelahirannya menjadi gairah baru bagi para sastrawan yang kemudian membentuk periode sastra tersendiri dalam perkembangan sastra Indonesia, dengan ciri yang khas, dan disebut Angkatan 20 atau Angkatan Balai Pustaka.

Pada era ini, banyak prosa dalam bentuk roman, novel, cerita pendek dan drama, yang diterbitkan dan menggeser kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat. Karya-karya tersebut diterbitkan dalam bahasa Melayu-Tinggi, Jawa dan Sunda, serta sejumlah kecil dalam bahasa Bali, Batak, dan Madura.

Sastrawan yang menonjol karya-karyanya dari angkatan ini adalah Nur Sutan Iskandar, sehingga mendapat julukan “Raja Angkatan Balai Pustaka.” Di samping itu, dominasi sastrawan yang berasal dari Minangkabau dan sebagian Sumatra memberi ciri yang unik pada karya sastra Angkatan 20.

Bunga Rampai Karya Sastra Angkatan 20

Berikut ini adalah beberapa karya Angkatan 20 berikut penulisnya, disusun berdasarkan tahun terbit:

* Azab dan Sengsara (Merari Siregar, 1920)
* Siti Nurbaya (Marah Roesli, 1922)
* Tanah Air (Muhammad Yamin, 1922)
* Tak Disangka (Tulis Sutan Sati, 1923)
* La Hami (Marah Roesli, 1924)
* Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (Nur Sutan Iskandar, 1923)
* Cinta yang Membawa Maut (Nur Sutan Iskandar, 1926)
* Darah Muda (Djamaluddin Adinegoro, 1927)
* Pertemuan (Abas Soetan Pamoentjak 1927)
* Salah Asuhan (Abdul Muis, 1928)
* Asmara Jaya (Djamaluddin Adinegoro, 1928)
* Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati, 1928)
* Indonesia, Tumpah Darahku (Muhammad Yamin, 1928)
* Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar, 1928)
* Binasa Kerna Gadis Priangan (Merari Siregar, 1931)
* Karena Mertua (Nur Sutan Iskandar, 1932)
* Tak Tahu Membalas Guna (Tulis Sutan Sati, 1932)
* Memutuskan Pertalian (Tulis Sutan Sati, 1932)
* Menebus Dosa (Aman Datuk Madjoindo, 1932)
* Tuba Dibalas dengan Susu (Nur Sutan Iskandar, 1933)
* Pertemuan Jodoh (Abdul Muis, 1933)
* Si Cebol Rindukan Bulan (Aman Datuk Madjoindo, 1934)
* Ken Arok dan Ken Dedes (Muhammad Yamin, 1934)
* Katak Hendak Menjadi Lembu (Nur Sutan Iskandar, 1935)
* Sampaikan Salamku Kepadanya (Aman Datuk Madjoindo, 1935)

Dan masih banyak lagi karya lainnya. Di antara karya tersebut, agaknya Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat menempati ruang tersendiri bagi kalangan pecinta sastra hingga saat sekarang. Kedua novel roman tersebut sempat diangkat ke layar televisi.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: