RSS

A Night Before Wedding

17 Feb

Malam sebelum pernikahan adalah malam dimana pengakuan akan kasih sayang, penyesalan serta harapan kedua orang tua di sampaikan. Malam indah yang penuh makna. Malam dimana orang tua akan bersiap untuk melepas tangan putri tercinta dan memberikannya kepada sang pangeran impian.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Suara-suara perbincangan para sanak saudara yang malam ini menginap di rumah Om Yousouf dan Tante Munira semakin lama terdengar semakin mengasyikkan. Tak lama berselang tampak kedua tuan rumah tersebut berkeliling dan mengingatkan para sanak saudaranya untuk tidur cepat malam ini.

“Besok kita berangkat jam 6.30 pagi dari rumah. Pernikahan akan di mulai pukul 8 pagi,” ujar Tuan Yousouf.

“Jangan sampai telat ya. Sayang banget lho kalau tidak bisa menyaksikan pernikahan Nadine,” Tante Munira menambahi.

Ucapan kedua tuan rumah segera diamini oleh para sanak saudara. Segera mereka bergegas meninggalkan tempat perbincangan dan masuk ke dalam kamar-kamar yang khusus disediakan untuk para tamu.

Ucapan Tante Munira ada benarnya. Tidak ada seorang pun dari kami, anggota keluarga besar, yang mau melewatkan moment terpenting dari keponakan dan sepupu kesayangan yang tercinta, Nadine. Sejurus kemudian kesunyian pun mulai merayapi setiap sudut di rumah keluarga Yousouf. Samar-samar yang terdengar hanyalah langkah kaki kedua tuan rumah dan langkah kakiku, tentu saja.

Malam itu, meskipun Om dan Tante sudah meminta semua orang untuk pergi tidur, diam-diam aku pergi menyelinap keluar kamar dan mengikuti pasangan suami istri itu. Rasa penasaranku akan apa yang akan dibicarakan orang tua di malam sebelum anak mereka menikah, membuatku nekat berjingkat-jingkat keluar kamar. Di tengah geliat, aku sempat mendengar percakapan Om dan Tante yang bergegas menemui Nadine di ruang keluarga yang terletak di lantai dua rumah mewah itu.

“Papa rasa mereka semua telah tertidur. Bagaimana dengan Nadine? Apakah Mama sudah mengingatkan dia untuk tidur lebih awal malam ini?” ujar Tuan Yousef pelan.

“Sudah Pa, tapi Mama rasa dia tidak akan tidur malam ini. Besok adalah moment terpenting dalam hidupnya. Gadis kecil kita pasti akan merasa sangat tegang malam ini.”

Tuan Yousef terdiam sesaat sembari mengerenyitkan dahi. Sejurus kemudian ia menatap sang istri dan menggandeng tangannya.

“Ma, temani Papa menemui Nadine ya. Ada beberapa hal yang hendak Papa sampaikan pada putri kecil kita malam ini.” Tante Munira terdiam dan mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca. Dengan sudah payah ia menahan agar air mata itu tidak jatuh membasahi pipi.

******

Kalau saja ada suatu dosa yang Tuhan ijinkan untuk tidak kusesali seumur hidup, maka dosa itu adalah dosa karena menyelinap dan bersembunyi di balik korden besar yang terletak di ruang keluarga Yousouf. Di rumah mewah yang luasnya hampir 2000 meter persegi dan bertingkat dua itu, ruang keluarga di desain dengan sangat elegan. Lukisan Monet, guci serta vas mahal menghiasi dinding serta deretan lemari pajangan. Hamparan permadani persia tergelar di lantai. Korden-korden sutra besar dan panjang berjuntai di setiap jendela.

Dengan tubuh ceking dan badan yang tidak terlalu tinggi, penyelinapanku di antara korden sutra itu berjalan dengan mulus. Secara leluasa aku bisa mendengar percakapan diantara mereka.

Pertemuan di antara ketiga orang tersebut berlangsung dengan keheningan sesaat. Baik Nadine maupun kedua orang tuanya seakan-akan tidak tahu harus memulai dari mana. Ketika akhirnya mereka mulai berbicara, percakapan mereka berisi hal-hal yang tidak penting.

Om Yousouf tampak gugup dengan menanyakan hal-hal membosankan seputar masa kecil Nadine. Mengenai kenangan Nadine dari mulai masuk TK sampai kuliah. Bagaimana dengan prestasinya semasa itu, dan kenangan indah apa yang paling berkesan baginya. Sebuah pertanyaan aneh yang semestinya tidak diajukan seorang ayah kepada putrinya. Bukankah Om Yousouf itu adalah orang tua Nadine, mengapa ia mengajukan pertanyaan yang ia sendiri sudah mengetahui jawabannya. Sungguh semua itu membuatku merasa sangat bosan.

Senada dengan Om Yousouf, Tante Munira juga melakukan hal yang sama persis. Ia mulai menanyakan tentang mimpi semasa kecil Nadine. Tentang impian Nadine semasa kecil untuk memakai Lehengga ( baju khas India dengan detail yang indah, digunakan untuk pesta dan pernikahan) di hari pernikahannya. Namun pada kenyataannya kebaya pengantinlah yang akan digunakan untuk resepsi pernikahan nanti. Keinginan Nadine untuk bisa menyelenggarakan resepsi pernikahan dengan biaya sendiri serta kemajuan karir Nadine selama ini.

Semua pertanyaan yang menurutku cukup membuat Nadine bosan dan mengantuk. Dari balik korden yang besar, mata ini sempat menangkap pandangan lesu Nadine. Senyumannya tampak lemah. Sebagai seorang sepupu yang sangat dekat dengannya, aku tahu bahwa pembicaraan semacam itu akan membuatnya jengkel. Nadine yang kukenal adalah seorang anak yang kalau bicara blak-blakkan namun di saat yang sama ia juga bisa menjadi sangat pendiam. Terutama bila harus bersandiwara untuk menjaga perasaan orang tua. Aku sudah tidak sabar ketika Om Yousouf akhirnya sampai pada subjek yang sebenarnya.

“Nadine, Ayah dan Ibu mendengar kau telah membuat sendiri gaun pengantin Lehengga impianmu. Dan kami juga mendengar bahwa kau dan Hadi ( calon suami Nadine) menolak pemberian kami akan seluruh hadiah yang akan diberikan para tamu pada hari pernikahan kalian.”

Ada kehening sejenak. Tergambar jelas di wajahnya yang cantik, bahwa sepupuku itu tidak suka dengan pertanyaan yang di ajukan. Nadine tidak segera menjawab. Senyum keterpaksaan ia berikan untuk menutupi gemuruh perasaan.

“Ya Ayah, itu memang benar. Aku memang membuatnya sebagai salah satu koleksi pribadiku. Sebagai kenang-kenangan untuk masa depan nanti. Untuk diwariskan kepada anak cucuku,” jawab Nadine dengan setengah bercanda. Canda itupun sepertinya terlihat seperti sesuatu yang ia paksakan. Tidak ada sinar kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah itu.

Tante Munira terbatuk kemudian mulai berbicara dengan ragu-ragu.

“Nadine sayang, anggaplah Ayah dan Ibu sebagai sahabatmu. Dan sebagai orang tua sekaligus sahabat, kami disini mendukung apapun keputusan yang mungkin kau buat, mengenai keinginan apa pun.”

“Ibumu berkata benar,” ujar Om Yousouf cepat.

Tante Munira melanjutkan, “Nadine, setiap wanita pasti memiliki banyak mimpi. Namun mimpi yang terbesar adalah mimpi menjadi ratu di hari pernikahan mereka. Apakah kau tidak ingin mewujudkan mimpimu, anakku? Ibu tahu kau sangat ingin memakai Lehengga di hari pernikahan nanti.”

Suasana menjadi sangat hening. Ketiga orang itu kembali terdiam. Om Yousouf dan Tante Munira saling berpandangan sebelum akhirnya menatap kembali wajah sang putri tercinta. Nadine tidak menjawab, tertunduk dan memainkan kuku. Nadine sudah pasti tidak suka bila rahasia kecilnya dicampuri oleh orang lain, meski itu orang tuanya sendiri. Namun karena ia merasa sudah waktunya, maka dengan sangat terpaksa Nadine pun mulai bicara.

“Nadine sudah memilih dan memutuskan untuk mengikuti semua keinginan terakhir Ayah dan Ibu, sebelum melepas Nadine ke dalam perlindungan orang lain. Selama ini Ibu selalu bilang ingin melihat putrinya menikah dengan kebaya putih yang indah. Dan Ayah juga selalu menginginkan agar semua anak-anaknya hidup mandiri. Karena itu Nadine dan Hadi sudah memutuskan untuk memberikan kembali hadiah pernikahan yang kelak akan diberikan oleh para tamu undangan.”

Kebekuan mulai menghampiri pasangan suami istri itu. Airmata mulai menggenangi pelupuk mata keduanya. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya kebekuan yang kian mendalam. Kebekuan itu kini menular kedalam lubuk hatiku, hingga membuatku hampir menangis

“Nadine, ujar Om Yousouf pelan. “Nadine, sungguh kami sangat mencintaimu. Ayah dan Ibu….kami…” Om Yousef tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Suaranya tercekat. Airmata kini mengalir deras di antara kedua pipi. Suatu pemandangan yang bagiku sangat jarang terlihat. Tangisan seorang ayah.

Paman Yousouf kembali berusaha untuk tenang, mengatur emosi, kemudian di lanjutkan kembali kata-katanya.

“Kami tahu kau tidak akan pernah bisa memaafkan kejadian yang telah lalu. Dan kami pun tidak akan berharap kau akan memaafkan. Hanya satu hal yang ingin Ayah sampaikan padamu, Nak. Kau adalah putri kecil kami, gadis kecil kesayangan kami dan sampai kapanpun perasaan sayang kami padamu tidak akan pernah berubah.”

“Ayahmu berkata benar, Sayang.” Dengan wajah sendu, Tante Munira menatap sedih ke arah putri kesayangannya. Sejurus kemudian ia bangkit, berjalan ke arah yang berlawanan dan mendudukkan dirinya di samping Nadine. Digenggamnya tangan sang putri, lalu dipandangnya wajah cantik itu lekat-lekat.

“Sungguh Ibu menyesal karena tidak pernah berusaha untuk memahamimu, Sayang. Ibu tidak pernah tahu betapa besar beban yang kau dapatkan. Ibu juga tidak pernah merasa membeda-bedakan kasih sayang antara kau dan saudara-saudaramu.”

“Ibu sudahlah, jangan di teruskan lagi,” potong Nadine lirih.

“Ibu tidak pernah menyadari bahwa selama ini Ibu sudah berlaku tidak adil padamu. Kalau saja waktu bisa diulang, Ibu akan memberikan semua yang tidak pernah kau dapatkan,” ucapan lirih Tante Munira kini berubah menjadi tangis sesegukan. Penyesalan akan sikapnya di masa lalu kepada sang putri sulung telah menjadi hal yang tidak termaafkan bagi dirinya.

Berhari-hari ia sakit menderita tekanan darah tinggi akibat pikiran yang meresahkan. Dokter yang merawatnya, mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyembuhkan Tante adalah menghilangkan keresahan hatinya. Melalui Ibuku, yang merupakan kakak kandung sekaligus sahabat terdekatnya, Tante Munira menceritakan ikhwal penyebab keresahan hatinya.

*******

Semua itu berawal dari kejadian di suatu pagi, ketika Nadine masih bekerja di luar negeri. Pagi itu ketika seorang pelayan baru sedang membersihkan kamar sang putri, ia menemukan sebuah buku diari tua yang sudah agak kotor karena terkena debu. Karena pelayan baru itu menemukannya di selip-selip tempat tidur Nadine, ia mengira diari itu barang penting dan segan untuk membuangnya. Alih-alih membuangnya ke tong sampah, ia malah memberikannya kepada Tante Munira.

Sikap Nadine yang saat itu di anggapnya sebagai pemberontakan, karena tetap ngotot ingin bekerja di luar negeri- meski disarankan untuk tetap tinggal di Jakarta oleh keluarga, membuat Tante Munira dan Tuan Yousouf melepasnya dengan setengah hati. Dengan sikap yang dipaksakan mereka memberi ijin kepada sang putri untuk bertolak menuju Inggris. Tanpa mereka tahu bahwa kepergian Nadine ke Inggris semata-mata hanyalah untuk pelarian dari beban hati yang selama ini menghimpitnya.

Melalui lembar demi lembar diari, curahan hati Nadine yang sebenarnya mulai terkuak. Bahwa putri kecil mereka merasa bahwa kedua orang tuanya tidak pernah bisa memahami sikapnya yang pemalu serta perasa itu. Tentang perjuangannya untuk bisa mandiri tanpa meminta bantuan kedua orang tuanya. Sikap mandiri yang sudah dimulai olehnya secara diam-diam sejak usia 14 tahun.

Tak pernah di sadari oleh Om Yousouf dan Tante Munira bahwa ketika remaja dulu putrinya sering pulang malam adalah karena ia bekerja part time sebagai seorang pelayan di sebuah Food Court. Semua ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan pelajaran sekolahnya sendiri. Mereka mengira Nadine mengikuti kursus di suatu bimbingan belajar. Semua itu berlangsung hingga ia kuliah dan mendapatkan beasiswa dari perusahaan internasional.

Meski tergolong sebagai anak yang pintar dan berprestasi, semua kelebihan Nadine itu hilang tak berbekas ditelan oleh prestasi saudara-saudaranya yang lain. Sikap kedua orang tua yang lebih membanggakan kedua adik, ketimbang dirinya, membuat secercah rasa iri menghinggapi hatinya. Dan hal ini berlangsung selama bertahun-tahun.

Nadine yang malang. Sikapnya yang pendiam serta lebih suka menyimpan semua permasalahan sendiri ketimbang membaginya bersama orang lain, telah menyebabkan dirinya tumbuh menjadi gadis yang tidak matang secara emosional. Sebuah masalah kecil bisa membuatnya menangis, di sisi lain dalam menangani masalah besar ia terlihat tampak lebih tenang dan menyingkapinya dengan penuh kedewasaan.

Perang dingin yang terjadi di antara orang tua dan anak tersebut terlihat semakin menyedihkan ketika sepulangnya Nadine dari Inggris, ia memutuskan untuk membeli sebuah rumah mungil yang dijual dengan harga murah, terletak beberapa blok dari rumah keluarga Yousouf. Pembelian rumah mungil itu mengisyaratkan bahwa keinginan Nadine untuk hidup mandiri, terpisah dari kedua orang tuanya, sudah berhasil ia wujudkan.

Bisa di bayangkan bagaimana reaksi Om Yousouf dan Tante Munira. Habis-habisan mereka membujuk sang putri untuk tetap tinggal di rumah meski ia sudah memiliki tempat tinggal yang lain. Meski awalnya Nadine enggan menuruti keinginan kedua orang tuanya, pada akhirnya ia mau mengalah juga. Kebaktian serta kepatuhannya pada perintah agama dan orang tualah yang membuat sepupuku itu mengalah.

******

“Apakah Ayah dan Ibu sudah lupa kalau saya biasa hidup sendiri?” Pertanyaan Nadine seketika itu juga memecah keheningan dan menghentikan isak tangis pasangan suami istri ini. Tidak ada jawaban yang terlontar dari bibir keduanya. Hanya wajah penuh sesal yang di berikan.

“Ingatkah Ayah ketika saya berusia 13 tahun? saat itu Ayah dan Ibu mengatakan ingin memiliki anak yang mandiri serta tidak menyusahkan orang lain. Sebagai seorang anak saya merasa sangat terpacu untuk mewujudkan keinginan itu. Berusaha menjadi yang terbaik untuk menjadi kebanggan orang tua. Karena sejak kecil saya dan Hadi sudah biasa hidup dengan usaha sendiri, maka dengan dasar itulah kami memutuskan untuk memberikan kembali hadiah-hadiah pernikahan itu kepada Ayah dan Ibu.””

Lalu ingatkah Ibu ketika saya pertama kali menerima beasiswa dari perusahaan internasional? Saat itu Ibu tersenyum dengan penuh bahagia dan langsung memberitahukan hal itu kepada semua sanak saudara. Sungguh suatu kenangan indah yang tidak akan terlupakan.”

“Bagaimana mungkin saya bisa membenci kalian? Demi Tuhan, saya sudah melewati banyak kenangan indah dengan orang tua terbaik serta adik-adik tercinta yang ada di muka bumi ini. Dengan kasih sayang kalianlah maka bayi kecil itu kini telah tumbuh menjadi seorang Nadine Yousouf.”

“Sungguh betapa beruntungnya saya telah memiliki keluarga yang mencintai anak-anaknya tanpa membedakan. Keikhlasan hati Ibu dan Ayah untuk melepas diri ini kepada pangeran impian adalah bukti cinta terbesar yang pernah Nadine dapatkan. Nadine sayang sama Ibu dan Ayah.”

Sebuah pelukan hangat dan ciuman pipi diberikan oleh Nadine kepada kedua orang tuanya. Suasana haru yang berhembus ke seluruh sudut ruang, membuat dadaku sesak karena menahan tangis. Tak lama kemudian, ketiga orang tersebut segera berpamitan, mengucapkan selamat tidur dan pergi meninggalkan ruangan. Tinggallah aku sendiri yang menangis sesegukan di balik korden besar itu. Sungguh malam itu adalah malam yang tidak akan pernah terlupakan tidak hanya untuk sepupu Nadine, namun juga bagi sang penyelinap nakal ini.

******

Dentingan suara jam dinding sebanyak enam kali, memberi isyarat bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Semua orang tengah sibuk bersiap memakai pakaian terbaik mereka. Beberapa dari para sepupu yang masih remaja terlihat sibuk menata diri mereka secantik mungkin. Hiruk pikuk para sanak saudara serta para supir yang bersiap untuk berangkat ke gedung tempat dimana pernikahan Nadine akan berlangsung, terlihat semakin memuncak.

Keriuhan semakin menjadi-jadi ketika Manisha, perias pengantin yang mendandani Nadine, tidak dapat menemukan dua pasang kebaya pengantin berwarna putih dan merah muda yang akan di kenakan calon mempelai saat upacara pernikahan berlangsung.

Manisha berteriak histeris, nyaris pingsan. Ia merasa yakin telah menaruh kebaya-kebaya mewah tersebut di salah satu kamar tamu yang telah dikhususkan untuk persiapan rias pengantin. Entah kenapa tiba-tiba saja kebaya-kebaya yang baru ia siapkan kemarin malam itu kini hilang tak berbekas bagai ditelan bumi.

Lain Manisha, lain pula Nadine. Dengan sikap tenang, penuh dengan kedewasaan, ia meminta Manisha untuk mencarinya di ruangan lain.

“Mungkin kebaya itu di pindahkan ke tempat lain,” ujar Nadine menenangkan.

Karena gugup ataupun takut disalahkan atas hilangnya kebaya-kebaya tersebut, Manisha meminta semua pelayan dan sanak saudara yang tertinggal untuk membantunya. Namun belum sempat hal itu di lakukan, Tante Munira datang dan melarangnya untuk melanjutkan pencarian.

Dengan mengejutkan, Tante Munira mengatakan pada semua orang yang berada di ruang rias tersebut bahwa hari ini Nadine akan menikah dengan memakai Lehengga pengantin berwana merah muda yang dirancang sendiri oleh sang putri. Ucapan Tante segera di amini oleh Om Yousouf yang berdiri di sampingnya.

Seorang pelayan wanita datang dengan membawa lehengga pengantin milik Nadine, sementara pelayan yang satunya lagi membawa sebuah kotak perhiasan yang berisikan payal ( gelang), Jhoda pin ( hiasan kepala) dan sebuah kalung indah yang terbuat dari campuran emas dan berlian.

Nadine berdiri dengan sikap tidak percaya. Sinar matanya memancarkan kebahagiaan yang tidak terkira. Senyum manis pun mengembang tiada henti. Bagi Nadine, tiada impian yang lebih indah selain mengenakan Lehengga di hari terpenting dalam hidupnya.

“Hanya ini yang dapat kami lakukan untuk membahagiakanmu, Sayang, ujar Tante Munira dengan penuh haru.

“Kami selalu mencintai dan mendukungmu, apapun keputusanmu, Sayang,” Om Yousouf menambahkan. Sebuah pelukan hangat di berikan secara bergantian oleh pasangan suami istri ini.

“Terima kasih Ayah, Ibu. Aku selalu mencintai kalian.”

*****

Pesta pernikahan Nadine dan Hadi berlangsung dengan meriah. Aura kebahagiaan menyebar, meresapi setiap hati tamu undangan yang datang untuk memberikan doa restu. Dengan penuh doa dan harapan, kedua orang tua mempelai menemani putra- putri mereka dalam panggung kebahagiaan, sesaat sebelum mereka melepaskannya ke dalam kehidupan baru. Sungguh, belum pernah aku menghadiri pesta pernikahan yang memiliki kenangan seindah ini.

Itulah akhir dari sebuah kisah indah mengenai malam sebelum pernikahan yang telah aku alami. Semoga Tuhan kelak akan memberikanku kisah indah yang lain, bila malam sebelum pernikahan itu tiba. Amin.

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Cerpen

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: