RSS

Dasar Teori Pendidikan

28 Mar

Dasar Teori Pendidikan
1. Behaviorisme
2. Kognitivisme
3. Konstruktivisme
4. Humanistik
1. Behaviorisme
• Aliran Behaviorisme didasarkan pada perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Oleh karena itu aliran ini berusahamencoba menerangkan dalam pembelajaran bagaimankah lingkungan berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku.
• Dalam aliran ini tingkah laku dalam belajar akan berubah kalau ada stimulus dan respon. Stimulus dapat berupa perilaku yang diberikan pada siswa, sedangkan respons berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa.
• Berdasarkan Teori Behaviorisme Pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan.
• Tokoh aliran Behaviorisme antara lain : Pavlov, Watson, Skinner, Hull, Guthrie, dan Thorndike
2. Kognitivisme
• Kerangka kerja atau dasar pemikiran dari teori pendidikan kognitivisme adalah dasarnya rasional.

• Teori ini memiliki asumsi filosofis yaitu the way in which we learn ( Pengetahuan seseorang diperoleh berdasarkan pemikiran ) inilah yang disebut dengan filosofi Rationalisme.
• Menurut aliran ini, kita belajar disebabkan oleh kemampuan kita dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam lingkungan.
• Teori Kognitivisme berusaha menjelaskan dalam belajar bagaimanah orang-orang berpikir. Oleh karena itu dalam aliran kognitivisme lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri.
• Menurut teori ini bahwa belajar melibatkan proses berpikir yang kompleks.
• Jadi menurut teori kognitivisme pendidikan dihasilkan dari proses berpikir
• Tokoh aliran Kognitivisme antara lain : Piaget, Bruner, dan Ausebel.
3. Konstruktivisme
• Menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri.
• Konsep pembelajaran menurut teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data.
• Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna.
• Jadi dalam pandangan konstruktivisme sangat penting peranan siswa.
• Agar siswa memiliki kebiasaan berpikir maka dibutuhkan kebebasan dan sikap belajar.
• Menurut teori ini juga perlu disadari bahwa siswa adalah subjek utama dalam penemuan pengetahuan. Mereka menyusun dan membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan.
• Mereka harus menjalani sendiri berbagai pengalaman yang pada akhirnya memberikan pemikiran tentang pengetahuan-pengetahuan tertentu.
• Hal terpenting dalam pembelajaran adalah siswa perlu menguasai bagaimana caranya belajar. Dengan itu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dan menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ia butuhkan dalam kehidupan.
• Tokoh aliran ini antara lain : Von Glasersfeld, dan Vico
4. Humanistik
• Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia.
• Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila sipembelajar telah memahami lingkungan nya dan dirinya sendiri.
• Dengan kata lain sipembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya
• Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
• Menurut aliran Humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini.
• Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang menjadi lebih baik dan belajar.
• Secara singkat pendekatan humanistikdalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif.
• Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut.
• Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk mengembangkan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat.
• Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik
• Dalam teori humanistik belajar dianggap berhasil apabila pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
• Teori belajar ini berusaha memahami prilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dari sudut pandang pengamatnya.
• Tokoh -tokoh humanistik ini antara lain : Arthur W.Combs, Abraham Maslow,dan Carl Roger
FILSAFAT PENDIDIKAN
PERTEMUAN 2
Pendekatan-Pendekatan dalam Teori Pendidikan
• Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu:
(1) pendidikan sebagai praktik dan
(2) pendidikan sebagai teori.
• Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain, yaitu peserta didik agar memperoleh perubahan perilaku.
• Pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas.
• Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
 Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan.
 Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan.
 Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan
• Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya:
(1) pendekatan sains;
(2) pendekatan filosofi; dan
(3) pendekatan religi.
1. Pendekatan Sains
• Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya.
• Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.
• Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu pendidikan, dengan berbagai cabangnya, seperti:
(1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan;
(2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar;
(3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien;
(4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien;
(5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa;
(6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi
2. Pendekatan Filosofi
• Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat.
• Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman.
• Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains.
• Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
• Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model:
(1) model filsafat spekulatif;
(2) model filsafat preskriptif;
(3) model filsafat analitik.
• Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman
• Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.
• Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir
Aliran dalam Filsafat
1) Idealisme,
2) Materialisme,
3) Realisme, dan
4) Pragmatisme
• Aplikasi aliran-aliran filsafat tersebut dalam pendidikan kemudian menghasilkan filsafat pendidikan, yang selaras dengan aliran-aliran filsafat tersebut.
• Filsafat pendidikan akan berusaha memahami pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkannya dengan konsep-konsep umum, yang akan membimbing kita dalam merumuskan tujuan dan kebijakan pendidikan
• Dari kajian tentang filsafat pendidikan selanjutnya dihasilkan berbagai teori pendidikan, diantaranya:
(1) Perenialisme;
(2) Esensialisme;
(3) Progresivisme; dan
(4) Rekonstruktivisme.
Perenialisme
 Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari.
 Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu.
 Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
Esensialisme
• Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna.
• Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat.
• Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
Eksistensialisme
• Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna.
• Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.
• Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?
Progresivisme
• Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses.
• Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
Rekonstruksivisme
• Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan.
• Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.
• Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu?
• Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
3. Pendekatan Religi
• Pendekatan religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama.
• Di dalamnya berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan.
• Cara kerja pendekatan religi berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat dimana cara kerjanya bertumpukan sepenuhnya kepada akal atau rasio, dalam pendekatan religi, titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan).
• Pendekatan religi menuntut orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru kemudian mengerti, bukan sebaliknya.
• Terkait dengan teori pendidikan Islam, Ahmad Tafsir (1992) dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.
• Ahmad Tafsir (1992) merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu muslim yang sempurna dengan ciri-ciri :
(1) memiliki jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan;
(2) memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu menyelesaikan secara cepat dan tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan filosofis; memiliki dan mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan filsafat dan
(3) memiliki hati yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati yang berkemampuan dengan alam gaib.
• Dalam teori pendidikan Islam, dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan substansi pendidikan lainnya, seperti tentang sosok guru yang islami, proses pembelajaran dan penilaian yang islami, dan sebagainya
• Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja.
• Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.
• Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.
Sumber Rujukan
• Ahmad Tafsir. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. Bandung: Rosda Karya
• Ali Saifullah.HA. 1983. Antara Filsafat dan Pendidikan: Pengantar Filsafat Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
• Hasan Langgulung. 1986. Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al-Husna
• Ismaun. 2001. Filsafat Ilmu I. (Diktat Kuliah). Bandung: UPI Bandung
• Uyoh Sadulloh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek

FILSAFAT PENDIDIKAN
“pengertian filsafat”
PERTEMUAN 3
1. Masalah Filsafat
• Masalah yang dihadapi dalam pemahaman filsafat yaitu:
(a) para pemikir filsafat berbeda pengertian tentang filsafat (tidak ada kata sepakat dengan satu pengertian filsafat), padahal sasaran filsafat pada umumnya tetap (tidak berubah¬-ubah), tidak seperti perkembangan ilmu,
(b) terjadi proses diferensiasi fungsional di satu pihak dan proses saling menjauhkan diri dengan tidak saling berkomunikasi antar aliran di lain pihak,
(c) bagaimanapun filsafat tidak secara langsung mempersembahkan program kebijaksanaan yang manfaatnya dinikmati konkrit/langsung, akan tetapi filsafat mempunyai kekuatan radikal dengan spekulasi ilmiah yang universal,
(d) filsafat berupaya pursuit of meaning sedangkan ilmu berupaya pursuit of truth (facts).
2. Pertanyaan Fundamental
• Mulanya sifat manusia merasa puas hanya dengan segala yang teramati saja.
• Namun, mengamati terjadinya peristiwa yang dialami sering mengundang munculnya permasalahan baru. Seiring dengan masalah baru sebagai akibat dari peristiwa yang muncul tersebut, maka manusia mencari jawaban atas masalah tersebut. Bila tidak, maka eksistensinya terancam.
• Bentuk jawaban tersebut pernah berupa mitos. Pencarian jawaban manusia pun terus berkembang, selain bergantung pada mitos, tumbuh pula olah pikir yang kemudian disebut filsafat.
• Oleh karena itu, Filsafat secara umum diakui sebagai wahana yang mengawali titik tolak pembicaraan/pembahasan mengenai segala sesuatu yang ada di dunia (alam semesta) ini.
• Manusia dan masyarakat selalu ingin mengembangkan diri. Salah satu wahana mengembangkan diri dengan mencari jawaban atas pertanyaan. Manusia merupakan makhluk yang selalu bertanya-tanya. Manusia dalam sepanjang masa selalu bertanya tentang segala sesuatu. Akademisi bertanya dimana tempat spatial ilmu (yang ditekuninya) di antara ilmu-ilmu yang lain? Bagaimana posisi penemuan atom dalam rangka pengembangan perikemanusiaan? Aliran filsafat manakah yang mungkin muncul sebagai tanggapan atas perubahan masyarakat yang dipengaruhi perkembangan ilmu, teknologi dan industri? Khusus bagi spatial ilmu pendidikan pun timbul pertanyaan tentang manusia dan anak manusia, bila pendidikan adalah membawa anak menuju dewasa, maka siapakah anak itu sebenarnya? Dapatkah anak itu dibawa? Dibawa ke mana anak itu? Bagaimana caranya membawa anak yang sebaik-¬baiknya? Untuk apa sekolah didirikan? Apakah yang seharusnya dilakukan untuk menuntun anak mewujudkan tujuan/cita-cita? Dari mana asal manusia dan akan ke mana perginya?
Filsafat mengajukan pertanyaan terhadap realita. Hakekat filsafat merupakan jawaban dari pertanyaan yang muncul di lapangan kehidupan. Mengapa manusia bertanya-tanya? Jawabannya yaitu :
• Ia mempunyai kepentingan untuk mengetahui pedoman/arah bagi kehidupannya. Ia khawatir terombang-ambingkan berbagai kejadian yang dialami, sehingga ia menjadi bingung dan cemas dalam hidupnya.
• Ia ingin memperluas cakrawala/horison pandangan. Ia ingin memahami kehidupan dalam rangka mengatur hidup dengan arah yang disadarinya sendiri atau tanpa intervensi orang lain.
• Ia berusaha untuk memperoleh pandangan/konsepsi tentang segala sesuatu yang ada dan makna dari segala sesuatu yang ada itu.
• Ia berspekulasi mencari dan menemukan jawaban mefafisis yang hakiki untuk menanggulangi masalah dilematis yang dihadapinya.
• Ia menghadapi masalah dilematis antara hak individu yang berbeda mengenai pandangan hidupnya dengan hak bekerjasama dengan orang lain walaupun secara pandangan hidup individu berbeda
• Permasalahan dilematis yang tak berujung mengakibatkan perselisihan paham.
• Penanggulangan perselisihan dengan memperluas cakrawala pandangan, agar masing-masing dapat menempatkan diri dalam pandangan orang lain. Ia mengarifi dan bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan. Dengan toleransi, maka segala fanatisme (negatif) dapat dijauhi.
• Fanatisme diakibatkan kurangnya horison pandangan yang luas.
• Usaha menjauhkan fanatisme dan menyelesaikan perselisihan dapat dengan cara menciptakan dasar koherensi pemikiran yang logis. Hal ini disebut juga kebenaran atau kebijaksanaan.
• Kebenaran merupakan suatu koherensi pemikiran atas dasar logika.
• Sifat logika yaitu kejujuran dalam mencari kebenaran. Inilah sebenarnya hakekat dari filsafat itu.
• Manusia menjelajahi jawaban atas pertanyaan sendiri dalam rangka mencari dan menemukan kebenaran yang berguna bagi pedoman hidup yang tetap.
• Manusia menyadari betapa kompleksitasnya kehidupan dan karena itu betapa penting pedoman hidup.
• Manusia yang tidak menyadari pentingnya pedoman hidup, ia nampak cemas dan gelisah. Sehubungan dengan itu, betapa penting peduli pada filsafat.
3. Berpikir Radikal
• Pada jaman dahulu, filsafat dijadikan wahana yang permulaan ada untuk pemikiran. Karena itu, filsafat sebagai dasar/landasan/fundamen pemikiran tentang segala sesuatu yang menyangkut lapangan kehidupan manusia.
• Jadi, filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Selain itu, filsafat berarti juga:
(a) berpikir radikal/kritis (lawan dari apatis/skeptis),
(b) renungan tentang akar kenyataan,
(c) induk dari ilmu-ilmu (the mother of sciences/science of sciences),
(d) ideologi dan pandangan/sikap hidup (welt-anschauung),
(e) asumsi dasar (basic assumption) ilmu yang paling dasar/dalam,
(f) renungan dan penghayatan mengenai kebijaksanaan, dan
(g) berpikir secara menyeluruh/komprehensif.
Filsafat merupakan proses berpikir, merenung dan menghayati mengenai segala sesuatu yang ada.
• Khusus pada ajaran agama Islam terdapat perintah pada umatnya untuk berpikir dan berakal bagaimana diterakan pada istilah ya’kiluun, ya’lamuun, ya’tapakaruun dan lain-lain. Istilah tersebut banyak sekali, (kiranya lebih dari 200 ayat) tersurat dalam Al-Qur’an.
• Artinya, bahwa amaliyah orang Islam/muslim harus didasari paduan antara akal, pikiran dan ilmu.
• Memang setiap manusia adalah animal rational atau homo sapiens.
• Namun bedanya, berpikir ala filsafat merupakan berpikir yang (paling) radikal (mengkritisi/keakar-akarnya), spekulatif dan komprehensif. Berfikir yang mengungkap tentang esensi sesuatu yang dibahas. Berpikir filsafat merupakan seni atau seni berpikir (the art of thinking).
• Pada umumnya berpikir itu tentang fakta dan/atau ide (gagasan), sedang filsafat memikirkan tentang akar atau esensi/hakekat yang ada di “bawah” fakta dan ide (gagasan) tersebut. Manusia mulai berfilsafat bila ia berpikir dengan teliti dan teratur untuk memecahkan masalah umum/komprehensif hingga menemukan esensi yang dipikirkannya.
• Jadi, berfilsafat ialah berpikir dengan kesadaran yang (sangat) tinggi, sehingga tidak semua orang yang berpikir dapat dikatakan sedang berfilsafat atau filsuf (ahli filsafat). Orang kebanyakan (awam) menggunakan pikirannya untuk menjaga kelangsungan (survival) kehidupannya atau berpikir untuk membuktikan hipotesis.
• Hal yang demikian itu, kiranya belum tergolong berpikir filsafat. Berpikir filsafat, selain mendasar dan kritis, tetapi juga umum (komprehensif). Meskipun, di negara tertentu terdapat ungkapan tiap orang berfilsafat dan berpikir, dimaksudkan bahwa setiap orang memiliki filsafat hidup sendiri-sendiri. Setiap orang memiliki kebebasan meyakini filsafat hidupnya atau disebut filsafat hidup seseorang. Hal ini sangat spesifik dengan fokus pads sikap hidup seseorang (Welt-anschauung). Sikap hidup berupa sesuatu yang dianut oleh seseorang, seperti agama, aliran politik, konsep ilmu, dan ideologi. Sikap hidup merupakan bagian dari filsafat
• Pandangan hidup diekuivalensikan dengan filsafat. Sehingga tiap orang mempunyai pandangan atau filsafat sendiri.
• Pandangan hidup yaitu asas atau pendirian yang kebenarannya diterima/diyakini dan dipilih sebagai dasar pedoman hidup untuk menjawab masalah kehidupan.
• Filsafat dipandang sebagai cabang pengetahuan yang obyek materialnya hakekat dan totalitas alam semesta.
• Filsafat dihadapkan kepada problematik dasar yang abadi atau masalahnya sama dan itu-itu saja, tetapi tidak pernah terpecahkan. Akal dan pengalaman manusia tidak mampu menjawab masalah tersebut dengan satu kesepakatan (sama), tetapi berbeda bahkan bertentangan.
• Pemikiran sistematis tentang obyek keberadaan benda-benda di alam semesta ini melahirkan apa yang belakangan disebut sebagai ilmu. Sedangkan prosesnya disebut prosedur ilmiah. Dalam perjalanannya, ilmu berkembang pesat dan melepas diri dari filsafat. Tercatatlah, matematika sebagai ilmu paling awal yang melepaskan diri dari filsafat. Urutan berikutnya astronomi, fisika, kimia, biologi, psikologi dan sebagainya. Sedangkan agama sebagai tempat menggantungkan jawaban yang belum terjangkau oleh akal, yaitu dengan cara meyakini. Pada era kontemporer, bahwa filsafat itu merupakan pendalaman lebih lanjut dari ilmu.
5. Tinjauan Semantik
• Filsafat (philosophy) berasal dari bahasa Yunani (kuno). Yang berarti cinta kebijaksanaan. Karena itu, Yunani sebagai tempat kelahiran filsafat. Konon berawal dari perantauan suku Ionia di pulau Miletus yang termasuk kepulauan Asia Kecil. Peradaban Yunanai klasik, ketika menghadapi masalah tidak lagi seperti orang-orangKuno Primitif yang menjawab permasalahan itu dengan mitos, tetapi menjawabnya berdasarkan akal. Ia mengubah dari cara mitos ke cara berpikir. Filsafat merupakan olah pikir.
• Filsafat merupakan gabungan dari kata philein atau philare dan sophia.
• Philein atau philare artinya cinta (love) sedang sophia artinya kebijaksanaan (wisdom).
• Secara etomologi, kata filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Cinta berarti sangat suka atau suka sekali akan sesuatu, sedang kebijaksanaan merupakan sintesis dari kebenaran, keadilan, kebaikan dan keindahan.
• Jadi, filsafat merupakan suatu (pemikiran orang) yang sangat menyukai (sekali) akan kebijaksanaan. Ia jatuh cinta pada apa yang dikatakan orang dengan kebenaran, keadilan, kebaikan, keindahan, dan lain-lain. Kemudian ia memotivasi kemauannya itu melalui aksi/kegiatan pemahaman tentang kebenaran, keadilan, kebaikan dan keindahan atas segala yang ada dalam kehidupan manusia. Pikiran digunakannya untuk melakukan renungan dan penghayatan, sehingga yakin bahwa sintesis darinya adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan merupakan suatu konvergensi harmonis antara sudut-sudut pandang kebenaran, keadilan, kebaikan dan keindahan.
6. Pengertian Filsafat Menurut Ahli
Sebagaimana uraian di atas, bahwa dalam bahasa Yunani Kuno, secara etimologi philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philos dan Sophia. Philos artinya cinta dalam arti ingin, karena itu berusaha mencapai yang diinginkan itu. Sedangkan sophia artinya kebijakan dalam arti pandai, pengertian yang mendalam.
Filsafat sebagai cinta kebijaksanaan, atau cinta kebenaran; dalam arti suatu dorongan terus menerus, suatu dambaan untuk mencari dan mengejar kebenaran. Ada juga yang memberikan definisi nominal: Filein (=mencintai) dan sophia (= kebijaksanaan).
Jadi arti Filsafat secara harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadap kearifan atau kebijakan. Istilah filsafat sering digunakan secara populer dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penggunaan sehari-hari (popular) filsafat diartikan suatu pendirian hidup (individu) atau disebut pandangan hidup (masyarakat).
• Filsafat diartikan juga suatu pandangan kritis yang sangat mendalam sampai ke akar-akarnya.
• Pengertian lain Filsafat sebagai interpretasi, tafsiran atau evaluasi terhadap apa yang penting atau apa yang berarti dalam kehidupan.
• Filsafat dianggap juga sebagai cara berpikir yang kompleks, suatu pandangan yang tidak memiliki kegunaan praktis.
• Filsafat memiliki pengertian sebagai suatu pandangan kritis yang sangat mendalam sampai ke akar-akarnya mengenai segala sesuatu yang ada (wujud).
• Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada atau ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli (Plato 427SM-347SM seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles).
• Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, di dalamnya mengandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda (Aristoteles 384 SM – 322SM).
• Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya (Marcus Tullius Cicero 106 SM – 43SM politikus dan ahli pidato Romawi).
• Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya (Al-Farabi yang meninggal 950M, filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina).
• Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: apakah yang dapat kita ketahui? Dijawab oleh metafisika. Apakah yang dapat kita kerjakan? Dijawab oleh etika. Sampai di manakah pengharapan kita? Dijawab oleh autologi (Immanuel Kant 1724 -1804 M, yang sering disebut raksasa pikir Barat).
• Philosophy means the attempt to conceive and present inclusive and systematic view of universe and man’s place in it. Filsafat dapat diartikan pula sebagai “berpikir reflektif dan kritis” (Henderson, SVP. 1959:16).
• Filsafat sebagai sains yang berkaitan dengan matodologi atau analisis bahasa yang logis dan menganalisis makna-makna. Filsafat sebagai “science of science”, yang tugas utamanya memberi analisis secara kritis terhadap asumsi-asumsi dan konsep-konsep sains, mengadakan sistematis atau pengorganisasian pengetahuan.
• Filsafat berarti mencoba mengintegrasikan pengetahuan manusia yang berbeda-beda dan menjadikan suatu pandangan yang komprehensif tentang alam semesta, hidup dan makna hidup.
• Filsafat bermakna suatu sikap tentang hidup dan alam semesta. Filsafat adalah suatu metode berpikir reflektif dan penelitian dan penalaran. Filsafat adalah suatu perangkat maslah-masalah. Filsafat adalah seperangkat teori dalam system berpikir (Harold Titus .1959).
• Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal (Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI).
• Filsafat adalah ”cinta kepada kebijaksanaan”. Untuk menjadi bijaksana berarti harus berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakikat adanya sesuatu, fungsi, ciri-ciri, kegunaan, masalah-masalah sekaligus pemecahannya (Dr. Sondang P. Siagian, MPA).
• Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu (Drs.H.Hasbullah Bakry 1971: 11).
• Filsafat adalah sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka (Poedjawijatna (1974:11) dalam Ahmad Tafsir, (2004: 10). Filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani. Dalam budaya Arab beranggapan bahwa filsafat bukan hikmat tetapi merupakan cinta yang sangat mendalam terhadap hikmat (Poedjawijatna (1974:1) dalam Ahmad Tafsir, (2004: 9).
• Filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat dihasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikat sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu (Ahmad Tafsir, 2004: 10).
• Filsafat sebagai the love for wisdom. Manusia yang paling tinggi nilainya ialah manusia pecinta kebajikan (Phytagoras ahli pikir Yunani yang merupakan orang yang pertama kali menggunakan kata filsafat)
• Filsafat adalah berpikir tentang alam semesta secara kritis. Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis. Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut. Filsafat adalah berpikir secara rasional., dan Filsafat harus bersifat komprehensif (Kattsoff (1963)
Jadi, beberapa definisi filsafat yang dikemukan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
• Filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala hal (sesuatu hal) dengan mendalam dalam rangka mencintai dan mencari kebijaksanaan.
• Filsafat adalah pengetahuan mengenai semua hal melalui sebab-sebab terakhir yang didapat melalui penalaran atau akal budi. Ia mencari dan menjelaskan hakekat segala sesuatu.

KEGUNAAN MEMAHAMI FILSAFAT BAGI GURU
PERTEMUAN 4
Mengapa Guru Perlu Memiliki Wawasan Filsafat?
• Guru yang memiliki wawasan filsafat dapat dikategorikan guru professional. Di dalam substansi filsafat (baca: fisafat pendidikan) terdiri atas apa yang diyakini guru mengenai pendidikan, merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional seseorang, berkaitan dengan penetapan hakekat dari tujuan, alat pendidikan dan memandu menerjemahkan prinsip-prinsip ini kedalam kebijakan-kebijakan untuk mengimplementasikannya. Sehingga setiap guru yang memahami filsafat pendidikan ia memiliki seperangkat keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik.
• Jadi, pemahaman filsafat oleh guru sangatlah perlu, karena wawasan filosofis dalam dunia pendidikan berintikan interaksi antara manusia, terutama antara pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan.didalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung.
• Apakah yang menjadi tujuan pendidikan,siapa pendidik dan yang terdidik,apa isi pendidikan dan bagaimana proses pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial yaitu jawaban filosofis. Karena secara harafiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” sehingga orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak ia harus tahu atau berpengetahuan.
• Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistimatis, logis dan mendalam, pemikiran dalam filsafat sering disebut sebagai pemikiran Radikal (berpikir sampai keakar-akarnya) sehingga seorang guru harus paham mengenai hal tersebut, karena secara akademik filsafat berati upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistimatis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia didalamnya. Dan juga berfilsafat berarti menangkap sinopsis peritiwa-peristiwa yang simpang siur dalam pengalaman manusia.
Segi Filsafat yang Perlu Menjadi Wawasan Guru
• Aliran filsafat yang mempengaruhi filsafat pendidikan, yaitu idealisme, realisme, neo thomisme, pragmatisme dan eksistensialisme. Secara garis besar substansi yang berpengaruh sebagai berikut: (a) Idealisme: sumber moral dan spiritual/jiwa. Kebenaran nilai bersifat universal dan mutlak. Pengetahuan ada dalam jiwa, kita, tinggal membawanya ke tingkat kesadaran, sehingga mengetahui mengungkap kembali pikiran, (b) Realisme: realitas dunia bersifat alami. Realitas dunia bersifat apa adanya. (c) Neo Thomisme: dunia/manusia merupakan ciptaan tuhan, sehingga memahaminya diperlukan keimanan. Tuhan sumber kebenaran mutlak. (d) Pragmatisme: realitas bersifat tidak tetap (berubah), sehingga dalam memahaminya dibutuhkan pengalaman. Yang dapat diamati dan yang dialami adalah yang benar-benar nyata/ kenyataan hakiki. (e) Eksistensialisme: masalah pokok manusia ialah kemampuan menanggulangi eksistensinya. Manusia harus mampu bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya.
• Menurut Arbi, S.Z, (1988), filsafat pendidikan dapat dianggap sebagai sejenis sepupu dari ilmu pendidikan. Selanjutnya bahwa pentingnya filsafat pendidikan bagi guru adalah memperluas: (a) wawasan guru dalam rangka meningkatkan profesionalismenya, (b) bahan berpikir dan bertindak dalam rangka pelaksanaan tugas guru sehari-hari, (c) analisis filosofis berkenaan dengan isi dan praktek (praksis) pendidikan.
Fungsi wawasan filosofis bagi guru
• Disadari atau tidak setiap orang memiliki filsafat hidup sendiri yaitu suatu keyakinannya mengenai jalan hidup dan yang dicita-citakannya. Demikian pula bila menjadi seorang pendidik atau guru pasti akan memiliki filsafat hidup dan filsafat pendidikan. Filsafat hidup yang dipercayai guru memiliki dampak yang positip terhadap penetapan filsafat pendidikan yang dianutnya.
• Menurut Ellis (1981): “Guru setiap hari dihadapkan pada persoalan pendidikan yang memerlukan analisis secara filasafat”. Pengalaman seseorang dalam sepanjang hidupnya dapat membentuk sikap hidup dan hal itu erat kaitannya dengan filsafat pendidikan yang dipilihnya.
• Filsafat hidup dan filsafat pendidikan mendasari segala hal yang berhubungan dengan: (a) produk sikap dan pemikirannya, bahkan substansi pengarahannya kepada orang lain (siswa), (b) perilaku kehidupan sehari-hari, (c) segala hal yang dilakukan guru di kelas.
• Kedua filsafat yaitu filsafat hidup dan filsafat pendidikan banyak, berhubungan dengan media lain. Pengalaman seseorang pada lingkungan keluarga, dan sekolah, guru memperolehnya dari lingkungan sosio-kultural yang memberikan penghargaan kepadanya. Pengalaman tersebut diorganisasikan menjadi suatu keyakinan diri dan wawasan. Profesi sebagai guru terlihat dari wawasan pengalamannya yang dijadikan dasar pengembangan pengajaran di sekolah.
• Menurut Arbi, S.Z. (1988): “Baik filsafat pendidikan maupun pedagogik dapat secara langsung menyumbang kepada unsur kewibawaan”.
• Unsur-unsur kewibawaan guru meliputi wawasan, komitmen dan tanggung jawab profesionalnya.
• Guru yang wawasannya luas, komitmennya tinggi dan sangat bertanggung jawab, biasanya wibawanya sangat besar.
• Yang paling dominan menopang profesi guru ialah seperti kode etik, organisasi, disiplin ilmu, dan lain-lain.
• Penopang pertama yaitu kewibawaan dan yang kedua ialah kompetensi.
• Filsafat secara tidak langsung menyumbang kepada peningkatan kompetensi guru, yaitu dengan kompetensi guru memiliki kepercayaan diri (Arbi, S.Z. 1988).
Sumbangan/Kontribusi filsafat ilmu terhadap profesi guru
• Filsafat pendidikan berhubungan dengan pengembangan aspek pengajaran.
• Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para guru dapat menemukan pemecahan permasalahan pendidikan.
• Filsafat pendidikan dapat memberi kontribusi pada pemecahan aspek:
(a) Filsafat pendidikan terikat dengan peletakan suatu perencanaan, apa yang dianggap sebagai pendidikan terbaik secara mutlak.
(b) Filsafat pendidikan berusaha memberikan arah dengan merujuk pada macam pendidikan yang terbaik dalam suatu konteks politik, sosial, dan ekonomi.
c) Filsafat pendidikan dipenuhi dengan koreksi pelanggaran-pelanggaran prinsip dan kebijakan pendidikan.
(d) Fisafat pendidikan memusatkan perhatian pada isu-isu dalam kebijakan dan praktik pendidikan yang mensyaratkan solusi, baik dengan peneltiian empiris ataupun pemeriksaan ulang rasional.
(e) Filsafat pendidikan melaksanakan suatu inquiri dalam keseluruhan urusan pendidikan dengan suatu pandangan terhadap penilaian, pembenaran dan pembaharuan sekumpulan pengalaman yang penting untuk pembelajaran yang tinggi (Power, 1982, 15 – 16).
• Nilai tambah yang diperoleh setelah belajar filsafat adalah: mengetahui luas dan kedalaman dari ilmu yang pelajari, punya arah dan tujuan filosofis yang jelas dalam proses PBM, dasar filosofis untuk bersikap dan berpendirian serta senantiasa dipandu oleh norma dan aturan, menghargai dan toleran terhadap perbedaan pendapat, terdorong untuk mempelajari suatu ilmu secara tuntas sampai ke akar-akarnya, bijak dalam menggunakan ilmu dan teknologi, peduli terhadap alam, memiliki dasar filosofis dalam membuat berbagai macam keputusan.
• Dengan kata lain, bahwa filsafat ilmu memiliki kontribusi terhadap profesi guru terutama dalam hal:
• wawasan guru menjadi professional,
• guru benar-benar menjalankan tugasnya serta tindakan dan pikirannya,
• praktek pendidikan benar –benar dijalankan sesuai dengan aturan dan kaidah yang ada,
• inpirasi dan ekspresi model pendidikan benar-benar dijalankan,
• preskripsi atau petunjuk praktek pendidikan dijalankan dengan baik.
Manfaat lain yang diperoleh dari belajar filsafat ilmu
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
• Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh, ilmu pengetahuan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat.
• Filsuf masa itu banyak sebagai ahli matematika, astronomi, ilmu bumi, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.
• Cara berpikir filsafati telah mendongkrak pintu serta tembok tembok tradisi dan kebiasaan, bahkan telah menguak mitos dan mite serta meninggalkan cara berpikir mistis.
• Saat itu berkembang pula cara berpikir rasional (luas dan mendalam, teratur dan terang, integral dan koheren, metodis dan sistematis, logis, kritis, dan analitis) sehingga ilmu pengetahuan pun semakin bertumbuh subur, terus berkembang, dan menjadi dewasa.
• Ilmu yang telah mencapai tingkat kedewasaan satu demi satu meninggalkan filsafat.
• Karena itu, filsafat disebut sebagai mater scientiarum atau induk pengetahuan. Filsafat menampakkan kegunaannya melalui melahirkan, merawat, dan mendewasakan berbagai ilmu pengetahuan yang begitu bejasa bagi kehidupan manusia.
• Kemajuan ilmu pengetahuan yang amat mempesonakan itu telah membuat sinis terhadap filsafat dan mulai meragukan kegunaan filsafat.
• Menganggap filsafat sudah mampu “melahirkan” suatu ilmu penge¬tahuan baru. Filsafat tidak bisa menghasilkan sesuatu apa pun juga. Benarkah ilmu pengetahuan telah sanggup merengkuh langit dan menguasai alam semesta? Ternyata itu hanya merupakan suatu impian yang harus segera dilepaskan tatkala menghadapi kenyataan sesungguhnya.
• Fakta menunjukkan bahwa hasil hasil yang dapat diraih oleh ilmu pengetahuan bersifat sementara, maka senantiasa membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan. Senantiasa ada batas yang membatasi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan senantiasa dibatasi oleh bidang penelitian yang sesuai dengan kekhususannya. Membuat ilmu pengetahuan hanya sanggup meneliti bagian bagian kecil (sesuai dengan bidangnya) dari seluruh realitas.
• Ilmu pengetahuan tidak mempersoalkan asas dan hakikat realitas. Pada umumnya ilmu pengetahuan, teristimewa yang diketengahkan oleh positivisme, cenderung lebih bersifat kuantitatif Karena itu, tentu saja pengetahuan itu tak sanggup menguji kebenaran prinsip prinsip yang menjadi landasan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan membutuhkan bantuan dari sesuatu yang bersifat tak terbatas yang sanggup menguji kebenaran prinsip prinsip yang melandasi ilmu pengetahuan. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh filsafat, sang induk segala ilmu pengetahuan.
• Filsafat adalah ilmu senantiasa mengajukan pertanyaan tentang seluruh kenyataan yang ada. Filsafat ilmu selalu mempersoalkan hakikat, prinsip, dan asas mengenai seluruh realitas yang ada, bahkan apa saja yang dapat dipertanyakan. Filsafat bukan hanya berguna selaku penghubung antardisiplin ilmu pengetahuan. Akan tetapi, sanggup memeriksa, mengevaluasi, mengoreksi, dan lebih menyempurnakan prinsip prisip dan asas asas yang melandasi ilmu pengetahuan.
2. Dalam Kehidupan Praktis
• Filsafat memang abstrak, namun tidak berarti filsafat sama sekali tidak bersangkut paut dengan kehidupan sehari hari yang konkret. Keabstrakan filsafat bukan tak memiliki hubungan apa pun juga dengan kehidupan nyata setiap hari. Meskipun tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan yang artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia dengan memberi kriteria tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan yang diperoleh dari kriteria akan menjadi patokan utarna bagi pekerjaan pembangunan.

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: