RSS

Menjajal Ramalan

17 Feb

Jam terakhir di kelas XI SMA Pelita kosong. Jam ini semestinya diisi oleh pelajaran Biologi namun gurunya sedang sakit. Kelas pun sangat riuh, ada siswa yang berkelompok ngobrol saja, ada yang ke kantin, dan sebagian kecil mengerjakan tugas yang diberikan guru piket.

“Halo Guys, majalah Teenagers udah terbit lho. Aku udah beli nih,” Melia masuk ke dalam kelas dengan lagak seperti orang penting yang membawa sesuatu yang penting pula sambil memperlihatkan majalah yang baru saja dibelinya.

Sesaat kemudian kumpulan siswi-siswi yang sedang ngobrol di pojok kelas langsung bubar dan berganti mengerubungi Melia.

“Eh, buka bagian ramalan bintang dulu dong,” kata si Cindy sambil setengah merebut majalah baru itu. Yang lain langsung mengiyakan. Mereka semua saja, terlihat deg-degan membaca apa kata ramalan bintang masing-masing untuk nasib mereka minggu ini.

Sudah menjadi kebiasaan di kelas ini, hari Senin adalah hari yang ditunggu-tunggu karena majalah Teenagers kesayangan mereka terbit hari itu. Rasanya ada kurang jika hari Senin berlalu tanpa membaca majalah ini. Dan sebenarnya yang paling mereka tunggu-tunggu adalah bagian ramalan bintang alias horoskop. Menurut mereka, horoskop majalah Teenagers cukup valid karena sering menjadi kenyataan.

“Yes!!! Minggu ini aku lagi beruntung, cowok incaran mulai mendekat, uang lagi banyak, sempurna banget!” tiba-tiba Cindy berteriak senang setelah membaca ramalan zodiaknya.

“Yah, kalau aku lagi apes. Cinta bertepuk sebelah tangan. Keuangan menipis.” Sebaliknya, Mona menjadi tak bersemangat setelah membaca ramalan zodiaknya.

Semua pun riuh berkomentar setelah membaca ramalan zodiak masing-masing di majalah itu. Cindy langsung menghampiri Melia.

“Eh, Mel, kok ramalan majalah itu tepat banget ya? Minggu kemarin ramalan itu bilang aku bakal kenalan sama orang yang menarik. Nah itu bener banget, Kamis kemarin aku kenalan sama Aldi, anak basket yang ganteng itu lho. Terus kemarin Minggu dia tiba-tiba aja SMS aku, ngajak ngobrol gitu. Pasti minggu ini beneran deh, dia mulai mendekat, kayak kata zodiakku itu. Udah ada tanda-tandanya kok,” kata Cindy kemudian.

“Oh, ya?” kata Melia ragu.

“Iya, beneran deh. Sering banget bener!” kata Cindy meyakinkan.

Melia hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Mel, aku ke kantin dulu ya. Siapa tau Aldi lagi ada di sana.” Cindy segera berlalu dari kelas.

***

Obrolan dengan Cindy barusan mau tidak mau membuatku terpengaruh. Wah, enak ya Cindy dia selalu beruntung terus. Mungkin zodiak Taurus-nya itu memang selalu membawa hoki. Padahal aku yang selalu beli majalahnya tapi aku malah nggak pernah hoki. Kubaca lagi ramalan zodiakku, Capricornus:

Bukan saatnya kamu menyesali apa yang terjadi. Harus ada perubahan besar dalam hidup kamu. Asmara: Masih menggantung. Keuangan: Harus hemat. Kesehatan: Hati-hati tekanan jiwa.

Duh, nggak ada yang hoki. Memang sih aku menyesali nasibku yang begini-begini saja sejak dulu. Urusan asmara, memang masih belum ada kejelasan tentang hubunganku dengan Rio. Terus aku memang harus berhemat karena sekarang ini tiap minggu aku mempunyai pengeluaran rutin baru, membeli majalah Teenagers yang tidak murah. Walaupun begitu aku suka membeli majalah ini. Selain untuk baca-baca saat senggang, temanku juga jadi banyak karena banyak yang numpang baca, hehe… Tekanan jiwa? Ya mungkin lama-lama aku akan tertekan kalau ramalan zodiakku tidak pernah hoki gini. Oh ya, perubahan besar? Hm, perubahan besar apa ya? Aku belum mengerti.

Lagu Fur Elise membahana memecahkan lamunanku. Lagu kesayanganku itu telah berkumandang, saatnya untuk pulang.

***

Entah kenapa sore ini aku masih terpikir tentang ramalan zodiakku tadi. Hingga saat aku menonton TV pun aku malah melamun.

“Eh, kecil-kecil kok melamun sih?” Kak Dani datang mengagetkanku.

“Eh, Kak Dani udah pulang? Kok Mel nggak tahu,” aku menjawab dengan gelagapan.

“Makanya jangan ngelamun terus, Non!” Kak Dani duduk di sampingku sambil memindah-mindah saluran TV mencari siaran berita kesukaannya.

“Kak, percaya nggak sama ramalan?” kataku mengajak ngobrol sambil mencoba mencari pencerahan.

“Ramalan apa? Ramalan cuaca, Kakak percaya,” katanya cuek.

“Hm, kalau ramalan zodiak, shio gitu gimana, Kak?” kataku agak ragu.

“Kalau Kakak sih kalau kata ramalannya bagus Kakak percaya, kalau jelek ya nggak usah percaya, hehe,” jawab Kak Dani sekenanya.

“Ih, masak gitu, Kak? Itu seenaknya namanya,” aku protes.

“Eh, emang yang bikin ramalan nggak seenaknya apa?” Kakakku tak mau kalah.

“Ya enggak lah, Kak. Mereka kan meramal ada dasarnya, ada berdasarkan kedudukan planet, bintang, rasi bintang yang berubah-ubah gitu kan, Kak?”

“Mel, planet, bintang, rasi bintangnya kan ada di luar angkasa sana, masak iya bisa mempengaruhi kehidupan kita? Pakai nalar dikit dong!” kata Kak Dani tidak percaya.

“Tapi nyatanya itu udah ada sejak berabad-abad yang lalu kan, Kak? Berarti emang banyak yang benar,” aku mencoba berdalih.

“Kamu kenapa sih, Mel, cuma gitu aja kok serius banget. Ada masalah?” Kak Dani mulai serius.

“Mm, gini Kak, kata ramalan bintang di majalah, akhir-akhir ini zodiak Mel nggak pernah hoki. Terus kenyataannya memang gitu, akhir-akhir ini Mel ngerasa hidup Mel monoton banget, nggak beruntung terus. Nah, sebaliknya, temen Mel, Cindy, akhir-akhir ini beruntung terus. Kata zodiaknya juga memang gitu, Kak. Berarti peramal di majalah itu memang bagus kan, Kak?” Aku mencoba mencari pembenaran Kak Dani.

Kak Dani terdiam cukup lama, tak menanggapi apapun. Dia hanya tersenyum misterius kemudian pergi begitu saja meninggalkanku. Duh, aku tambah sebal saja. Kak Dani ini nyebelin banget, aku kan lagi curhat, malah ditinggal pergi begitu aja. Aku matikan TV lalu masuk kamar. Aku sebal. Sebal!.

***

Saat makan malam, aku belum juga keluar dari kamar. Lalu Kak Dani mengetuk pintu kamarku.

“Mel, buka pintu dong. Kakak mau ngomong sama kamu.”

Dengan malas kubukakan pintu, tapi aku langsung kembali ke posisi awalku, memeluk guling di tempat tidur. Kak Dani mendekatiku sambil membuka-buka majalah Teenagers yang ada di samping tempat tidurku. Kubiarkan saja dia.

“Oo, jadi ini majalah yang bikin kamu ngambek ya? Kalau gitu Kakak buang aja ya, Mel. Kasian adikku tersayang sedih cuma karena ramalan di majalah ini,” nada bicara Kak Dani menyindir campur mengejek.

Aku diam saja. Kakakku ini memang suka iseng ke aku. Tapi kali ini aku sedang malas menanggapinya.

“Mel, Kakak punya ramalan juga lho. Ini terbaru dari internet. Kamu mau lihat nggak?” Kak Dani mulai merayu.

“Eh, ini beneran lho, Mel. Ini Kakak bacakan punyamu ya. Capricornus: Kamu akan mendapat pencerahan. Jangan berpikiran sempit. Asmara, kamu akan mendapatkan teman-teman baru. Kesehatan, kamu sehat sekali. Keuangan, lagi banyak uang. Tuh kan, kamu lagi hoki, Mel!” Kak Dani meyakinkanku.

Karena melihatku tak bergeming juga, akhirnya Kak Dani meninggalkanku, mau makan katanya.

Sebenarnya aku menyimak semua yang Kak Dani katakan. Tapi biasalah, jaga gengsi dikit. Jadi aku pura-pura tak mengindahkannya.

Hm, ini menarik juga. Ternyata ramalan yang di majalah itu salah. Hatiku bersorak. Aku akan mendapatkan pencerahan. Yup, ini baru saja terjadi. Jangan berpikiran sempit. Tentu saja, nyatanya aku menerima ramalan baru ini, tidak terpaku pada satu ramalan saja. Itu berarti aku sudah berpikir luas. Teman-teman baruku memang banyak, terutama setelah mereka ikut menjadi pembaca setia majalah Teenageers yang selalu kubeli. Ya, kurasa aku sehat, tidak ada keluhan apapun. Banyak uang? Kemarin Mama memang memberiku uang lebih sih, katanya Mama lagi dapat rezeki lebih. Boleh juga ini.

Aku langsung keluar kamar mencari Kak Dani. Ternyata dia masih di meja makan bersama Mama Papa.

“Udahan ngambeknya, Mel? Kata Kak Dani kamu lagi ngambek? Ya udah, makan dulu sini, Nak!” kata Mama lembut.

“Yee, siapa yang ngambek. Nggak jadi kok,” kataku dengan riang sambil mengambil nasi ke piringku.

“Kak, yang tadi itu dapat darimana sih?” tanyaku penasaran.

“Ada aja!” jawabnya sok misterius. Dia lalu pergi ke kamarnya karena sudah selesai makan.

Aku cepat-cepat menghabiskan makanku dan menyusul Kak Dani ke kamarnya.

***

“Kak, Mel lihat ramalan yang tadi dong.”

“Tuh, di meja belajar Kakak,” jawab Kak Dani tanpa beralih dari buku yang dibacanya.

Aku pun segera mencari benda yang kumaksud di meja belajar Kak Dani. Dengan mudah aku mendapatkannya karena kertas itu ada di bagian paling atas dari tumpukan buku Kak Dani. Kubaca lagi sambil tersenyum-senyum senang. Tapi kurasa ada yang aneh, kok yang ada di kertas ini hanya zodiak-ku Capricornus?

“Kak, kok yang ada cuma Capricornus aja? Yang lain mana?” protesku.

Kak Dani mengalihkan pandangan ke arahku, tersenyum dan mengatakan, “Di sini!” sambil menunjuk ke arah kepalanya.

Aku semakin penasaran.

“Apa maksudnya, Kak?” tanyaku tidak mengerti.

Kak Dani duduk memandang ke arahku. Dan balik bertanya, “Kakak cocok juga ya jadi peramal?”

“Lho, jadi yang tadi itu cuma bualan Kakak aja?” Aku mulai marah pada keisengan kakakku. Aku pun bersiap untuk segera pergi dari kamar Kak Dani. Tapi Kak Dani lebih dulu menarik tanganku.

“Mel, duduk dulu. Jangan marah dulu,” kata Kak Dani berusaha menenangkanku. Aku diam saja, tapi menuruti katanya. Aku duduk kembali di tepi tempat tidur.

“Mel, coba kamu perhatikan dirimu sendiri. Kakak prihatin banget sama kamu. Masak iya adik Kakak yang hebat ini percayanya sama ramalan bintang. Tadi kamu sedih waktu bilang ramalan bintangmu yang di majalah lagi nggak hoki. Terus Kakak iseng bikin ramalan baru yang bagus-bagus buat kamu. Terus kamu tiba-tiba jadi sumringah lagi. Nah, sekarang waktu kamu tahu itu cuma akal-akalan Kakak kamu jadi ngambek lagi,” Kak Dani mulai menasehatiku panjang lebar. Aku mendengarkannya. Dalam hati aku membenarkannya. Aku merasa tertohok.

“Tapi, Kak, temen-temen Mel juga ngerasain hal yang sama, kata mereka ramalan bintang itu bener banget sesuai sama kejadian yang mereka alami,” aku berusaha membela diri.

Kak Dani malah tertawa.

“Mel, Mel. Kamu belum sadar juga ya. Liat nggak, tadi kamu percaya kalau kamu nggak hoki setelah baca ramalan yang di majalah. Terus Kakak datang bawa ramalan buatan Kakak, kamu langsung berubah jadi riang gembira dan percaya kalau kamu sebenarnya lagi hoki. Iya, kan?”

“Ya kalau tadi Mel tahu itu cuma akal-akalan Kak Dani, Mel nggak akan percaya,” kataku sengit karena merasa dipermainkan.

“Mel, sebenarnya Kakak cuma mau nunjukin ke kamu kalau sebenarnya kita sering termakan sugesti-sugesti yang ada di ramalan-ramalan semacam itu. Karena tersugesti kita lalu menghubung-hubungkan semua yang terjadi dengan ramalan itu. Dan akhirnya ramalan itu seolah-olah tampak benar,” kata kakakku hati-hati.

Dalam hati aku membenarkan perkataan kakakku. Waktu membaca ramalan di majalah aku percaya kalau aku harus hemat. Sementara saat Kak Dani membacakan ramalan versinya aku percaya kalau aku punya uang lebih. Ini sangat bertentangan bukan? Aku mulai mengerti apa yang dikatakan Kak Dani. Kami saling terdiam lama. Lalu tiba-tiba aku punya ide.

“Kak, untuk Mel, mungkin apa yang Kakak katakan itu benar, tapi Mel belum yakin kalau temen-temen Mel juga begitu,” kataku ragu.

“Gimana kalau Kak Dani bikinin ramalan buat semua zodiak, terus besok Mel bawa ke sekolah. Mel mau lihat bagaimana reaksi teman-teman. Tapi ramalannya yang bertentangan sama yang di majalah ya, Kak. Soalnya kemarin mereka semua udah baca ramalan yang di majalah,” kataku bersemangat.

“Ya udah, sebagai penebus kesalahan Kakak karena udah ngisengin kamu, nanti Kakak bikinin,” jawab kakakku diplomatis.

Tanpa pamit aku kabur ke kamarku untuk mengambil majalah Teenagers yang baru, lalu kuberikan pada kakakku.

“Ya udah, sana kamu belajar dulu. Kakak juga mau belajar, besok Kakak ada minitest,” kata Kak Dani setengah mengusir.

***

Saat sarapan pagi, Kak Dani memenuhi janjinya. Selembar kertas yang telah diprint berisi ramalan untuk semua zodiak minggu ini. Aku membacanya sambil tersenyum-senyum. Terbayang bagaimana reaksi teman-temanku nanti setelah membacanya. Setelah sarapanku selesai aku pamit berangkat ke sekolah.

***

Saat tiba di kelas, sudah banyak teman-teman Melia yang datang. Para siswa putri berkelompok ngobrol di belakang kelas, ada juga yang mengerjakan PR yang belum selesai atau lupa dikerjakan di rumah. Melia mengambil nafas dalam, bersiap untuk beraksi.

“Halo semua, aku bawa ramalan zodiak terbaru dari internet. Terpercaya lho,” Melia menghampiri kelompok siswa putri di belakang kelas. Lagaknya sangat meyakinkan. Cindy dan Mona ada di antara mereka juga.

“Mana…mana…aku duluan yang lihat!” Mereka berebut kertas yang dibawa Melia.

“Tenang…tenang…gantian dong,” kata Melia tenang.

Teman-teman Melia pun bergantian membaca zodiak masing-masing. Tak berapa lama bel berbunyi. Mereka pun bubar. Melia duduk sebangku dengan Cindy.

“Eh, Mel, kok ramalan yang barusan agak beda sama yang di majalah, ya? Kayaknya di situ aku lagi kurang hoki. Kamu lagi kurang beruntung. Banyak-banyak bersabar. Asmara, sepertinya dia kurang tertarik. Keuangan, boros amat sih kamu. Hm, kayaknya memang lebih cocok yang ini. Kemarin waktu aku ke kantin nyariin Aldi, aku akhirnya ketemu, tapi masak dia pura-pura nggak kenal gitu. Apa kemarin itu dia cuma salah kirim SMS ya? Aku memang lagi kurang beruntung kali, ya?” kata Cindy yang mulai berubah raut wajahnya menjadi tidak bersemangat.

“Oh, ya?” jawab Melia. No comment.

Percakapan mereka terhenti karena guru jam pertama telah datang.

Saat istirahat tiba, gantian Mona yang mendekati Melia untuk curhat.

“Eh, Mel, aku seneng banget deh, di ramalan yang kamu bawa tadi pagi. Katanya aku harus bangkit. Asmaraku juga mulai ada sinyal. Keuangan lagi banyak pemasukan. Hehe… beda sama yang di majalah kemarin. Kayaknya lebih cocok yang barusan deh. Makasih ya, Mel. Aku ke kantin dulu,” Mona bicara terus sampai tidak memberikan kesempatan pada Melia untuk menanggapinya.

Melia hanya terbengong-bengong. Dia hampir tidak percaya pada semua yang baru saja terjadi. Begitu mudahnya teman-temannya termakan oleh ramalan akal-akalan Kak Dani, persis seperti yang dialaminya kemarin. Sangat ajaib. Andaikan mereka tahu yang sebenarnya. Melia hanya tersenyum keheranan. Dia jadi ingin cepat-cepat pulang menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya pada Kak Dani.

***

Dalam perjalanan pulang, di dalam bus jalur 10 yang kebetulan agak sepi, Melia bisa mendapatkan tempat duduk. Iseng-iseng dia membuka-buka lagi horoskop versi majalah Teenagers, dibandingkannya dengan horoskop versi Kak Dani. Amat sangat berbeda dan bertolak belakang. Tapi anehnya, teman-temannya mempercayai keduanya. Dia mulai membenarkan kata-kata Kak Dani bahwa kebenaran ramalan itu hanya masalah sugesti. Jika sudah terlanjur percaya, semua kejadian bisa dihubung-hubungkan sehingga hasil akhirnya adalah ramalan itu tampak benar-benar terjadi. Dia baca lagi ramalan zodiaknya di majalah:

Bukan saatnya kamu menyesali apa yang terjadi. Harus ada perubahan besar dalam hidup kamu.

Dibandingkannya dengan ramalan versi Kak Dani:

Kamu akan mendapat pencerahan. Jangan berpikiran sempit.

Lihat, sekarang kedua ramalan itu tampak benar! Melia memang sedang melakukan perubahan besar yaitu tidak mau lagi percaya dan menggantungkan nasib pada ramalan. Dan, Melia juga baru saja mendapatkan pencerahan dari Kak Dani untuk tidak mempercayai ramalan. Keduanya benar. Eh, tunggu dulu, Melia kok malah jadi percaya dan membenarkan ramalan itu lagi, ya?

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: