RSS

Category Archives: Pembelajaran Bahasa Indonesia

Semiotika

Semiotik Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia

Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.
Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. “Penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata Saussure. Louis Hjelmslev, seorang penganut Saussurean berpandangan bahwa sebuah tanda tidak hanya mengandung hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Bagi Hjelmslev, sebuah tanda lebih merupakan self-reflective dalam artian bahwa sebuah penanda dan sebuah petanda masing-masing harus secara berturut-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Louis Hjelmslev dikenal dengan teori metasemiotik (scientific semiotics). Sama halnya dengan Hjelmslev, Roland Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktivan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama.

1. signifier(penanda)
2. signified(petanda)
3. denotative sign (tanda denotatif)
4. CONNOTATIVE SIGNIFIER(PENANDA KONOTATIF)
5. CONNOTATIVE SIGNIFIED(PETANDA KONOTATIF)
6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22). Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Berbeda dengan para ahli yang sudah dikemukakan di atas, Charles Sanders Peirce, seorang filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme melalui kajian semiotik. Bagi Peirce, tanda “is something which stands to somebody for something in some respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object, dan interpretant (lihat gambar 3). Atas dasar hubungan ini, Peirce membuat klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Sedangkan legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Peirce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu: sintaksis semiotik, semantik semiotik, dan pragmatik semiotik. Sintaksis semiotik mempelajari hubungan antartanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda yang berlainan, akan tetapi keduanya saling bekerja sama dalam membentuk keutuhan wacana iklan. Semantik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana. Pragmatik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda. Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan; misalnya foto. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan; misalnya asap sebagai tanda adanya api. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut simbol. Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer, hubungan berdasarkan konvensi masyarakat. Berdasarkan interpretant, tanda (sign, representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau dicisign dan argument. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Dicent sign atau dicisign adalah tanda sesuai dengan kenyataan. Sedangkan argument adalah yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu.

 
 

Mengenal Karya Sastra Lama Indonesia

Kesusastraan berasal dari bahasa Sanskerta sastra yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Kesusastraan juga didefinisikan sebagai ilmu atau pengetahuan tentang segala hal yang bertalian dengan susastra. Kesusastraan di Indonesia terbagi dalam dua zaman. Zaman Kesusastraan Lama dan Zaman Kesusastraan Baru. Masing-masing karya memiliki ciri khas tersendiri.

Karya sastra lama lahir dalam masyarakat lama pada zamannya. Masyarakat pada waktu itu masih memegang adat istiadat yang berlaku di daerahnya. Karya sastra lama biasanya bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat istiadat, serta ajaran-ajaran agama.

Karya sastra merupakan hasil cipta rasa manusia. Karya sastra lahir dari ekspresi jiwa seorang pengarang. Suatu hasil karya dikatakan memiliki nilai sastra jika isinya dapat menimbulkan perasaan haru, menggugah, kagum, dan mendapat tempat di hati pembacanya. Karya sastra seperti itu dapat dikatakan sebagai karya sastra yang adiluhung, yaitu karya yang dapat menembus ruang dan waktu.

Karya Sastra Lama atau Klasik

Karya sastra lama atau klasik lahir dan berkembang di lingkungan masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat dan lain-lain. Karya-karya kesusastraan lama sangat dipengarui oleh muatan lokal berupa adat istiadat dan budaya yang berlaku pada zamannya.

Di antara kesusastraan lama itu adalah pantun, hikayat, gurindam, dongeng, syair, dan tambo. Jenis-jenis sastra lama ini berpengaruh besar dalam perkembangan kesusastraan modern di Indonesia.

Pada umumnya, karya sastra zaman klasik cenderung menggunakan lisan sebagai media penyebarannya. Oleh karena itu, sebuah karya pantun atau dongeng tidak diketahui siapa pengarangnya. Cerita yang dilisankan itu menyebar dengan cepat ke berbagai pelosok dan kalangan.

Pantun

Pantun adalah salah satu jenis karya sastra lama. Pantun berkembang di masyarakat menggunakan media lisan. Pantun sering disebut sebagai sastra lisan. Penyebaran pantun dilakukan dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti siapa pengarang pantun. Dilihat dari bentuknya, pantun termasuk jenis puisi lama.

Pantun merupakan karangan yang terikat bentuk dan aturan. Terikat bentuk yang terdiri atas bait dan larik. Larik atau baris kesatu dan ketiga merupakan sampiran dan baris kedua dan keempat adalah isi pantun. Dilihat dari jenisnya, pantun ada beberapa jenis, yaitu pantun anak-anak, pantun remaja, dan pantun orang tua.

Contoh pantun:

sungguh elok asam belimbing
tumbuh dekat limau mangga

sungguh elok berbibir sumbing
walaupun marah tertawa juga

***

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Gurindam

Gurindam termasuk jenis puisi lama. Bentuknya hampir sama dengan pantun. Bentuk gurindam terdiri atas dua baris. Baris pertama berisi sejenis perjanjian atau syarat dan baris kedua menjadi akibat atau kejadian yang disebabkan dari isi baris pertama.

Contoh gurindam:

Barang siapa mengenal Allah,

Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

***

Barang siapa mengenal diri

Maka telah mengenal akan tuhan yang bahari.

***

Barang siapa mengenal dunia,

Tahulah ia barang yang terpedaya.

Gurindam yang terkenal adalah “Gurindam Dua Belas” karangan Raja Ali Haji. Gurindam merupakan puisi lama yang berirama dan berisi nasihat dan ajaran kebaikan.

Hikayat

Hikayat termasuk karya sastra lama yang berkembang dalam masyarakat secara turun temurun. Sebuah cerita hikayat biasanya berhubungan dengan kehidupan istana, kesaktian senjata, dan kehebatan tokoh ksatria.

Hikayat banyak tersebar di masyarakat. Hikayat kebanyakan ditemukan dalam media tulis, seperti kertas, daun, bambu, dan kulit binatang yang digunakan pada zaman dahulu.

Contoh hikayat:

• Hikayat Hang Tuah

• Hikayat Bayan Budiman

• Hikayat Patani

• Hikayat Raja Sulaiman

• Hikayat Hasanudin,

• Hikayat Undakan Penurat

• Hikayat Nur Muhamad

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Bunga Rampai Karya Sastra Angkatan 20

Pada paruh pertama abad ke-20, Hindia Belanda mengalami perubahan politik yang cukup ekstrem, ditandai dengan pergeresan bentuk perjuangan kemerdekaan yang mulai meninggalkan bentuk-bentuk revolusi fisik. Perjuangan bangsa bergerak ke bentuk perjuangan intelektual.

Perjuangan tersebut didukung dengan semakin banyaknya rakyat pribumi yang mengenyam pendidikan, bebas buta huruf, dan membuka mata terhadap pergaulan dunia. Perkembangan sastra pada dekade ini tampak mengalami kemajuan pesat, meninggalkan genre sastra lama yang didominasi pantun dan gurindam, cenderung istana sentris dan patriarkhi.

Seiring dengan perkembangan tersebut, tak bisa dihindari bahwa ruang baru kesusastraan menyisakan lorong hitam-gelap tempat menjamurnya karya-karya tulis yang rendah nilai estetika. Karya-karya tersebut, misalnya, adalah tulisan-tulisan cabul, pornografi, dan tulisan yang dinilai memiliki misi politis.

Angkatan 20 berawal dari sebuah lembaga kebudayaan milik pemerintah kolonial Belanda, bernama Volkslectuur, atau Balai Pustaka. Kelahirannya menjadi gairah baru bagi para sastrawan yang kemudian membentuk periode sastra tersendiri dalam perkembangan sastra Indonesia, dengan ciri yang khas, dan disebut Angkatan 20 atau Angkatan Balai Pustaka.

Pada era ini, banyak prosa dalam bentuk roman, novel, cerita pendek dan drama, yang diterbitkan dan menggeser kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat. Karya-karya tersebut diterbitkan dalam bahasa Melayu-Tinggi, Jawa dan Sunda, serta sejumlah kecil dalam bahasa Bali, Batak, dan Madura.

Sastrawan yang menonjol karya-karyanya dari angkatan ini adalah Nur Sutan Iskandar, sehingga mendapat julukan “Raja Angkatan Balai Pustaka.” Di samping itu, dominasi sastrawan yang berasal dari Minangkabau dan sebagian Sumatra memberi ciri yang unik pada karya sastra Angkatan 20.

Bunga Rampai Karya Sastra Angkatan 20

Berikut ini adalah beberapa karya Angkatan 20 berikut penulisnya, disusun berdasarkan tahun terbit:

* Azab dan Sengsara (Merari Siregar, 1920)
* Siti Nurbaya (Marah Roesli, 1922)
* Tanah Air (Muhammad Yamin, 1922)
* Tak Disangka (Tulis Sutan Sati, 1923)
* La Hami (Marah Roesli, 1924)
* Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (Nur Sutan Iskandar, 1923)
* Cinta yang Membawa Maut (Nur Sutan Iskandar, 1926)
* Darah Muda (Djamaluddin Adinegoro, 1927)
* Pertemuan (Abas Soetan Pamoentjak 1927)
* Salah Asuhan (Abdul Muis, 1928)
* Asmara Jaya (Djamaluddin Adinegoro, 1928)
* Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati, 1928)
* Indonesia, Tumpah Darahku (Muhammad Yamin, 1928)
* Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar, 1928)
* Binasa Kerna Gadis Priangan (Merari Siregar, 1931)
* Karena Mertua (Nur Sutan Iskandar, 1932)
* Tak Tahu Membalas Guna (Tulis Sutan Sati, 1932)
* Memutuskan Pertalian (Tulis Sutan Sati, 1932)
* Menebus Dosa (Aman Datuk Madjoindo, 1932)
* Tuba Dibalas dengan Susu (Nur Sutan Iskandar, 1933)
* Pertemuan Jodoh (Abdul Muis, 1933)
* Si Cebol Rindukan Bulan (Aman Datuk Madjoindo, 1934)
* Ken Arok dan Ken Dedes (Muhammad Yamin, 1934)
* Katak Hendak Menjadi Lembu (Nur Sutan Iskandar, 1935)
* Sampaikan Salamku Kepadanya (Aman Datuk Madjoindo, 1935)

Dan masih banyak lagi karya lainnya. Di antara karya tersebut, agaknya Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat menempati ruang tersendiri bagi kalangan pecinta sastra hingga saat sekarang. Kedua novel roman tersebut sempat diangkat ke layar televisi.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Beberapa Aliran Sastra

Artikel Terkait

* Contoh Esai Sastra: Kemat Jaran Guyang
* Mengenal Beberapa Novel Sastra Indonesia
* Deskripsi, Jenis Karangan Bahasa Indonesia
* Sastra Lama: Naskah Sastra Melayu Klasik

Karya sastra sebagai karya seni tidak akan terlepas dari pengaruh aliran yang melatarbelakangi lahirnya karya tersebut. Hal ini disadari atau tidak oleh pengarangnya, pengaruh aliran tersebut dapat dianalisis dalam karya sastra yang ditulisnya.

Menurut Korrie Layun Rampan, aliran sastra dapat diartikan sebagai hasil ekspresi para sastrawan yang meyakini bahwa jenis sastra yang mereka ciptakan itulah hasil sastra yang paling cocok untuk zamannya.

Jika hasil sastra sebelumnya dapat dianggap sastra konvensional, sastra yang mereka ciptakan kemudian dianggap sastra inkonvensional.
Berikut beberapa aliran dalam karya sastra.

1. Aliran Realisme

Realisme adalah aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya (real). Aliran ini berusaha menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif.

Analoginya, seperti cermin yang memantulkan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga pembaca seolah-olah melihat kenyataan tersebut secara kasat mata. Aliran realisme muncul pada abad ke-18, tetapi berkembang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kaum realis ini menetang romantisme yang dianggap cengeng dan berlebih-lebihan. Seniman yang dianggap sebagai tokoh realisme adalah Gustave Flaubert (1821-1889) dari Prancis.

2. Aliran Impresionisme

Impresionisme berarti pelahiran kembali kesan-kesan yang dirasakan oleh pengarang terhadap sesuatu yang dilihat atau dirasakannya. Menurut Suparman Natawidjaja, impresionisme adalah rentangan alur cerita atau persajakan berdasarkan kesan benda yang dilihat, kemudian diolah dalam sukma dan keluar dalam bentuk baru yang mengandung arti konotatif dan benda yang dilihat tadi.

3. Aliran Naturalisme

Naturalisme adalah aliran yang cenderung melukiskan kenyataan-kenyataan yang buruk, kejelekan-kejelekan atau kekurangan-kekurangan tentang keadaan masyarakat atau sifat manusia.

Tokoh-tokoh naturalisme mengungkapkan aspek-aspek alam semesta yang bersifat fatalistis dan mekanis. H.B. Jassin mengatakan bahwa naturalisme berdasarkan filsafat materialisme adalah pikiran bahwa apa yang bisa diraba dengan pancaindera itulah kebenaran.

Aliran naturalisme berkembang pada akhir abad ke-19. Orang yang pertama kali memperkenalkan aliran ini adalah Honore de Balzac lewat novelnya yang berjudul La Comedie Humaine dan Le Pere.

4. Aliran Ekspresionisme

Ekspresionisme dikembangkan oleh Gustave Flaubert, seorang pengarang Prancis. Aliran ekspresionisme merupakan aliran yang lebih mengungkapkan perasaan dan gejolak jiwa pengarangnya. Kaum ekspresionis ingin mengekspresikan inti dari kenyataan yang terlihat.

Pengaruh aliran ini sangat besar pada awal abad ke-20. Tokoh-tokoh terpenting dari aliran ini adalah Franz Kafka, Ernest Toller, George Kaisar, dan Fritz von Unruth.

5. Aliran Romantisme

Romantisme adalah aliran dalam karya sastra yang mengutamakan perasaan. Romantisme ini timbul sebagai reaksi terhadap rasionalisme yang menganggap segala rahasia alam bisa diselidiki dan diterangkan oleh akal manusia.

Romantisme dianggap sebagai aliran yang lebih mementingkan penggunaan bahasa yang indah, mengawang ke alam mimpi. Pengalaman romantisme adalah pengalaman yang hanya terjadi dalam angan-angan, seperti lamunan muda-mudi dengan kekasihnya.

Namun, ketika romantisme diolah dengan pengalaman yang dewasa dapat melahirkan karya agung seperti Romeo dan Yuliet karya William Shakespeare, Les Miserables karya Victor Hugo.

Beberapa karya sastrawan Indonesia yang dapat dikategorikan beraliran romantisme di antaranya Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Hilanglah si Anak Hilang karya Nasjah Djamin, dan Dewi Rimba karya Nur Sutan Iskandar.

6. Aliran Simbolisme

Simbolisme adalah aliran sastra yang menekankan pada simbol atau lambang dalam karya sastra mereka, terutama puisi. Aliran ini muncul pada akhir abad ke-19 sebagai reaksi terhadap realisme yang dianggap berlebih-lebihan. Tokoh aliran ini antara lain Charles Baudelaire, Stephane Mallarme, Paul Verlaine, dan Arthur Rimbaud.

Dasar pemikiran simbolisme adalah dunia objektif yang fana ini bukanlah kenyataan sejati, melainkan hanya banyangan dari kebenaran yang tak kelihatan. Kaum simbolis yakin bahwa kebenaran abadi hanya dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dilukiskan.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Naskah Sastra Lama Melayu klasik

Sastra Lama

Sastra Melayu klasik sering juga disebut sastra Indonesia lama karena ada periodisasi sejarah sastra yang membedakan antara sastra lama dan sastra modern. Jenis sastra ini berkembang sejak abad ke-16 Masehi. Sastra Melayu klasik bermula dari cerita lisan masyarakat secara turun-temurun atau leluri.

Dalam sastra ini, biasanya nama pengarang tidak dikenal (anonim) karena cerita berkembang dari kehidupan masyarakat yang belum pandai dalam hal baca tulis. Karya-karya yang beredar banyak berupa tuturan. Kemudian, setelah pandai melakukan baca tulis, barulah karya-karya tersebut dituangkan dalam tulisan naskah sastra Melayu klasik.

Pembagian Sastra Melayu Klasik

Sastra Melayu klasik dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan bentuk, isi, dan pengaruh asing. Jenis sastra yang didasarkan pada bentuknya yaitu puisi dan prosa. Puisi dan prosa pun dibagi menjadi dua ketagori, yakni puisi lama dan prosa lama.

Puisi lama adalah jenis puisi yang memperhitungkan segi-segi unsur pembentuknya seperti rima dan bait. Sementara prosa lama adalah cerita yang berkembang di masyarakat di suatu tempat, biasanya berbicara mengenai kehidupan seseorang, asal usul suatu tempat, kepercayaan, dan petuah. Cerita rakyat bersifat anonim, dikenal juga dengan istilah folklore.

Pembagian sastra Melayu klasik berdasarkan isinya meliputi sastra sejarah, sastra undang-undang, dan sastra petunjuk bagi raja atau penguasa.

Sastra sejarah adalah karya sastra yang bebricara mengenai keadaan zaman tertentu. Sastra undang-undang adalah karya sastra yang isinya berbicara mengenai aturan-aturan kehidupan bermasayarkat dan bernegara. Sastra petunjuk bagi raja adalah karya sastra yang dijadikan patokan bagi para raja atau penguasa kerajaan dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Sastra berdasarkan pengaruh asing, di antaranya sastra Indonesia asli, sastra Indonesia lama pengaruh Hindu, dan sastra Indonesia lama pengaruh Islam.

Sastra Indonesia asli yaitu karya sastra yang lahir secara murni dari Indonesia dan mengangkat persoalan-persoalan Indonesia. Sastra Indonesia pengaruh Hindu adalah karya sastra yang muncul setelah masuknya Hindu ke Indonesia dan mempengaruhi dari segi bahasa dan tema. Begitu pun sastra Indonesia pengaruh Islam.

Sastra Indonesia Lama Berdasarkan Bentuknya

Berikut ini merupakan pembagian puisi lama.

1. Mantra, bentuk puisi lama yang kata-katanya mengandung kekuatan gaib, biasa diucapkan oleh dukun, biasa digunakan dalam ritual keagamaan atau untuk menyembuhkan orang sakit.
2. Syair, bentuk puisi lama yang terdiri dari empat baris tiap baitnya, dan masing-masing berima sama, yakni a-a-a-a. Contohnya Syair Bidari Lahir.
3. Pantun, bentuk puisi lama yang terdiri dari empat baris; dua baris pertama berisi sampiran, dua baris berikutnya adalah isi; berima a-b-a-b atau a-a-a-a.
4. Gurindam, bentuk puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari dua baris yang saling berhubungan. Contohnya, Gurindam 12 karya Raja Ali Haji.
5. Talibun, bentuk puisi lama yang memiliki sampiran dan isi, terdiri dari 6-12 baris, berima abc, abcd.
6. Karmina, bentuk puisi lama yang terdiri dari dua baris, baris pertama sampiran dan baris kedua adalah isi.
7. Seloka, bentuk puisi lama yang terdiri dari empat baris; berisi petuah, nasihat atau sindiran.

Berdasarkan bentuknya, prosa sebagai karya sastra lama dibagi menjadi beberapa kelompok berikut.

1. Dongeng, berbicara mengenai sesuatu yang belum tentu terjadi, penuh unsur rekaan. Contohnya, Sangkuriang, Malin Kundang, Roro Jonggrang.
2. Legenda, berbicara mengenai asal-usul suatu tempat atau daerah. Misalnya, Tangkuban Perahu, Surabaya, Candi Prambanan.
3. Mitos, berbicara mengenai kepecayaan masyarakat terhadap sesuatu hal biasanya berkaiatan dengan alam gaib atau jin, setan, dan unsur-unsur magis. Contohnya, Ratu Pantai Selatan.
4. Fabel, berbicara mengenai kehidupan dan tingkah laku binatang.
5. Epos, berbicara mengenai kisah-kisah kepahlawanan.
6. Hikayat, berbicara mengenai cerita kehidupan sekitar istana atau anak raja.
7. Tambo, berbicara mengenai sejarah atau silsilah keturunan raja.
8. Wira carita, berbicara mengenai kepahlawanan dan pelakunya seorang yang tangguh, berani, dan berakhir dengan kemenangan.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Beberapa Novel Sastra Indonesia

Indonesia telah menghasilkan banyak karya sastra yang hebat, namun sayang tidak semuanya dikenal dengan baik oleh masyarakatnya sendiri. Inilah beberapa karya terbesar novel sastra Indonesia yang perlu kita kenal lebih dalam.

• Tetralogi Pulau Buru – Pramudya Ananta Toer

Tetralogi novel karya penulis yang dikenal dengan panggilan Pram ini terdiri atas: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Kisahnya mengenai kehidupan seorang pemuda, anak pejabat pribumi, bernama Minke.

Ia lalu berkenalan dengan Nyai Ontosoroh, seorang gundik orang Belanda yang memiliki seorang putra dan putri. Kisah cinta Minke dengan putri Nyai Ontosoroh dibalut dengan kompleksnya situasi masa kolonial menjadi cerita yang sangat menghanyutkan.

Sebagai seorang penulis pria, Pram sungguh apik mengemas karakter unik Nyai Ontosoroh menjadi salah satu karakter wanita paling berkesan dalam sastra Indonesia.

• Layar Terkembang – Sutan Takdir Alisjahbana

Ini dia salah satu roman paling klasik di dunia sastra Indonesia. Berkisah mengenai Tuti dan Maria, kakak beradik yang jatuh cinta pada pria yang sama. Meski begitu karakter mereka digambarkan bertolak belakang; Tuti adalah wanita yang powerful, serius dan bekerja sebagai aktivis feminis sedangkan Maria tipikal wanita supel yang sangat ‘girly’.

Yusuf, pria yang dicintai kedua wanita itu, akhirnya memilih bertunangan dengan Maria. Tuti ‘melarikan diri’ pada organisasi pergerakan wanitanya. Sangat drama, dan mungkin dibaca sekilas alurnya terasa klise, namun Sutan Takdir membahasakannya dengan sangat indah dan ketika membacanya kita pun mendapat suasana Indonesia pada masa itu dengan sangat hidup.

• Para Priyayi – Umar Kayam

Umar Kayam, lengkap dengan gaya khasnya yang sedikit satir, sedikit nakal; memiliki serangkaian karya yang patut dikenang. Salah satunya adalah novel Para Priyayi ini, yang menggambarkan ambisi kaum tani untuk menjadi ‘priyayi’. Ambisi ini diwakili oleh sosok Sudarsono, anak petani yang mengganti nama menjadi Sastro Darsono.

Berkat pendidikan, ia dapat naik ke ‘level’ yang lebih tinggi, menjadi seorang ‘priyayi’ lengkap dengan semua kesibukannya. Namun siapa sangka, keluarga besar yang ‘priyayi’ ini pada akhirnya akan diselamatkan oleh seorang anak luar nikah dari keponakan jauh Sastro Darsono.

• Azab dan Sengsara – Merari Siregar

Bagi kita sekarang mungkin novel ini terasa seperti drama tragedi biasa, semacam Romeo dan Juliet, namun Azab dan Sengsara bicara lebih banyak dari sekadar kasih tak sampai antara Aminudin dan Mariamin, yaitu kritik sosial atas budaya kawin paksa dalam adat Minang.

Karena masalah perbedaaan ekonomi, ayah Aminuddin tidak merestui rencana pernikahan anaknya. Ia bahkan sampai melibatkan dukun untuk mencegah pernikahan putranya dengan Mariamin. Keduanya dengan berat menikah dengan orang lain dan menjalani hidup yang penuh ketidakbahagiaan dan berakhir dengan kematian.

• Kerudung Merah Kirmizi – Remy Sylado

Pengarang dengan banyak nama alias ini merupakan satu dari sedikit orang yang bisa menulis novel dengan ukuran sangat tebal, namun sekali Anda mulai membaca, maka sungguh sulit untuk berhenti.

Dalam novel ini, konflik percintaan antara Mryna dan Luc hanyalah sebuah latar untuk pesan-pesan yang lebih kuat: kritik sosial dan reformasi. Bahkan tantangan yang dihadapi LSM-LSM digambarkan dengan cukup gamblang di sini, dengan adanya karakter Om Sam yang kejam.

• Sepotong Senja untuk Pacarku – Seno Gumira Ajidarma

Bagaimana jika langit senja yang indah dapat dipotong sebesar kartu pos, dan dikirim untuk seorang pacar yang dirindukan? Seno selalu punya ‘twist’ yang unik dalam kisahnya, dan tidak jarang ia mengangkat langit sore sebagai elemen dalam cerita. Sepotong Senja untuk Pacarku dikenal sebagai salah satu karya terbaiknya.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Macam-macam Majas

Majas menjadi unsur penting dalam sebuah karya tulis, khususnya puisi. Munculnya macam-macam majas ini dapat menjadi daya tarik puisi, mampu menimbulkan suasana segar, hidup, dan memberikan kejelasan dalam pencitraan. Majas mampu mengimbau indra pembaca karena sering lebih konkret daripada ungkapan harfiah. Selain itu, majas pun lebih ringkas daripada padanannya yang terungkap dalam kata biasa.

Menurut Perrine (dalam Waluyo, 1995: 83), penggunaan majas dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksud penyair. Hal tersebut disebabkan:

1. majas mampu memberi kesenangan imajinatif;
2. majas adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca;
3. majas adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair; dan
4. majas adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.

Berikut penjelasan mengenai macam-macam majas yang sering digunakan dalam karya tulis, terutama puisi dan prosa.

Perumpamaan (Simile)

Perumpamaan (simile) adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan dengan sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan dengan pemakaian kata bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak, laksana, semisal, seumpama, umpama, dan serupa.

Metafora

Metafora adalah perbandingan yang dilakukan secara implisit antara dua hal yang berbeda. Metafora hampir sama dengan perumpamaan, hanya saja dalam metafora perbandingan dilakukan secara langsung tanpa menggunakan kata bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak, laksana, semisal, seumpama, umpama, dan serupa.

Personifikasi

Personifikasi adalah majas yang melekatkan sifat-sifat insani (manusiawi) pada benda-benda yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Penggunaan majas personifikasi dapat memberi kejelasan dan memberikan bayangan angan (citraan) yang konkret.

Alegori

Alegori adalah cerita kisahan yang mengisahkan hal lain atau kejadian lain. Alegori dapat dikatakan sebagai metafora yang dilanjutkan. Jadi memahami majas alegori harus dari keseluruhan isi puisi.

Hiperbola

Hiperbola adalah majas yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan, baik jumlah, ukuran, atau sifat-sifatnya. Tujuan penyair menggunakan majas hiperbola adalah untuk mendapatkan perhatian yang lebih saksama dari pembaca. Dengan kata lain, penyair berusaha mencuri perhatian pembaca agar terus tertarik untuk memahami puisinya.

Litotes

Litotes sering dikatakan kebalikan dari hiperbola, yaitu majas yang di dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya.

Metonimia

Metonimia berasal dari bahasa Yunani, yakni meta berarti ‘bertukar’ dan onym berarti ‘nama’. Metonima adalah sejenis majas yang mempergunakan nama sesuatu barang untuk sesuatu yang lain yang berkaitan erat dengannya. Moeliono mengatakan bahwa metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal, sebagai penggantinya.

Sinekdoke
Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya atau sebaliknya. Sinekdoke digunakan untuk melihat kejadian langsung dari sumber yang menimbulkan peristiwa hingga gambaran lebih konkret. Ada dua macam sinekdoke, yakni pars pro toto dan totem pro parte.

1. Pars pro toto adalah sinekdoke bagian untuk keseluruhan. Maksudnya untuk menonjolkan suatu hal dengan menyebutkan salah satu bagian yang terpenting dari keseluruhan hal, keadaan, atau benda dalam hubungan tertentu. Misalnya, untuk menggambarkan orang, hanya menyebutkan suara, mata, hidung, atau bagian tubuh yang lain.
2. Totem pro parte adalah sinekdoke yang menyebutkan keseluruhan atau melihat sesuatu secara generalisasi untuk menonjolkan sebagian.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Pembelajaran Bahasa Indonesia

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.