RSS

Malam, Dering Telepon

17 Feb

Malam ini, ibu menelepon lagi. Sama seperti dua malam lalu. Waktunya juga nyaris serupa. Hampir mendekati jam sembilan malam. Tadi aku yang mengangkat, ketika telepon itu berdering. Ibu hanya sebentar bertanya kabar, lalu menanyakan Peter, anakku. Cucu ibu. Kukatakan Peter sudah tidur.

“Semalam, aku juga menelepon jam segini. Peter belum tidur.”

“Hari ini Peter libur sekolah. Dia terlalu banyak bermain. Jadi kelelahan.”

“Apa tidak bisa kau bangunkan?”

“Memangnya Ibu ingin bicara apa?”

“Hanya mengobrol. Tidak terlalu penting.”

“Besok saja, Ibu.”

Ibu tidak menjawab, tapi tarikan napasnya kudengar dengan jelas. Ibu pasti kecewa mendengar jawaban yang kuberi.

“Baiklah, aku akan membangunkan Peter,” kataku kemudian, cepat.

Kubangunkan Peter dengan cara menepuk-nepuk pipinya pelan. Anak itu menggeliat dengan malas sebelum matanya terbuka secara sempurna.

“Nenek menunggumu di telepon.”

Tidak seperti dugaanku, Peter bangkit dan melesat ke ruang tengah. Tangannya dengan gesit menyambar horn telepon. Ibu dan anakku berbicara di telepon.

Aku merasa tidak perlu menguping. Tidak perlu kuketahui apa yang sedang dibicarakan seorang nenek dengan cucunya.

“Kurasa Ibu sangat rindu pada Peter,” kata istriku, setelah aku duduk disampingnya dan menghadapi layar tivi yang menyala.

“Mungkin.”

“Hampir lima tahun mereka tidak pernah bertemu.”

Kami pulang kampung, saat umur Peter lima tahun. Persisnya lima tahun lalu. Itu berarti ketika Priska belum lahir.

“Peter tidak terlalu mengenal ibu, tapi mereka sangat akrab sekali di telepon.”

“Pasti Peter juga rindu pada ibu.”

Mungkin juga, pikirku. Peter hanya punya satu nenek, yaitu ibuku. Peter sama sekali tidak punya kakek. Keduanya sudah meninggal jauh sebelum Peter lahir.

“Mungkin kita perlu menyusun rencana untuk pulang ke kampung. Menjenguk ibu.”

Aku diam. Menyusun rencana sangat gampang. Untuk merealisasikan sungguh butuh perjuangan. Bukan hanya masalah waktu, terlebih pastilah dana. Pulang kampung, tidak cukup dengan menyimpan uang untuk ongkos pulang dan sedikit oleh-oleh.

Sesungguhnya, pengeluaran untuk ongkos tidak ada artinya dibandingkan pengeluaran untuk membeli oleh-oleh. Begitu kami tiba di kampung, para tetangga dan kerabat akan datang ke rumah. Menyalami kami. Sungguh memalukan untukku terlebih ibu jika tidak menghidangkan makanan yang kami bawa dari tanah rantau dan membungkus untuk mereka bawa pulang. Di lain hari, aku juga layak memotong ternak dan menjamu para tetangga dan keluarga. Itu sebagai bukti aku tidak melarat di tanah rantau.

Jangan pernah pulang ke kampung jika tidak membawa uang. Kata itu tidak pernah diucapkan seseorang, tapi sangat jelas diketahui para perantau.

Hampir dua puluh menit kemudian, Peter menemui kami. Aku tidak hendak bertanya apa-apa. Justru istriku yang bertanya.

“Apa kata nenek?”

“Aku harus rajin sekolah. Tidak boleh nakal.”

“Itu saja?”

“Nenek ingin melihat wajahku. Melihat langsung. Tidak hanya dalam foto atau video. Untuk yang terakhir kalinya.”

Aku dan istriku saling menjual pandang. Sungguh, hatiku bergoyang seperti ditiup angin musim gugur mendengarnya. Aku melirik bulu tanganku yang berdiri. Lima belas tahun yang lalu, ibu juga memintaku pulang. Katanya ayah sangat ingin bertemu denganku. Hanya dua minggu setelah aku kembali dari kampung, nafas ayah berhenti.

Sekarang, ibu tidak meminta kami pulang, karena mungkin ibu mengerti tentang keuangan kami. Justru tiga hari berturut-turut, ibu selalu menelepon dan berbicara lumayan lama dengan Peter dan berkata ingin bertemu untuk terakhir kalinya, memaksa akalku terhempas. Ibu akan pergi, menyusul ayah?

“Nenek meminta kita pulang ke kampung?” tanya istriku.

“Nenek tidak bilang begitu.”

Ibu tidak bilang. Aku yakin, di palung hatinya, ibu ingin kami pulang. Melihat Peter. Bertemu Priska yang belum pernah disentuhnya.

*****

Ketika malam ini telepon berbunyi lagi, aku yakin itu dari ibu. Tanpa melihat jam yang menggantung di dinding, aku seperti melompat mengangkat gagang telepon.

Suara ibu menelusup pada gendang telingaku. Entah mengapa, kali ini terasa lain. Mungkin hanya perasaanku saja karena mendengar ucapan Peter semalam.

“Ibu sehat-sehat saja?”

“Tentu saja, ibu sangat sehat.”

“Syukurlah.”

“Memangnya kau dengar suaraku seperti suara orang yang sedang sekarat?”

“Tidak, ibu. Ibu harus bicara padaku jika merasakan sesuatu pada tubuh ibu. Jangan ibu pendam sendiri.”

“Ibu sangat sehat. Kau dengar itu?” Tanpa sadar aku mengangguk tanpa memberi suara.

“Peter belum tidur, kan? Sengaja malam ini aku menelepon lebih cepat.”

“Belum, Ibu. Peter sengaja menunggu telepon dari ibu. Katanya, ibu sudah berjanji akan meneleponnya malam ini.” Ibuku tertawa.

“Cepatlah panggil Peter. Akhir-akhir ini rinduku tidak pernah habis kepadanya. Kupikir tidak mengapa meneleponnya setiap malam. Selagi kami masih bisa berbicara.”

Aku menggigit bibir. Jangan. Ibu jangan berbicara seperti itu. Umur Ibu masih sangat panjang. Memang tidak sepanjang umur matahari, tapi juga tidak sesingkat umur kalender yang menggantung di dinding. Ibu tidak akan pergi, sebelum kuberikan apa yang layak ibu terima sebagai seorang ibu sekaligus juga ayah.

“Mana Peter?”

“Tunggu. Tunggu sebentar, Ibu!”

Ibu dan anakku berbicara lagi di telepon. Kali ini aku berusaha mendengar apa yang mereka bincangkan. Memang aku hanya mendengar suara Peter. Itu sudah sangat cukup bagiku untuk mengetahui hal apa yang mereka bincangkan.

Aku gagal menebak, apa yang ibu katakan, ketika Peter hanya mengangguk-angguk mendengar. Cukup lama sekali. Kurasa ketika itu, ibu memberikan semacam wejangan kepada Peter. Anakku mendengar dengan takjim sekali.

“Nenek bercerita tentang surga,” kata Peter, setelah pembicaraan mereka berakhir dua puluh menit kemudian.

Aku dan istriku berpandangan, dengan kening mengerut.

“Kata Nenek, di surga tidak ada kejahatan. Karena hanya orang baik berada di surga. Kita juga tidak harus takut, jika harus berada sendirian bersama orang-orang yang tidak kita kenal di sana. Karena akan ada malaikat bersama kita.”

Kubayangkan, ibu berada di surga. Dengan gaun putih yang panjang. Tentu saja Ibu tidak sendirian di sana, karena ada ayah yang menemaninya. Mungkin juga di punggung Ibu akan tumbuh sepasang sayap. Ibu akan menjadi malaikat.

“Apa benar surga itu indah, Pa?”

“Tentu saja.”

“Jadi benar yang dikatakan Nenek tentang surga?”

“Tentu saja.” Peter tersenyum. Kulihat dua buah bintang berkilau pada bola matanya. Dia masuk ke dalam kamarnya.

“Kita harus pulang, Bang. Sebelum terlambat.” Ujar istriku.

Ragu aku mengangguk. Yah, sebelum semua terlambat. Karena kematian, bukan seperti hendak naik kereta. Jika hari ini telat, kita masih bisa menaikinya pada keberangkatan selanjutnya. Kematian adalah waktu. Hanya satu kali melintas, tanpa pernah kembali.

****

Tiket pesawat untuk pulang ke Medan sudah kubeli. Sedikit oleh-oleh juga sudah ada. Kupikir, biarlah kami pulang dengan hanya sedikit oleh-oleh. Biar saja para tetangga tahu, jika kami tidak terlalu sukses di Jakarta ini.

Ibu yang terpenting. Aku harus bertemu Ibu sebelum beliau pergi. Rindu Ibu kepada Peter dan mungkin Priska harus dilunasi sebelum kepergiannya. Sungguh indah bisa membahagiakan orang tua, apalagi seorang ibu, sebelum ajal menggenggam nafasnya.

Sengaja tidak kuberi kabar tentang kepulangan kami. Agar ini menjadi kejutan buat Ibu.

Ternyata kami tidak bisa pulang. Sehari menjelang hari H, tiba-tiba kejadian menyakitkan menimpa Peter. Tubuhnya terserempet motor ketika pulang dari sekolah. Tidak ada luka yang berarti pada tubuhnya. Hanya kepalanya yang terbentur pada trotoar. Kurasa benturan itu sangat keras sekali. Malam kejadian Peter muntah-muntah, dan harus diopname di rumah sakit.

Peter terbaring lunglai di atas tempat tidur. Jarum infus menusuk pada pergelangan tangannya.

“Pa, aku melihat seseorang yang mirip diceritakan Nenek itu,” katanya lemah.

Kau jangan bodoh, Nak. Rumah kita adalah surga. Cepatlah sembuh. Kita pulang. Kembali ke surga kita.

“Pa, aku…… Dia mengajakku pergi.” Lalu matanya tertutup. Kupikir dia tertidur karena pengaruh obat-obatan yang tadi ditelannya, tapi nafasnya tak terbaca mataku. Dadanya rata tanpa pergerakan. Suhu tubuhnya berangsur menurun. Akhirnya aku tahu, Peter sudah pergi.

Aku tidak mau memercayainya.

Kemudian pintu kamar terhempas.

Ada Ibu di sana.

Ibu pasti tahu, dia tidak akan pernah bertemu Peter lagi.

Harian Analisa, 2 Mei 2010

Oleh : T. Sandi Situmorang

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: