RSS

Sebuah Pesan

17 Feb

Namaku Frans. Seorang pemuda pegawai biasa. Namanya juga pegawai biasa, pastinya gaji pas-pasan. Hanya cukup untuk makan, membiayai kebutuhan hidup yang lain dan tak ada barang sedikit pun untuk hura-hura. Jadi wajar saja jika aku tak pernah bersedekah.

Lho, lo kok aneh? Apa hubungannya hura-hura sama sedekah? Tentu ada. Bagiku hura-hura nomor satu dibandingkan bersedekah. Jadi jangankan mau bersedekah, hura-hura saja aku tak bisa!
Tapi suatu hari, ketika aku sedang beristirahat, berbaring di rerumputan di bawah naungan rimbunnya pohon datang seorang pengemis padaku. Siang yang panas membuatku agak sedikit malas. Rindangnya pohon dan sejuknya semilir angin “malaikat” yang terkadang mau singgah, membuatku terlena dan merasa mengantuk. Namun baru saja aku mau memejamkan mata, tiba-tiba suara memelas mengagetkanku.

“Tuan, tolong saya Tuan.”

Tak pelak, aku tersentak. Ketika kubuka mata, seorang pengemis renta tampak sedang menengadahkan tangan ke arahku. Pengemis sialan, batinku. Ganggu orang istirahat saja, lanjutku dalam hati.

“Tak ada uang kecil!” sentakku ketus.

“Tolonglah Tuan, sedikit saja, saya lapar,” pinta pengemis itu seraya memelas. Aku yang pada dasarnya tidak suka pengemis, tanpa sedikit pun belas kasihan buru-buru mengusirnya.

“Tuli ya? Saya bilang saya tak punya uang! Sudah sana pergi!” usirku dengan kejam sembari melemparinya dengan kerikil.

Namun pengemis itu masih bertahan. Ia masih saja mengulurkan tangan meski sudah belasan kerikil yang kulempar. Benar-benar pengemis jelek tak tahu diri, pikirku kesal.

“Saya lapar, Tuan,” keluh pengemis itu dengan nada masih memelas.

“Saya tak punya uang!” bantahku lagi dengan berseru keras.

Kutatap pengemis tua di depanku ini dengan sebal. Sejenak kupandangi ia sehingga detik berikutnya aku sendiri menjadi jijik. Pakaian yang dipakainya benar-benar lusuh, compang-camping dan banyak robekan di sana sini sehingga tak ada bedanya lagi dengan gombal. Selain itu, celana yang ia kenakan pun juga banyak bercak-bercak cokelat kehitaman seperti kena lumpur tanah. Belum lagi, aroma badannya yang tak ubahnya dengan aroma sampah busuk. Benar-benar membuatku mual! Apalagi tangan dan kakinya! Ih, penuh borok, koreng, panu dan segala jenis bentuk kejorokan lainnya! Ia menunduk, sehingga wajahnya tertutup caping yang bertengger di kepalanya.

“Pergi kamu!” seruku membentak sambil berjengit. Namun pengemis itu masih bersikeras. Ia tetap saja memelas kepadaku. Akhirnya aku tak tahan lagi. Dengan tak rela, kulemparkan dengan kasar sekeping uang perak.

Pengemis itu memungut uang logam tersebut yang menggelinding ke tanah. Lalu dengan penuh syukur, ia berujar, “Terima kasih, Tuan. Semoga Tuan selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.”

“Sudah! Pergi sana!” kataku dengan ketus tanpa hendak sedikit pun mau mendengar ucapan terima kasih dan doa palsu pengemis tersebut. Sang pengemis kemudian beranjak dan berjalan meninggalkanku dengan langkah tertatih-tatih. Aku memandangnya yang semakin lama semakin jauh dengan sebal. Enak benar jadi pengemis! Tinggal minta! Kalau tidak diberi, memaksa, sungutku dalam hati.

Lalu tiba-tiba kulihat dari jauh pengemis itu berbalik. Kemudian beringsut, ia mendekatiku kembali. Aku mendengus sebal.

“Apa?! Masih kurang?!” gerutuku.

Pengemis itu menggeleng singkat.

“Bukan, Tuan,” ujarnya, “Saya hasya ingin menyampaikan sebuah pesan.”
Aku kembali mendengus. Kemudian kuatur posisi berbaring yang seolah mengisyaratkan bahwa apa pun pesan itu aku tak membutuhkannya sama sekali. Namun pengemis itu tetap pada pendiriannya. Tak terpengaruh sedikit pun dengan sikapku yang seolah tak mengacuhkannya.

“Dalam seminggu ini,” katanya, “hendaklah Tuan jangan ke mana-mana. Meskipun ada tawaran menggiurkan janganlah Tuan menerimanya. Ikutilah kata hati, Tuan. Jangan dengarkan apa kata orang. Kalau Tuan tak ingin mengalami sesuatu,” cerita pengemis itu.

Aku diam saja. Namun sebenarnya dalam hati, aku bersungut. Jangan dengarkan apa kata orang! Justru kata-katamu itulah yang harusnya tak kudengarkan, batinku kesal.

Kemudian setelah meminta diri, pengemis itu pun melangkahkan kakinya. Aku menghela napas lega. Pergi juga akhirnya si tak tahu diri itu, kataku dalam hatiku. Aku sama sekali tak mau memikirkan pesan pengemis itu sama sekali. Untuk apa, bikin pusing saja! Memangnya bisa dipercaya pesan bualan seperti itu, ucapku membatin. Kemudian aku membiarkan diriku menikmati sapuan angin hingga aku terlelap.
Sampai akhirnya beberapa hari kemudian, aku mendapatkan sebuah kejutan. Dua orang kawan baik lamaku mengunjungiku. Aku senang sekali bisa bertemu mereka setelah sekian lama tak berjumpa. Tanpa pikir panjang, kupersilahkan mereka berdua duduk dan kami pun bercakap-cakap.

Setelah berbasa-basi, kedua temanku itu kemudian langsung tancap gas menawarkanku sesuatu. Rupanya mereka berdua mendapatkan bonus 3 buah tiket dari bos mereka untuk berlibur ke luar negeri. Dua tiketnya tentu akan mereka gunakan untuk diri mereka sendiri. Lalu mereka bingung untuk siapakah sebuah tiket lagi. Bos mereka bilang, mereka boleh memberikannya kepada teman mereka. Namun mereka tak mau memberikan tiket itu untuk rekan kerja mereka karena sebagian besar dari rekan mereka sudah puas berjalan-jalan ke luar negeri, selain itu di antara rekan kerja mereka tersebut pun tak ada yang mau, maka lengkaplah. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menawarkanku tiket yang tersisa tersebut, karena tiba-tiba saja aku teringat di benak mereka.

Nyaris saja, aku berkata ya dan menerima tiket itu dengan sukacita. Namun baru saja tanganku hendak menggapai tiket itu, tiba-tiba ucapan pengemis yang mendatangiku beberapa hari yang lalu kembali terngiang. Aku menjadi ragu. Akhirnya kutarik kembali tanganku.

Fruz, temanku yang mengangsurkan tiket tersebut menjadi heran. Ia menatapku dengan pandangan menyelidik, “Kenapa, Sobat?”

Aku diam saja. Dalam hati aku bingung. Apakah jangan-jangan yang dimaksud si pengemis itu tentang tawaran yang menggiurkan itu tiket ini? Kalau iya, lantas manakah yang harus kupilih? Tiket itu? Atau pesan yang disampaikannya? Sebenarnya aku ingin sekali mengambil tiket itu, namun setiap kali aku hendak mengulurkan tangan, pesan si pengemis renta seolah menepisnya. Aku semakin bimbang sementara kedua temanku terus bertanya menyelidik tentang keraguanku ini dan menyodorkan tiket tersebut serta mendesakku karena besok jualah hari keberangkatan.
“Ayolah, Sobat. Terimalah. Kita harus berangkat besok juga,” begitu bujuk Fresza, sobatku yang satu lagi.
Aku termenung. Sejenak kebimbangan bergemelut di dalam hatiku. Aku bingung, mana yang harus kupilih antara tiket dan ucapan si pengemis. Kalau kupilih pesan si pengemis, maka sayang sekali tiket gratis yang kini telah melambai-lambai di depan mataku. Tetapi kalau kuraih tiket itu, aku takut sesuatu yang mungkin saja bisa melukaiku terjadi. Bukankah pengemis itu mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu padaku andai aku menerimanya?
Namun akhirnya dengan berat hati aku pun memutuskan untuk menolak tiket tersebut. Kutolak tiket gratis tersebut dengan halus dan dengan alasan bahwa masih banyak pekerjaanku di kantor. Kedua sobatku terhenyak dan tetap memaksaku untuk mengambil tiket tersebut. Namun aku terus menggeleng. Akhirnya dengan perasaan sedikit dongkol, kedua sobat lamaku itu pun beranjak pergi.
Setelah mereka tak ada, aku malah menjadi sedikit menyesal. Akh, bodoh mengapa aku tolak tiket tersebut? Padahal hanya karena ucapan seorang pengemis tua yang entah bisa dipercaya atau tidak! Ya entah mengapa, tiba-tiba saja pesan itu mengusikku. Padahal sebelumnya, aku tak pernah mau ambil pusing darinya. Aku terdiam sejenak. Lalu kuputuskan untuk tidak terlalu menyayangkan tawaran yang telah berlalu itu. Lagipula sesuai alasanku tadi, aku juga masih punya pekerjaan di kantor kok. Selama beberapa hari ini saja aku selalu lembur dan pulang larut malam. Jika aku pergi berlibur, maka aku tak dapat membayangkan sebanyak apa tumpukan pekerjaan yang telah menantiku. Bisa-bisa aku harus sampai menginap di kantor karena harus segera menyelesaikannya.
Tapi tunggu dulu. Kira-kira apa ya yang dimaksud si pengemis itu? Bukankah menurutnya akan terjadi sesuatu padaku bila aku menerima tiket yang menggiurkan itu? Ini kan pergi berlibur, apakah jangan-jangan tatkala di perjalanan itu akan terjadi kecela… Hii … tidak! Aku tak mau membayangkannya! Semoga saja tidak terjadi, karena bila terjadi maka kedua sobatku tadi yang akan menjadi korbannya.
Tapi beberapa hari kemudian, aku terkejut ketika mendapatkan berita duka bahwa pesawat yang ditumpangi kedua sahabatku mengalami kecelakaan. Bibirku hanya terkatup, tak bisa berkata apa pun. Perasaanku terguncang. Terlebih-lebih tatkala mengetahui bahwa, dari sekian penumpang yang menjadi korban tewas, hanya kedua sobatku tersebut yang masih hidup walau kini mereka harus mengalami koma.
Ketika aku menjenguk kedua sobatku tersebut, mataku hanya dapat berkaca-kaca. Mataku nanar memandangi kedua sobatku yang tampak sekarat. Namun dalam hati, aku bersyukur karena aku mau mengikuti pesan pengemis “malaikat” itu sehingga bencana mengerikan itu tak menimpaku. Kalau saja, aku menerima tiket itu, mungkin saat ini aku sekarang sedang ikut berbaring tak berdaya bersisian dengan kedua sahabatku atau mungkin yang paling parah, aku telah tak ada di dunia ini. Ya, entah mengapa saat ini aku ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga pada si pengemis tua itu. Siapa gerangan pengemis misterius itu? Mengapa pesannya bisa sedemikian tepat?

Ah, siapa pun dia, dia telah menyelamatkanku, aku berhutang nyawa padanya. Terima kasih, Pengemis tua, terima kasih Tuhan karena Engkau telah mengutus pengemis itu untuk menyelamatkanku, sekaligus “menyadarkanku” bahwa bersedekah itu membawa kebaikan. Sedekahku pada pengemis itu membuat nyawaku terselamatkan.

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: