RSS

OBJEK LINGUISTIK:BAHASA

06 Oct



 

Setiap kegiatan yang bersifat ilmiah tentu mempunyai objek. Begitu juga dengan linguistic, yang mengambil bahasa sebagai objeknya. Kerena ada pula disiplin lain yang memjadikan bahasa sebagai objek “sampingan”nya, maka ada baiknya kita bicarakan dulu,apakah bahasa itu, agar bias dipahami bagaimana pendekatan linguistik terhadap objeknya, dan bagaimana bedanya dengan disiplin lain terhadap bahasa itu.
1 . PENGERTIAN BAHASA
Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian, sehingga sering kali membingingkan. Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan pemakaian kata bahasa dalam kalimat-kalimat berikut!
  1. Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang.
  2. Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.
  3. Hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa itu.

Kata bahasa pada kalimat (1) jelas menunjuk pada bahasa tertentu.Jadi menurut peristilahan de Saussure seperti yang sudah dibicarakan pada bab 2 ada sebuah langue. Pada kalimat (2) kata bahasa menunjuk bahasa pada umumnya; jadi, suatu langage. Pada kalimat (3) bahasa berarti ‘sopan santun’.
Sebagai objek kajian linguistik, parole merupakan objek konkret karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan oleh para bangsawan dari suatu masyarakat bahasa. Langue merupakan objek yang abstrak karena langue itu berwujud system suatu bahasa tertentu secara keseluruhan; sedangkan langage merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud system bahasa secara universal. Yang dikaji linguistik secara langsung itu adalah parole, karena parole itulah yang berwujud konkret, yang nyata, yang dapat diamati, atau diobservasi.
2 . HAKIKAT BAHASA
Ada beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Sifat atau cirri itu antara lain, adalah (1) bahasa itu adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersufat konvesional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat berinteraksi social, ada (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya. Dibawah ini ciri atau sifat bahasa akan dibicarakan satu per satu secara singkat.
2.1 Bahasa Sebagai Sistem
Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari hari dengan makna ‘cara’ atau ‘aturan’ . Bahasa terdiri dari unsure-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu, dan membentuk suatu kesatuan. Adapun bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem atau sistem bawahan. Di sini dapat disebutkan, antara lain, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem semantik.
Jenjang subsistem ini dalam linguistik di kenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa. Jika di urutkan dari tataran yang paling randah sampai tataran yang tertinggi, dalam hal ini yang menyangkut ketiga subsistem structural di atas adalah tataran fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana.
Kajian linguistik di bagi dalam beberapa tataran, yaitu tataran fonologi, tataran, morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik dan tataran leksikon. Tataran morfologi sering digabung dengan tataran sintaksis yang disebut, tataran gramatika, atau tata bahasa. Adapula tataran pragmatik, yaitukajian yang mempelajari penggunaan bahasa dengan berbagai aspeknya, sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia.
2.2 Bahasa Sebagai Lambang
Kata lambang sudah sering kita dengar dalam percakapan kita sehari-hari. Contohnya bendera kita Sang Merah Putih sering dikatakan warna merah adalah lambang keberanian dan warna putih adalah lambang kesucian. Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam ilmu semiotika atau semiologi (yang di Amerika ditokohi oleh Charles Sanders Peirce dan di Eropa oleh Ferdinand de Saussure)dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu, antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom). Lambang bersifat arbitrer, sebaliknya, tanda tidak bersifat arbitrer. Arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Oleh karena itu, Earns Cassirer, seorang sarjana dan filosof mengatakan bahwa manusia adalah makhluk bersimbol(animal symbolicum).
Sinyal atau Isyarat adalah tanda yang disengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu. Jadi sinyal bisa dikatakan bersifat impertif dan lambang bersifat konvensi. Gerakan isyarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan, dan tidak bersifat imperatif seperti pada sinyal. Gejala atau symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihaliskan tanpa maksud, tetapi alamiah untuk menunjukan atau mengungkapkan bahwa sesuatu akan terjadi. Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya sesuatu yang lain, seprti asap yang menunjukan adanya api.
2.3 Bahasa Adalah Bunyi
Dari dua pasal diatas telah disebutkan bahwa bahasa adalah sistem dan bahasa adalah lambang, dan kini bahasa adalah bunyi. Maka keseluruhan bahasa dapat dikatakan, bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi. Jadi, sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi.
Kata bunyi, yang sering sukar dibedakan dengan kata suara, sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Secara teknis, menuruk kridalaksana (1983:27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa. Hakikat bahasa adalah bunyi, atau bahasa lisan, dapat kita saksikan sampai kini banyak sekali bahasa di dunia ini, termasuk Indonesia, yang hanya punya bahasa lisan, tidak punya bahasa tulisan, karena bahasa-bahasa tersebut tidak atau belum mengenal sistem aksara.
2.4 Bahasa Itu Bermakna
Dari pasal-pasal terdahulu sudah dibicarakan bahwa bahasa itu adalah sistem lambang yang berwujud buniy. Sebagai lambang tentu ada yang dilambangkan. Maka, yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, suatu konsep, ide, atau pemikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna.
Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Makna yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal, yang berkenaan dengan frase, kluasa, dan kalimat disebut makna gramatikal, dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik, atau makna konteks.

 
2.5 Bahasa Itu Arbitrer
Kata arbitrer bias diartikan ‘sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.
2.6 Bahasa Itu Konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Jadi, kalu kearbitreran bahasa terletak pada hubungan antara lambang-lambang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka konvensional bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya.
2.7 Bahasa Itu Produktif
Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “banyak hasilnya”, atau lebih tepat “terus-menerus menghasilkan”.
2.8 Bahasa Itu Unik
Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Lalu, kalau bahasa dikatakan bersifat unik, maka artinya, setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bias menyangkut sistem bunyi,sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis.
2.9 Bahasa Itu Universal
Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri universal tentunya merupakan unsure bahasa yang paling umum, yang bias dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain. Karena bahasa itu berupa ujaran, maka cirri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vocal dan konsonan.

 

 
2.10 Bahasa Itu Dinamis
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhlik yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai dengan bahasa.
Karena keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakatkegiatan manusia itu tidk tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah, bahasa disebut dinamis.
2.11 Bahasa Itu Bervariasi
Mengenai variasi bahasa ada tiga istikah yang peril diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang tentu mempunyai ciri khas bahasanya masing-masing. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Ragam adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang baku dan untuk situasi tidak formal digunakan ragam bahasa tidak baku.
2.12 Bahasa Itu Manusiawi
Manusia sering disebut sebagai homo sapien ‘manusia berpikir’, homo sosio ‘makhluk yang bermasyarakat’, homo faber ‘makhluk pencipta alat-alat’, dan juga animal rationale ‘makhluk rasional yang berakal budi’. Maka dengan segala macam kelebihannya jelas manusia dapat memikirkan apa saja yang lalu, yang kini, dan yang akan dating, serta menyampaikannya kepada orang lain melalui alat komunikasinya, yaitu bahasa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

 
3. BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA
Objek kajian linguistik mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor diluar bahasa.
Pada pembahasan sebelunya telah dibicarakan bahasa sebagai bahasa, yaitu yang menjadi objek kajian linguistik mikro, dengan cara melihat ciri-ciri yang merupakan hal yang hakiki dari bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, hal-hal yang menjadi objek kajian linguistik makro itu sangat luas dan beragam.
3.1 Masyarakat Bahasa
Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah yang relative banyak), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama. Masyarakat bahasa adalah sekolompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.
3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa bahasa itu bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasaan itu sangat beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam. Berdasarkan penuturannya kita mengenal adanya dialek-dialek diseluruh wilayah.
3.3 Penggunaan Bahasa
Hymes (1974) seorang pakar sosiolingustik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yakni :
  1. Setting and scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.
  2. Participants, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan.
  3. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan.
  4. Act Sequences, yaitu hal yang menunjukan pada bentuk dan isi percakapan.
  5. Key, yaitu yang menunjukan pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.
  6. Instrumentalities, yaitu yang menunjukan pada jalur percakapan.
  7. Norms, yaitu yang menunjukan pada norma perilaku peserta percakapan.
  8. Genres, yaitu yang menunjukan pada katagori atau ragam bahasa yang digunakan.
3.4 Kontak Bahasa
Dalam masyarakat yang terbuka, artinya para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah yang disebut kontak bahasa.
Hal yang sangat menonjol yang bias terjadi dari adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya yang disebut bilingualism dan multilingualisme dengan berbagai macan kasusnya. Seperti interferensi, inegrasi, alihkode, dan campur kode.
Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut monolingual, unilingual, atau monoglot. Yang menguasai dua bahasa disebut bilingual, sedangkan yang menguasai lebih dari dua bahasa disebut multilingual, plurilingual, atau poliglot.

 
3.5 Bahasa dan Budaya
Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan ini. Hipotesis ini di keluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (dan oleh kerena itu disebut hipotesis Sapir-Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan.
4. KLASIFIKASI BAHASA
Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bangsa. Bahasa yang mempunyai kesamaan ciri dimasukan dalam suatu kelompok. Dalam hal ini tentunya disamping kelompok, akan ada subkelompok, atau sub-subkelompok yang lebih kecil. Anggota dalam kelompok tentu lebih banyak dari pada anggota dalam subkelompok, begitu juga anggota dalam subkelompok tentu lebih banyak dari pada anggota dalam sub-subkelompok.
Pendekatan yang membuat klasifikasi tidak hanya satu, tetapi ada empat macam, yaitu (1) pendekatan genetis, (2) pendekatan tipologis, (3) pendekatan areal, dan (4) pendekatan sosiolinguistik.
Pendekatan genetis hanya melihat garis keturunan bahasa itu, hasilnya disebut klasifikasi genetis atau geneologis. Pendekatan tipologis menggunakan kesamaan-samaan tipologi, entah fonologi, morfologi, maupun sintaksis untuk membuat klasifikasi. Hasilnya disebut klasifikasi tipologis. Pendekatan areal menggunakan pengaruh timbale balik antara suatu bahasa dengan bahasa yang lain untuk membuat klasifikasi. Hasilnya disebut klasifikasi areal. Sedangkan pendekatan sosiolinguistik membuat klasifikasi berdasarkan hubungan bahasa itu dengan keadaan masyarakat. Hasilnya disebut klasifikasi sosiolinguistik.
4.1 Klasifikasi Genetis
Klasifikasi genetis, disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa proto (bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih.
Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan criteria bunyi dan arti. Klasifikasi genetis ini menunjukan bahwa perkembangan bahasa-bahasa didunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak, tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih.

 

 
4.2 Klasifikasi Tipologis
Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa.
Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok. Yaitu:
  • Kelompok pertama, adalah yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi.
  • Kelompok kedua, adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.
  • Kelompok tiga, adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.
4.3 Klasifikasi Areal
Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal-balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak.
Klasifikasi ini bersifat artitrer karena dalam kontak sejarah bahasa-bahasa itu memberikan pengaruh timbal-balik dalam hal-hal tertentu yang terbatas. Klasifikasi ini pun bersifat nonekshaustik, sebab masih banyak bahasa-bahasa didunina ini yang masih bersifat tertutup, dalam arti belum menerina unsur-unsur luar. Jadi, bahasa yang seperti ini belim dapat dikelompokan atau belum dapat masuk kedalam salah satu kelompok.
4.4 Klasifikasi Sosiolinguistik
Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan factor-faktor yang berlaku dalam masyrakat, tepatnya, berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat cirri atau criteria, yaitu historisitas, standardisasi, vitalitas, dan homogenesitas. Hostorisitas berkenaan dengan sejarah perkembanagn bahasa atau sejarah pemakaian bahasa itu. Standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku, atau statusnya dalam pemakaian formal dan tidak formal. Vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktif, atau tidak. Sedangkan homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.
5. BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA
Dalam bagian terdahulu sudah disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem bunyi. Jadi, bahasa itu adalah apa yang dilisankan. Juga sudah disebutkan bahwa linguistik melihat bahasa itu adalah bahasa lisan, bahasa yang diucapkan, bukan yang dituliskan. Maka, bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder. Meskipun bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis sekunder, tetapi peranan bahasa tulis di dalam kehidupan modern sangat besar sekali. Pada zaman modern pictogram ini masih banyak digunakan orang sebagai alat konimikasi.

Aksara adalah sebuah sistem penulisan suatu bahasa dengan menggunakan tanda-tanda simbol. Istilah lain untuk menyebut aksara adalah huruf atau abjad (bahasa Arab) yang dimengerti sebagai lambang bunyi (fonem). Dalam kehidupan manusia aksara ternyata tidak hanya dipakai untuk keperluan menusil dan membaca, tetapi juga telah berkembang menjadi suatu karya seni yang disebut kaligrafi, sebgai seni menulis indah. Banyak orang yan cukup kreatif dengan menciptakan kata-kata yang ditulis dengan indah serta ada juga yang menggabungkan dua aksara untuk meninbulkan efek tertentu. mIsalnya ucapan “Minal aidin Wal Faizin” yang ditulis dengan aksara Latin tetapi bergaya aksara Arab.
Ada beberapa jenis aksara, yaitu akasara piktografis, aksara ideografis, aksara silabis, aksara fonemis. Alat pelengkap aksara yang ada untuk menggambarkan unsur-unsur bahasa lisan hanyalah huruf besar untuk memulai kalimat, koma untuk menantai jeda, titk untuk menandai akhir kalimat, tanda Tanya untuk menanyakan interogasi, tanda seru untuk menanyakan interjeksi. Dan tanda hubung untuk menyatan perpenggabungan. Bahasa-bahasa di dunia lebih umum menggunakan bahasa aksara Latin dari pada aksara lain.

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: