RSS

Esok Yang Tak Pernah Singgah

17 Feb

Ternyata saya memang mencintainya. Setiap malam saya memikirkan ini, dan sekarang baru saya merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. Semakin saya mengenalnya, seakan saya tak bisa lepas lagi darinya. Michelle, saya sangat mengagumimu. Sosok yang begitu sederhana. Yah, alasan itulah yang selama ini membuat saya tak berani meneruskan rasa ini.

Saya, seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal, tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. Saya yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Saya yang terus berprestasi sepanjang masa studi hingga sekarang berkarir, tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. Enam bulan lebih saya tetap pada pemikiran saya itu. Sungguh, saya tak mungkin bersama dia. Apa kata dunia bila saya pacaran, dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara dengan saya? Dan saya yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya, di warung milik ayahnya.

Sampai hari ini tiba, keyakinan saya goyah. Yah, ternyata semua prediksi saya salah. Saya tak bisa melupakannya, sedetik pun. Terlebih akhir-akhir ini. Entah apa yang membuat saya begitu mengaguminya di antara gadis-gadis lainnya. Ada banyak pilihan buat saya, gadis selevel, pintar, berkarir, dari keluarga yang disegani, tapi saya tak pernah bisa memilih. Tak ada satu gadis pun yang sanggup menyita waktu dan pikiran saya seperti Michelle. Saya akui setahun yang lalu pernah berniat serius dengan salah satu branch office manager saya di kantor cabang daerah Surabaya. Dia pintar, disiplin, loyal, dan yang paling penting, dia juga berniat serius dengan saya. Tapi saya juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal, dan akhirnya saya membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnis saya. Yap, istilahnya, saya jadi mak comblang untuk orang yang katanya saya sayangi. Aneh bukan?

Akhirnya setelah saya mengenal Michelle, saya tahu jawabannya. Saya hanya mengagumi saja, bukan mencintai. Dan saya merasa berbeda dengan Michelle. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaan saya padanya, kenyataannya, saya mengakui sekarang. Saya sedang jatuh cinta!

—–

Saat itu saya melihatnya sedang membantu seorang nenek menyeberang di jalanan yang memang sangat ramai. Entah kenapa tiba-tiba saja saya menghentikan laju mobil dan memutuskan mengikutinya. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempat saya berdiri memandangnya. Pandangan saya terus mengikutinya. Dia sibuk melayani pembeli. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja, mengantar pesanan, menerima pembayaran dari pembeli, sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya.

Tanpa sadar, hampir dua jam saya di sana memandangnya. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. Saya tetap berdiri di sana, sampai pada hari ke delapan pengintaian, saya memutuskan untuk makan di warung itu. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya saya tak pernah makan di pinggir jalan. Saya termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Tapi toh, akhirnya saya masuk juga, dan mulai memilih makanan apa yang akan saya santap.

Dia datang, menawarkan menu andalan warungnya. Saya mengikuti sarannya, es kelapa muda dan soto babat tapi tanpa nasi, karena saya tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Dia berlalu, melayani pesanan saya dengan bantuan seorang lelaki paruh baya yang akhirnya saya kenal sebagai ayahnya. Saat dia datang lagi dengan pesanan itu, saya benar-benar tak mengerti apa yang membuat saya nekat melakukan ini. Dia biasa saja, sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Sampai saat saya melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Akrab sekali. Warungnya memang masih sepi, karena mungkin memang masih terlalu pagi. Dan saya memang sengaja memilih waktu ini agar bisa menemukan jawaban atas kelakuan aneh saya seminggu ini.

Akhirnya saya temukan. Kesahajaannya, semangatnya, rasa percaya dirinya, keramahannya, juga senyumnya. Saya terpesona pada dirinya. Hingga berbulan-bulan saya selalu sarapan di warung itu, berkenalan dengan ayahnya. Membicarakan obrolan-obrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar, hingga cerita soal keluarganya. Ternyata ayah Michelle, open mind person, berwawasan, dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. Saya tak pernah canggung dibuatnya. Dari obrolan biasa, hingga masalah serius menyangkut masa depan diri saya bicarakan padanya. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Saya seakan merasa begitu dekat dengan mereka, di samping perasaan lain yang saya rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle.

Tapi seperti apa yang saya ungkap sebelumnya, saya tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta, hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Tapi pagi ini, setelah semalaman saya berpikir keras, saya akan mengubahnya. Yah, saya sudah mantap pada pilihan ini. Saya sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. Studinya berhenti bukan karena otak Michelle tak mampu, tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Banyak yang dia tahu, termasuk masalah komputer. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, membuat saya semakin tak bisa melepas pesonanya. Yah, hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Dan sekarang, saya ingin sekali membuatnya bahagia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Karena saya yakin sanggup menafkahinya, lahir dan batin, termasuk menyekolahkan kedua adiknya.

Saya semakin mantap dengan keputusan ini. Segera saya pacu Soluna hijau metalik dengan hati yang tak menentu. Kali ini saya berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle, agar dia yakin saya bisa mencukupi kebutuhan materinya. Selama ini saya memang tak mengenalkan diri saya yang menjadi direktur utama perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Yang mereka tahu saya hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. Saya tak berniat membohongi mereka, hanya saja saya tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang, tak perduli status sosial mereka. Dan itu menjadi satu bukti pada saya, bahwa mereka, terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang, berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekat saya.

——

Setelah tikungan itu saya akan segera sampai, tapi ups!!! Nyaris saja saya menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Untung saya cepat menguasai keadaan hingga mobil ini bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu.

Huff!! Saya menarik nafas lega. Saya keluar, hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja, hanya agak terkejut sedikit mungkin. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya, termasuk Michelle. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. Saya heran melihatnya. Nenek itu baik-baik saja, bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobil saya sambil meneteskan air matanya. Lirih juga terdengar dia menyebut nama saya. Lalu datang ayah Michelle, melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Saya tak mengerti.

Segera saja saya dekati Michelle, gadis yang ingin saya nikahi itu. Saya tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Tapi seakan dia tak melihat saya, lalu berlari mendekati mobil saya. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobil, menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobil saya. Saya heran, dan berjalan mendekat. Melihat Michelle yang masih terus menangis, juga ayahnya. Lalu saya melihat wajah itu, penuh darah, tapi saya masih bisa mengenalinya. Dia adalah saya…

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: