RSS

Gadis Kota Jerash, Habiburrahman El Shirazy, dkk

08 Dec

Judul       : Gadis Kota Jerash
Penulis   : Habiburrahman El Shirazy, dkk
Penerbit : Lingkar Pena Kreativa

Narasi Tepi Gaza
Puisi Lian Kagura
matamu yang menceritakan kepadaku
tentang mimpimimpi yang menjadi batu
dan darahdarah yang membeku,
matamu juga yang menceritakan padaku
tentang bombom yang jatuh di tempat tidurmu
dan melantakkan seluruh anak gadismu
lalu langit berkabut debu dan waktu adalah loncatan peluru
maka di setiap helaan nafas serta edaran darahmu adalah
terikan bocah: yang memungut potongan kakinya sendiri
tangis ribuan ibu di bawah puingpuing beton pinggir jalan itu
di negeri ini kami tahu apa yang berharga
pada tiap jengkal tanahmu
maka putih hujan dan merah darah kami bergejolak
serupa gelombang yang memberat menit demi menit
dan ketika malam datang kami kirimkan pelurupeluru
kami yang tak terlihat, supaya mereka tahu
bahwa kisah yang sedang mereka tulis
telah kami jadikan laknat sebelum akhirnya
tumbuh pada setiap puisi
                                                                     ***
Puisi pilu di atas terletak pada halaman pertama buku persembahan untuk Palestina ini. Ada delapan belas cerita yang merajut kesatuan buku ini. Pilu, tragedi, perjuangan yang diikat dengan pohon cinta dan sabar adalah kata-kata pengikat buku ini. Bagiku, cerita pertama yang dijadikan judul buku ini, Gadis Kota Jerash, yang ditulis oleh Sinta Yudisia adalah cerita dengan pemaknaan yang indah. Tentang gejolak seorang gadis muda berdarah Palestina untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penari di festival Juli kota Jerash. Sebuah mimpi yang tentu mendapatkan pertentangan dari keluarga angkatnya; bahwa tidak layak seorang gadis berdarah Palestina menjadi penari di kota itu. Ada mimpi yang lebih tinggi. Pergolakan ini dimenangkan oleh sisi baik dari segumpal darah yang berdiam di dalam setiap tubuh manusia.
Membaca buku ini tidak hanya membaca sebuah buku kumpulan cerita pendek. Pada setiap awal cerpen diletakkan kutipan beberapa media  dan tokoh-tokoh dunia tentang pergolakan yang belum menemukan akhir di bumi para nabi itu. Ini yang menjadikan buku ini berbeda. Palestina memang bukan hanya milik umat muslim. Simpati dunia juga telah menumbuhkan akar yang kuat pada Palestina untuk terus berjuang, mesti memang kemarjinalan itu masih sangat mendominasi.
Tapi, perjuangan harus tetap berlanjut. Meski doa hanya yang hanya bisa kita haturkan untuk perjuangan Palestina.
Bagiku, mengeja nama Palestina seperti mengulang memori tiga tahun yang lalu, pada sebuah untaian kata “Save Our Palestine” pada sebuah biodata seorang laki-laki yang kujumpai pertama kali di sebuah pelatihan kantor di Cibinong. Allah adalah Sang Sutradara Agung. Satu hari setelah selesai pelatihan itu, sang laki-laki mengajukan lamaran kepadaku. Enam bulan kemudian Allah menjadikan kami sepasang suami istri. Alhamdulillah.
Maka, berbicara tentang Palestina, begitu banyak kenangan yang telah terukir, di antara canda, tangis dan tawa dua setengah tahun mahligai pernikahan kami. Untuk Palestina, kuajak kawan-kawan sekalian untuk berbuat mesti itu hanya melalui seuntai doa untuk keadilan dari dunia bagi Palestina karena kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada keadilan. Begitu ucap seorang dokter Ang Swee Chai, penulis buku From Beirut tu Palestina di halaman 69 buku ini.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2011 in Resensi Buku

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: