RSS

Category Archives: Biografi Sastrawan Indonesia

Adinegoro

Biografi Adinegoro lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada tanggal 14 Agustus 1904. Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di Stovia ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Maka, dipakainyalah nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru. Ia pun bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin. Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman Timur. Ia mendalami masalah jurnalistik di sana. Selain itu, ia juga mempelajari masalah kartografi, geografi politik, dan geopolitik. Tentu saja, pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik.
Adinegoro, memang, lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan. Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926—1930), ia nyambi menjadi wartawan bebas (freelance journalist) pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta). Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka (pada tahun 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama di sana , hanya enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932—1942). Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948—1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Persbiro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi KBN Antara). Sampai akhir khayatnya Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut. Dua buah novel Adinegoro yang terkenal (keduanya dibuat pada tahun 1928), yang membuat namanya sejajar dengan nama-nama novelis besar Indonesia lainnya, adalah Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982) mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu (yang dijalankan oleh pihak kaum tua). Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga membuat novel lainnya, yaitu Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1930. Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul “Kritik atas Kritik” terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang dieditori oleh Achdiat Karta Mihardja (1977). Dalam esainya itu. Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tak dapat ditiru oleh orang lain. Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan demikian pun sebaliknya. Karya-karya Adinegoroa. Novel1. Darah Muda. Batavia Centrum: Balai Pustaka. 1931 2. Asmara Jaya. Batavia Centrum: Balai Pustaka. 1932. 3. Melawat ke Barat. Jakarta: Balai Pustaka. 1950. b. Cerita pendek 1. “Bayati es Kopyor”. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961, hlm. 3—4, 32. 2. “Etsuko”. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961. hlm. 2—3, 31 3. “Lukisan Rumah Kami”. Djaja. No. 83. Th. Ke-2. 1963. hlm. 17—18. 4. “Nyanyian Bulan April”. Varia. No. 293. Th. Ke-6. 1963. hlm. 2-3 dan 31—32.

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Amir Hamzah

Biografi Nama lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah, tetapi biasa dipanggil Amir Hamzah. Ia dilahirkan di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911. Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Pamannya, Machmud, adalah Sultan Langkat yang berkedudukan di ibu kota Tanjung Pura, yang memerintah tahun 1927-1941. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil (yang tidak lain adalah saudara Sultan Machmud sendiri), menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur.Mula-mula Amir menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916. Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927.
Amir, kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum.Amir Hamzah tidak dapat dipisahkan dari kesastraan Melayu. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam dirinya mengalir bakat kepenyairan yang kuat. Buah Rindu adalah kumpulan puisi pertamanya yang menandai awal kariernya sebagai penyair.
Puncak kematangannya sebagai penyair terlihat dalam kumpulan puisi Nyanyi Sunyi dan Setanggi Timur. Selain menulis puisi, Amir Hamzah juga menerjemahkan buku Bagawat Gita.Riwayat hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Ketika itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai.Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepda rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung.Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revuolusi sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Achdiat Karta Miharja

Biografi Achdiat Karta Miharja lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, tanggal 6 Maret 1911. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga menak yang feodal. Ayahnya bernama Kosasih Kartamiharja, seorang pejabat pangreh praja di Jawa Barat. Achdiat rnenikah dengan Suprapti pada bulan Juli 1938. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai lima orang anak.Ia memulai sekolah dasarnya di HIS (sekolah Belanda) di kota Bandung dan tamat tahun 1925. Ia masuk ke AMS (sekolah Belanda setara SMA), bagian Sastra dan Kebudayaan Timur, di kota Solo tahun 1932. Lalu, melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia di kota Jakarta. Ketika kuliah, ia pernah diajar oleh Prof. Beerling dan Pastur Dr. Jacobs S.J., dosen Filsafat. Tahun 1956, dalam rangka Colombo Plan, Achdiat men¬dapat kesempatan belajar bahasa dan sastra Inggris, serta karang me-ngarang di Australia.Tamat dari AMS, Achdiat sempat mengajar di Perguruan Nasio¬nal, Taman Siswa, tetapi tidak lama. Tahun 1934 Ia beralih kerja menjadi anggota redaksi Bintang Ti¬mur dan redaktur mingguan Paninjauan. Tahun 1941 Ia menjadi redak¬tur Balai Pustaka. Pada zaman pendudukan Jepang, Achdiat menjadi penerjemah di bagian siaran, radio Jakarta. Tahun 1946 ia me¬mimpin mingguan Gelombang Zaman dan Kemajuan Rakyat yang terbit di Garut sekaligus menjadi anggota bagian penerangan pe¬nyelidik Divisi Siliwangi.
Tahun 1948 Ia kembali bekerja sebagai re¬daktur Balai Pustaka. Tahun 1949 Ia menjadi redaktur kebudayaan di berbagai majalah, seperti Spektra dan Pujangga Baru di samping seba¬gai pembantu kebudayaan harian Indonesia Raya dan Konfrontasi. Pada tahun 1951–1961, Ia dipercayai memegang jabatan Kepala Bagian Nas¬kah dan Majalah Jawatan Pendidikan Masyarakat Kementerian PPK.Pada tahun 1951 Achdiat juga menjadi wakil ketua Organisasi Pe¬ngarang Indonesia (OPI) dan anggota pengurus Badan Musyawarah Ke¬budayaan Nasional (BMKN). Pada tahun itu juga, ia bertugas menjadi Ketua Seksi Kesusastraan Badan Penasihat Siaran Radio Republik Indo¬nesia (BPSR) dan menjadi Ketua Pen-Club Internasional Sentrum Indo¬nesia. Tahun 1954 Achdiat menjabat ketua bagian naskah/majalah baru. Tahun 1959 ia menjadi anggota juri Hadiah Berkala BMKN untuk ke¬susastraan. Tahun 1959–1961 Achdiat menjadi dosen Sastra Indonesia Modern di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta. Pada tahun 196 1—1969 ia mendapat kesempatan untuk menjadi Lektor Kepala (senior lecturer) di Australian National University (ANU) Canberra.Achdiat tertarik pada sastra berawal dari rumahnya sendiri, ketika ia masih kecil, masih di SD. Ayahnya adalah seorang penggemar sastra, terutama sastra dunia. Ayahnya sering menceritakan kembali karya-karya yang telah dibacanya kepada Achdiat. Lama-kelamaan, Achdiat kecil pun menjadi gemar juga membaca buku-buku koleksi ayahnya itu. Ia pun ikut melahap buku-buku sastra ayahnya itu. Dari koleksi ayahnya, ia telah membaca, antara lain, buku karangan Dostojweski, Dumas, dan Multatuli. Buku Quo Vadis karya H. Sinckiwicq, Alleen op de Wereld karya Hector Malot dan Genoveva karya C. von Schimdt, bahkan telah dibacanya ketika kelas VI SD.Hasilnya adalah tulisan-tulisan Achdiat yang lahir di kemudian hari, baik itu yang berupa kar¬ya sastra maupun esai tentang sastra atau kebudayaan. Novelnya yang berjudul Atheis adalah novel yang membawa namanya di deretan pengarang novel terkemuka di Indonesia. Banyak pakar sastra yang membicarakan novelnya itu, antara lain, Ajip Rosidi, Boen S. Oemarjati, A. Teeuw, dan Jakob Sumardjo.Karya-Karya Achdiat Karta Mihardja:a. Cerpen(1) Kesan dan Kenangan (kump. cerpen). 1960. Jakarta: Balai Pustaka.(2) Keretakan dan Ketegangan (kump. cerpen).1956. Jakarta: Balai Pustaka.(3) Belitan Nasib (kump. cerpen). 1975. Singapura: Pustaka Nasional.(4) Pembunuh dan Anjing Hitam (kump. cerpen). Jakarta: Balai Pus¬(5) “Pak Sarkam”. Poedjangga Baroe. No.5, Th. 13, 1951.(6) “Buku Tuan X”. Poedjangga Baroe. No.7,8, Th. 4, 1953.(7) “Salim, Norma, Sophie”. Prosa. No.2, Th. 1, 1953.(8) “Sutedjo dan Rukmini”. Indonesia. No. 8,9, Th. 4, 1953.(9) “Bekas Wartawan Sudirun”. Indonesia. Th. 4, 1953.(10) “Si Ayah Menyusul”. Konfrontasi. No. 18, 1957.(11) “Si Pemabok”.Varia. No. 104, Th. 3. 1960.(12) “Latihan Melukis”. Budaya Jaya. No. 47, Th. 5. 1972.b. Puisi(1) “Pemuda Indonesia”. Gelombang Zaman, 2.1, (45), 2.(2) “Bagai Melati”. Gelombang Zaman, 7.1(46), 2.(3) “Bunga Bangsa”. Gelombang Zaman, 13.1 (46), 2.(4) “O, Pudjangga”. Gelombang Zaman, 35.1, (46), 10.c. Novel(1) Atheis. 1949. Jakarta: Balai Pustaka.(2) Debu Cinta Bertebaran. 1973. Malaysia: Pena Mas.d. Drama(1) Bentrokan dalam Asmara. 1952. Jakarta: Balai Pustaka.(2) ‘Pak Dulah in Extremis”. Indonesia. No. 5, Tb. 10. 1959.(3) “Keluarga R. Sastro” (drama satu babak). Indonesia. No. 8. Th.5. 1959.e. Esai, antara lain(1) Polemik Kebudayaan. 1948. Jakarta: Balai Pustaka.(2) “Ada Sifat Tuhan dalam Diri Kita”. Pikiran Rakyat 28 Juni 1991.(3) “Pengaruh Kebudayaan Feodal”. Sikap. Tb. ke-1, 13/X, 1948.(4) “Bercakap-cakap dengan Jef Last”. Kebudayaan 10 Agustus 1950.Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Abdul Muis

Biografi Abdul Muis (1883—1959)Abdul Muis lahir pada tanggal 3 Juni 1883 di Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia adalah putra Datuk Tumenggung Lareh, Sungai Puar. Seperti halnya orang-orang Minangkabau Iainnya, Abdul Muis juga memiliki jiwa petualang yang tinggi. Sejak masih remaja ia sudah berani meninggalkan kampung halamannya, merantau ke Puiau Jawa. Bahkan, masa tuanya pun dihabiskannya di perantauan. Sastrawan yang sekaligus juga pejuang dan wartawan mi meninggal dunia di Bandung pada tanggal 17 Juni 1959 dalam usia 76 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra, Bandung, sehari kemudian. Ia meninggalkan dua orang istri dan tiga belas orang anak (lihat Mimbar Indonesia, No.24-25, 18 Juni 1959; Suluh Indonesia. No~211, l9Juni 1959; dan HarianAbadi, No.132, l9Juni 1959).Abdul Muis hanyalah lulusan Sekolah Eropa Rendah (Eur. Lagere School atau yang sering disingkat ELS). Ia memang pernah belajar di Stovia selama tiga setengah tahun (1900–1902). Namun, karena sakit, ia terpaksa keluar dan sekolah kedokteran tersebut. Pada tahun 1917 ia sempat pergi ke Negeri Belanda untuk menambah pengetahuannya.
Meskipun hanya berijazah ujian amtenar kecil (klein ambtenaars examen) dan ELS, Abdul Muis memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang baik. Bahkan, menurut orang Belanda, kemampuan Abdul Muis dalam berbahasa Belanda dianggap melebihi rata-rata orang Belanda sendiri (Mimbar Indonesia. No.24-25, 19 Juni 1959). Oleh karena itu, begitu keluar dan Stovia, ia diangkat oleh Mr. Abendanon, Directeur Onderwzjs (Direktur Pendidikan) pada Departement van Onderwijs en Eredienst yang kebetulan membawahi Stovia. menjadi kierk. Padahal, pada waktu itu belum ada orang prihumi yang diangkat sebagai kierk. Konon, Abdul Muislah orang indonesia pertama yang dapat menjadi kierk.Pengangkatan Abdul Muis menjadi kierk tersebut ternyata tidak disukai oleh pegawai-pegawai Belanda lainnya. Hal itu tentu saja membuat Abdul Muis tidak betah bekerja. Akhirnya, pada tahun 1905 Ia keluar dan Departemen itu setelah dijalaninya selama Iebih kurang dua setengah tahun (1903– 1905).Sekeluarnya dan Department van Onderwzjs en Eredienst sebagai kierk hingga akhir hayatnya, Abdul Muis sempat menekuni berbagai macam pekerjaan, baik di bidang sastra, jurnalistik. maupun politik. Bidang pekerjaan yang pertama kali diterjuninya adalah bidang jurnalistik. Pada tahun 1905 itu juga ia diterima sebagai anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia, sebuah majalah yang banyak memuat berita politik, di Bandung. Karena pada tahun 1907 Bintang Hindia dilarang terbit, Abdul Muis pindah kerja ke Bandungsche Afdeelingsbank sebagai mantri lumbung. Pekerjaan itu ditekuninya selama lebih kurang lima tahun, sebelum ia diperhentikan dengan hormat (karena cekcok dengan controleur) pada tahun 1912. Ia kemudian bekerja di De Prianger Bode, sebuah surat kabar (harian) Belanda yang terbit di Bandung, sebagal korektor, Hanya dalam tempo tiga bulan, ia diangkat menjadi hoofdcorrector(korektor kepala) karena kemampuan berbahasa Belandanya yang baik (Mimbar Indonesia. No.24-25, 119 Juni 1959).Pada tahun 1913 Abdul Muis keluar dan De Prianger Bode. Sebagai pemuda yang berjiwa patriot, ia mulai tertarik pada dunia politik dan masuklah ia ke Serikat Islam (SI). Bersama dengan mendiang A.H. Wignyadisastra, Ia dipercaya untuk memimpin Kaum Muda, salah satu surat kabar milik SI yang terbit di Bandung. Pada tahun itu pula, atas imsiatif dr. Cipto Mangunkusumo, Abdul Muis (bersama dengan Wignyadisastra dan Suwardi Suryaningrat) membentuk Komite Bumi Putra untuk mengadakan perlawanan terhadap maksud Belanda mengadakan perayaan besar-besaran 100 tahun kemerdekaannya serta untuk mendesak Ratu Belanda agar memberikan kebebasan bagi bangsa Indonesia dalam berpolitik dan bernegara (Mimbar Indonesia, No.24-25, 19 Juni 959).Di zaman pergerakan, bersama dengan H.O.S. Cokroaminoto, Abdul Muis terus berjuang memimpin Serikat Islam. Pada tahun 1917 ia dipercaya sebagai utusan SI pergi ke Negeri Belanda untuk mem-propagandakan comite Indie Weerbaar.Pada tahun 1918, sekembalinya dan Negeri Belanda, Abdul Muis terpaksa harus pindah kerja ke harian Neraca karena Kaum Muda telah diambil alih oleh Politiek Economische Bond, sebuah gerakan politik Belanda di bawah pimpinan Residen Engelenberg. Pada tahun 1918 itu juga, Abdul Muis menjadi anggota dewan Volksraad (Dewan Rakyat Jajahan).Perjuangan Abdul Muis ternyata tidak hanya berhenti sampal di situ. Bersama dengan tokoh-tokoh lainnya, Abdul Muis terus berjuang menentang penjajah, Belanda. Pada tahun 1922, misalnya, ia memimpin anak buahnya yang tergabung dalain PPPB (Perkumpulan Pegawal Pegadaian Bumiputra) mengadakan pemogokan di Yogyakarta. Setahun kemudian, ia pun memimpin sebuah gerakan memprotes aturan landrentestelsel (Undang-undang Pengawasan Tanah) yang akan diberlakukan oleh Belanda di Sumatra Barat (Biodata “Abdul Muis” yang tersimpan di Perpustakaan PDS H.B. Jassin). Protes tersebut herhasil. Dan, landrentestelsel pun urung diberlakukan. Di samping itu, ia juga masih tetap memimpin harian Utusan Melayu dan Perobahan. Melalui kedua surat kabar tersebut ia terus melancarkan serangannya.Oleh pemerintah Belanda, tindakan Abdul Muis tersebut dianggap dapat mengganggu ketenteraman dan ketertiban masyarakat. OIeh karena itu, pada tahun 1926 Abdul Muis ‘dikeluarkan’ dan daerah luar Jawa dan Madura. Akibatnya, selama Iebih kurang tiga belas tahun (1926–1939) Ia tidak diperkenankan meninggalkan Pulau Jawa.Meskipun tidak boleh meninggalkan Pulau Jawa, tidak berarti Abdul Muis berhenti berjuang. Ia kemudian mendirikan harian Kaum Kita di Bandung dan Mimbar Rakyat di Garut. Sayang, kedua surat kabar tersebut tidak lama hidupnya.Di samping berkecimpung di dunia pers, Abdul Muis tetap aktif di dunia politik. Oleh Serikat Islam ia pada tahun 1926 dicalonkan (dan terpilih) menjadi anggota Regentschapsraad Garut. Enam tahun kemudian (1932) ia diangkat menjadi Regentschapsraad Gontroleur. Jabatan itu diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia (1942).Di masa pendudukan Jepang, Abdul Muis masih kuat bekerja meskipun penyakit darah tinggi mulai meñggerogotinya. Ia, oleh Jepang, diangkat sebgai pegawai sociale zaken ‘hal-hal kemasyarakatan’. Karena sudah merasa tua, pada tahun 1944 Abdul Muis berhenti bekerja. Anehnya, pada zaman pascaprokiamasi, ia aktif kembali dan ikut bergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan. Bahkan, ia pernah pula diminta untuk menjadi anggota DPA.Bakat kepengarangan Abdul Muis sebenarnya baru terlihat setelah Ia bekerja di dunia penerbitan, terutama di harian Kaum Muda yang dipimpinnya. Dengan menggunakan inisial nama: A.M. ia menulis hanyak hal. salah satu di antananya adalah roman sejarahnya. Surapati. Konon. sebelum diterbitkan sebagai buku, roman tersebut dimuat sebagal feui/.leton ‘cerita bersambung’ pada Kaum Muda.Sebagai sastrawan, Abdul Muis tergolong kurang produktif. Menurut catatan yang ada, ia hanya menghasilkan empat buah novel/roman dan beberapa karya terjemahan saja. Namun, dari karyanya yang hanya sedikit itu, nama Abdul Muis tercatat indah dalam sejarah sastra Indonesia. Konon, karya besarnya, Salah Asuhan, dianggap sebagal corak baru penulisan prosa pada saat itu. Jika pada saat itu sebagian besar penganang selalu menyajikan tema-tema lama: pertentangan kaum tua dengan kaum muda, kawin paksa, dan adat istiadat, Salah Asuhan justru menampilkan masalah konflik pribadi: dendam, cinta, dan cita-cita.Karya-karya Abdul Muis(1) Tom Sawyer Anak Amerika (terjemahan dan karya Mark Twain, Amerika), Jakarta:Balai Pustaka, 1928(2) Sebatang Kara (terjemahan dan karya Hector Malot, Perancis), cetakan 2, Jakarta:Balai Pustaka, 1949(3) Hikavat Bachtiar (saduran cerita lama), Bandung:Kolff, 1950(4) Hendak Berbalai, Bandung:KoIff, 1951(5) Kita dan Demokrasi, Bandung:Kolff, 1951(6) Robert Anak Surapati, Jakarta:Balai Pustaka, 1953(7) Hikayat Mordechai: Pemimpin Yahudi, Bandung:Kolff. 1956(8) Kurnia, Bandung:Masa Baru, 1958(9) Pertemuan Djodoh (cetakan 4), Jakarta:Nusantana, 1961(10) Surapati. Jakarta:Balai Pustaka, 1965(11) Salah Asuhan, Jakarta:Balai Pustaka, 1967(12) Cut Nyak Din: Riwayat Hithip Seorang Putri Aceh (Terjemahan dan karya Lulofs, M.H. Szekely), Jakarta:Chailan Sjamsoe, t.t.(13) Don Kisot (terjemahaiun dan karya Cervantes, Spanyol)(14) Pangeran Kornel (terjemahan dan karya Memed Sastrahadiprawira, Sunda)(15) Daman Brandal Sekolah Gudang, Jakarta:Noordhoff, t.t.Sumber : http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.