RSS

Category Archives: Biografi Sastrawan Indonesia

Asrul Sani

Biografi ASRUL SANI (1926—2004)*Asrul Sani lahir di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat, pada tanggal 10 Juni 1926 dan meninggal di Jakarta, pada tanggal …2004.Asrul Sani berasal dari keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang raja yang bergelar “Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti RaoMapat”. Meski membenci Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran musik bergengsi dari Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk pribumi pada saat itu, apalagi di daerah terbelakang seperti Rao). Oleh karena itu, Asrul patut berbangga hati karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya-karya terkenal dari Schubert. Ibunya adalah seorang wanita yang sederhana, namun sangat memperhatikan pendidikannya. Sejak kecil ia dimanjakan oleh ibunya dengan buku-buku cerita ternama. Ibunya selalu membacakan buku-buku tersebut untuknya. Oleh karena itu, sekali lagi, ia patut berbangga hati karena sebelum pandai membaca, ia sudah mendengar cerita Surat Kepada Raja karya Tagore.Inilah gambaran Asrul muda di mata Pramoedya Ananta Toer:Seorang pemuda langsing, gagah, ganteng, berhidung mancung bersikap aristokrat tulen…Tinggalnya di jalan Gondangdia Lama. Mendengar nama jalan ini saja, kami pribumi kampung yang lain, mau tak mau terpaksa angkat pandang menatap wajahnya.
Di Gondangdia Lama hanya ada gedung-gedung besar, megah, dan mewah. Akan tetapi, kami pun punya kebanggaan “penerbitan kami”. Begitulah, pada suatu kali kami undang dia datang menghadiri diskusi sastra. “Penerbitan” kebanggaan kami, kami perlihatkan kepadanya. Dia baca pendapat redaksi tentang sajak-sajak peserta. Tentunya, kami ingin tahu pendapatnya, dan sudah tentu juga perhatiannya. Ternyata pendapat dan perhatiannya tepat sebaliknya daripada yang kami harapkan. Aku masih ingat kata-katanya: “Tahu apa orang-orang ini tentang sajak?” Dan, kami pun sadar, sesungguhnya kami tidak tahu. Tapi itu tidaklah begitu mengejutkan dibanding dengan kata-katanya yang lain: “Tahu apa orang-orang ini tentang Keats dan Shelley! Bukan hanya kami yang baru dengar kata-kata aneh itu, juga Victor Hugo-nya Sanjaya menjadi gagu kehilangan lidah! Pemuda berpeci merah tebal itu adalah asrul Sani . Dan “penerbitan” kamipun mati kehabisan darah kebakaran semangant.Asrul memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (HIS), Bukittinggi, pada tahun 1936. Lalu, ia masuk ke SMP Taman Siswa, Jakarta (1942), Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor (194.). Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1955. Jadi, ia adalah seorang dokter hewan. Akan tetapi, gelar bergengsi itu tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari dunia seni (sastra, teater, dan film). Bahkan, di sela-sela kuliahnya, ia masih sempat belajar drama di akademi seni drama di Amsterdam (bea siswa dari Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).Asrul Sani bisa memuji secara habis, selamanya disediakan tempat yang lebih tinggi bagi dirinya. (M. Balfas dalamHutagalung)g Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya sebagai Sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan “Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul “Sahabat Saya Cordiaz” dimasukkan oleh Teeuw ke dalam “Moderne Indonesische Verhalen” dan dramanya ,Mahkamah, mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun ’50-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah “Surat atas Kertas Merah Jambu” (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film. Ia mementaskan “Pintu Tertutup” karya Jean-Paul Sartre, “Burung Camar” karya Anton P. Chekov, dll. Ia menulis skenario film “Lewat Jam Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955), “Apa yang Kau Cari Palupi?” (mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), “Kemelut Hidup” (mendapat Piala Citra 1979),dll. Ia juga menyutradarai film “Salah Asuhan” (1972), “Jembatan Merah” (1973), Bulan di atas Kuburan (1973), dll. Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan Asrul Sani semasa hidupnya dan berbagai bidang pula. Ia pernah menjadi Laskar Rakyat (pada masa proklamasi), redaktur majalah (Pujangga Baru, Gema Suasana, Siasat, dan Zenith). Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1977—1987), Ketua Lembaga Seniman Kebudayaan Muslim (Lesbumi), Anggota Badan Sensor Film, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama, Anggota DPR-MPR (1966—1983), dll. Dalam perjalanan hidupnya, Asrul pernah menikah dua kali. Yang pertama, ia menikahi Siti Nuraini, temannya sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di Bogor (dan bercerai pada tahun 1961). Yang kedua, ia menikahi Mutiara Sarumpaet, 22 tahu lebih muda darinya, pada tanggal 29 desember 1972. Dari pernikahannya yang pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan dan dari pernikahannya yang kedua Asrul dikaruniai tiga anak laki-lakiPada masa akhir hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia mendampinginya. Asrul yang mulai renta dan sudah harus duduk di kursi roda tidak menghalangi keduanya untuk tampil di depan umum dengan mesra. Ketika menghadiri acara pelantikan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D. (adik kandung Mutiara) menjadi guru besar di Universitas Indonesia (3 September 2003), Mutiara dengan mesra menyuapi Asrul di atas kursi rodanya. Makanan dan minuman yang sesekali meluncur dari bibir dan mengotori dagunya, dilap oleh Mutiara dengan lembut.Karya-Karya Asrul SaniI. Karya Aslia) puisib) cerita pendekc) dramad) esaiII. Karya Terjemahana) puisib) cerita pendekc) novel (masih berupa naskah)d) drama (sebagian besar masih berupa naskah)Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Arswendo Atmowiloto

Biografi Arswendo Atmowiloto mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang. Lahir tanggal 26 November 1948 di Solo, Jawa Tengah.Arswendo Atmowiloto menganut agama Kristen dan menikah dengan wanita yang seiman dengannya Agnes Sri Hartini pada tahun 1971.Dari pernikahannya itu, mereka memperoleh tiga orang putra, yaitu Albertus Wibisono, Pramudha Wardhana, dan Cicilia Tiara.Setelah lulus sekolah menengah atas, beliau masuk ke Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, IKIP Solo, tetapi tidak tamat. Aswendo semula bercita-cita menjadi dokter, tetapi itu tidak tercapai. Beliau pernah mengikuti program penulisan kreatif di Lowa University, Amerika Serikat.Setelah keluar dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, beliau bekerja di pabrik bihun dan kemudian di pabrik susu. Beliau juga pernah bekerja sebagai penjaga sepeda dan sebagai pemungut bola di lapangan tenis.Beliau mulai merintis karirnya sebagai sastrawan sejak tahun 1971. Cerpen pertamanya muncul berjudul “Sleko”, yang dimuat dalam majalah Mingguan Bahari.Di samping sebagai penulis,
beliau juga aktif sebagai pemimpin di Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, Solo (1972).Setelah itu beliau bekerja sebagai konsultan penerbitan Subentra Citra Media (1974—1990), sebagai pemimpin redaksi dalam majalah remaja Hai, sebagai pemimpin redaksi/ penangung jawab majalah Monitor (1986) dan pengarah redaksi majalah Senang (1998).Aswendo Atmowiloto adalah pengarang serba bisa yang sebagian besar karyanya berupa novel. Isi ceritannya bernada humoris, fantatis, spekulatif, dan suka bersensasi. Karyannya banyak dimuat dalam berbagai media massa, antara lain Kompas, Sinar Harapan, Aktual, dan Horison. Karangannya, antara lain diterbitkan oleh penerbit Gramedia, Pustaka Utama Grafiti, Ikapi, dan PT Temprint.Aswendo Atmowiloto banyak menerima beberapa penghargaan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Penghargaan itu, antara lain Hadiah Zakse (1972) untuk karya esainya yang berjudul “Buyung Hok dalam Kreativitas Kompromi”.Dramanya yang berjudul “Penantang Tuhan” dan “Bayiku yang Pertama” memperoleh Hadiah Harapan. Hadiah Perangsang Minat Menulis dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ tahun 1972 dan tahun 1973.Tahun 1975 beliau memperoleh Hadiah Harapan dalam sayembara serupa untuk drama “Sang Pangeran” dan “Sang Penasehat”. Dua bukunya Dua Ibu dan Mandoblang-Buku Anak-Anak terpilih sebagai buku nasional terbaik. Juga penghargaan ASEAN Award di Bangkok.Puluhan karyanya telah dibukukan, sebagian diangkat ke layar televisi dan film. Ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat.Ketika itu, Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW (Nabi umat Muslim) yang terpilih menjadi tokoh nomor 11. Sebagian masyarakat Muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat.Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai divonis hukuman 5 tahun penjara. Karena tulisannya dianggap subversi dan melanggar Pasal 156 A KUHP dan Pasal 157 KUHP.Setelah itu, beliau menyatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada masyarakat melalui media TVRI dan beberapa surat kabar ibu kota.Ketika beliau berada di dalam tahanan, ia pun menulis cerita bernada absurditas, humoris (anekdot), dan santai.Cerita tersebut bertemakan tentang kehidupan orang-orang tahanan beserta masyarakat umum di ibu kota yang mengalami keputusasaan menghadapi suatu yang sulit. Aswendo pernah mendapat kecaman dan dianggap sebagai pengkhianat karena pendapatnya yang dianggapnya keliru oleh para pengamat sastra.Aswendo berpendapat bahwa “Sastra Jawa telah mati”. Dan beliau sangat menghargai penulis komik, khususnya komik wayang dan silat yang dianggap banyak berjasa dalam pendidikan anak.Karya-karya Aswendo, antara lain berupa naskah drama, cerpen, novel, dan puisi. Berikut adalah karya-karyanya:1. Sleko (1971)2. Ito (1973)3. Lawan Jadi Kawan (1973)4. Bayiku yang Pertama: Sandiwara Komedi dalam 3 Babak (1974)5. Sang Pangeran (1975)6. Sang Pemahat (1976)7. Bayang-Bayang Baur (1976)8. 2 x Cinta (1976)9. The Circus (1977)10. Semesta Merapi Merbabu (1977)11. Surat dengan Sampul Putih (1979)12. Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)13. Dua Ibu (1981)14. Saat-Saat (1981)15. Pelajaran Pertama Calon Ayah (1981)16. Serangan Fajar: diangkat dari film yang memenangkan 6 piala Citra pada Festival Film Indonesia (1982)17. Airlangga (1985)18. Anak Ratapan Insan (1985)19. Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel “Kawinnya Juminten” (1985)20. Pengkhianatan G30S/PKI (1986)21. Dukun Tanpa Kemenyan (1986)22. Akar Asap Neraka (1986)23. Garem Koki (1986)24. Canting: sebuah roman keluarga (1986)25. Indonesia from the Air (1986)26. Telaah tentang Televisi (1986)27. Lukisan Setangkai Mawar: 17 cerita pendek pengarang Aksara (1986)28. Tembang Tanah Air (1989)29. Menghitung Hari (1993)30. Oskep (1994)31. Abal-abal (1994)32. Berserah itu Indah: kesaksian pribadi (1994)33. Auk (1994)34. Projo & Brojo (1994)35. Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994)36. Khotbah di Penjara (1994)37. Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994)38. Suksma Sejati (1994)39. Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995)40. Kisah Para Ratib (1996)41. Darah Nelayan (2001)42. Dewa Mabuk (2001)43. Kadir (2001)44. Keluarga Bahagia (2001)45. Keluarga Cemara 146. Keluarga Cemara 2 (2001)47. Keluarga Cemara 3 (2001)48. Pesta Jangkrik (2001)49. Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)50. Dusun Tantangan (2002)51. Mencari Ayah Ibu (2002)52. Mengapa Bibi Tak ke Dokter? (2002)53. Senopati Pamungkas (1986/2003)54. Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Armijn Pane

Biografi Latar Belakang KeluargaMenurut J.S Badudu dkk. (1984:30). Armijn Pane juga bernama Ammak, Ananta, Anom Lengghana, Antar Iras, AR., A.R., Ara bin Ari, dan Aria Indra. Dengan nama-nama itu ia menulis puisi dalam majalah Pedoman Masyarakat, Poedjangga Baroe, dan Pandji Islam. Armijn Pane, anak ketiga dari 8 bersaudara, mempunyai nama samaran banyak, yaitu Adinata, A. Jiwa, Empe, A. Mada, A. Panji, dan Kartono. Ia dilahirkan tanggal 18 Agustus 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang seniman daerah yang telah berhasil membukukan sebuah cerita daerah berjudul Tolbok Haleoan. Selain sebagai seniman sastrawan, ayah Armijn Pane juga menjadi guru. Bahkan Armijn Pane dan adik bungsunya, Prof. Dr. Lafran Pane yang menjadi sarjana ilmu politik yang pertama, juga mewarisi bakat ayahnya sebagai pendidik. Armijn Pane menjadi guru Taman Siswa dan Lafran Pane adalah Guru Besar IKIP Negeri Yogya dan Universitas Islam Indonesia Yogya. Ia meninggal tanggal 24 Januari 1991. Ayah Armijn Pane itu juga seorang aktivis Partai Nasional pada masa Pergerakan Nasional, di Palembang. Dan hal ini juga menyiratkan bahwa orang tua itu termasuk golongan yang cinta tanah air. Rasa cinta terhadap tanah air ini juga terwariskan kepada anaknya, baik Armijn Pane, Sanusi Pane, maupun Lafran Pane. Pada Armijn Pane dapat kita lihat dalam sajak-sajaknya “Tanah Air dan Masyarakat” dalam Gamelan Djiwa, bagian dua.
Sayang sekalai ayahnya telah mengecewakan Armijn Pane karena ia telah mengecewakan ibunya. Ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Kekecewaan itu terus berbekas sampai akhir hayatnya.Armijn Pane meninggal pada hari Senin, tanggal 16 Februari 1970 pukul 10.00 pagi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam usia 62 tahun. Ia mengalami pendarahan otak dan tidak sadarkan diri selama dua hari. Menurut berita di surat kabar ia diserang Pneumonic Bronchiale. Tempat peristirahatannya yang terakhir adalah pemakaman Karet, Jakarta, berdampingan dengan makam kakaknya, Sanusi Pane, yang meninggal satu tahun sebelumnya.Armijn Pane meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkatnya berusia 6 tahun yang pada saat ia meninggal beralamat di jalan Setia Budi II No. 5, Jakarta.2. Latar Belakang PendidikanArmijn Pane mengawali pendidikannya di Hollandsislandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung Balai. Kemudian masuk Europese lagere School (ELS), yaitu pendidikan untuk anak-anak Belanda di Sibolga dan Bukittinggi. Pada tahun 1923 menjadi Studen Stovia (sekolah kedokteran) di Jakarta. Sayang sekolahnya tidak dilanjutkan, kemudian tahun 1927 ia pindah ke Nederlands-Indische Artsenschool (Nias) ‘sekolah kedokteran’ (Nias) yang didirikan tahun 1913 di Surabaya. Jiwa seninya tidak dapat dikendalikan sehingga ia kemudian masuk ke AMS bagian AI jurusan bahasa dan kesusastraan di Surakarta hingga tamat tahun 1931.Dalam dunia pendidikan ia juga tercatat sebagai guru bahasa dan sejarah di perguruan Taman Siswa, baik di Kediri maupun di Jakarta. Oleh karena itu salah seorang tokoh Taman Siswa, Pak Said, atas nama seluruh warga Taman Siswa menyampaikan penghargaan atas jasa almarhum dalam upacara pemakamannya.Apakah pengalamannya sebagai studen kedokteran (Stovia) di Jakarta dan Surabaya melatarbelakangi ciptaannya yang tokoh-tokohnya dokter, seperti dr. Sukartono dalam novel Belenggu dan dr. Abidin dalam drama “Antara Bumi dan Langit”. Dalam kedua cerita itu tidak tampak hal-hal yang mendasar tentang ilmu kedokteran yang dimiliki tokoh, yang disajikan hanya wajah dan perilaku tokoh dokter secara permukaan. Hal ini mungkin saja karena ia sekolah kedokteran tidak sampai tamat sehingga tidak sampai menghayati segalanya yang berhubungan dengan ilmu itu. Ternyata, memang Armijn Pane bukan tertarik oleh dunia kedokteran, melainkan tertarik oleh dunia seni. Untuk itu ia mampu menamatkan pendidikannya di AMS AI (Jurusan Kebudayaan Timur) di Solo.3. Latar Belakang PekerjaanTahun 1949 Armijn Pane kembali ke Jakarta dari pengungsiannya di Yogyakarta. Diberitakan bahwa Armijn Pane setibanya di Jakarta akan menceburkan diri di lapangan penerbitan. Armijn Pane mengasuh majalah Indonesia yang berisi 124 halaman sejak Februari 1955 bersama Mr. St. Moh. Syah, dan Boeyoeng Saleh. Armijn menulis “ Produksi Film Cerita di Indonesia”, setebal 112 halaman dalam majalah Indonesia itu.Di samping itu, ia juga memimpin majalah Kebudayaan Timur yang dikeluarkan oleh kantor Pendidikan Kebudayaan. Di dalam dunia sandiwara ia menjadi anggota terkemuka gabungan usaha sandiwara Jawa, di samping sebagai Ketua Muda “Angkatan Baru”, perkumpulan seniman di kantor kebudayaan itu. Ia memulai kariernya sebagai pengarang dan sastrawan ketika ia menjadi wartawan, dan sebagai guru pada Pendidikan Taman Siswa. Ia pernah mengajar bahasa dan sejarah di Sekolah Taman Siswa di Kendiri kemudian di Jakarta. Dari situ kariernya dalam bidang penerbitan setapak demi setapak dirintis di Balai Pustaka, sebagai pegawai kantor itu. Tahun 1936 Armijn diangkat menjadi redaktur. Zaman Jepang ia menjabat kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan Djakarta. Di sampaing itu, tahun 1938 ia menjadi sekretaris Kongres Bahasa Indonesia yang pertama, ia juga menjadi penganjur Balai Bahasa Indonesia dan di zaman Jepang ia menjadi anggota komosi istilah.Dalam dunia organisasi kebudayaan/kesastraan, Armijn Pane juga aktif. Ternyata ia menjadi penganjur dan sekretaris Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). Selanjutnya, ia menjadi anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) selepas tahun 1950.Dalam penerbitan, ternyata Armijn Pane tidak hanya berkecimpung dalam majalah Pujangga Baru, tetapi juga menjadi anggota dewan redaksi makalah Indonesia.. Demikian pula dalam dunia film Armijn aktif sebagai anggota sensor film, (1950—1955).Atas jasanya dalam bidang seni (sastra), ia memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah tahun 1969.Akan tetapi, dalam masa menjalani tugasnya, baik di zaman Beanda, zaman Jepang, maupun zaman republik Armijn selalu menyaksikan hal-hal yang tidak beres yang menusuk hati nuraninya. Ketika ia menjadi Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan, atasannya, orang Jepang, menunjukkan majalah yang bersisi berita tantang dilancarkannya armada Jepang oleh armada Sekuti di sekitar Morotai. Jepang itu meminta agar Armijn membuat releasenya. Karena Armijn seorang yang polos, jujur, dan tidak pernah mengubah fakta, dibuatnyalah laporan yang diberikan Jepang itu. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan kempetai sehingga ia menderita lahir dan batin akibat perlakukan kasar kempetai yang kemungkinan ingin menguji ke mana Armijn memihak. Itulah salah satu pengalaman pahitnya yang menyebabkan dirinya terkena pukulan batin terus-menerus dalam pekerjaannya.4. Latar Belakang KesastraannyaDalam sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia Armijn terkenal sebagai salah seorang pelopor pendiri majalah Pujangga Baru tahun 1933 di samping Sutan Takdir Alisyahbana dan Amir Hamzah. Mulai tahun 1933—1938 ia menduduki jabatan sekretaris redaksi majalah itu. Novelnya, Belenggu sebelum diterbitkan sebagai buku, dimua dalam majalah Pujangga Baru.Prof. Dr. Teeuw (dalam Anita, 1992) menyatakan bahwa Armijn Pane adalah pelopor Angkatan 45. Akan tetapi, Dr. H.B. Jassin menyangkalnya karena, baik dalam prosa maupun dalam puisi terlihat gaya impresionistis, terutama dalam sajak-sajaknya. Dalam novelnya Belenggu gaya romantis dapat diketemukan sehingga tampak suasana yang diliputi perasaan yang terayun-ayun serta pikiran yang menggembirakan dan menyedihkan silih berganti. Padahal Angkatan 45 banyak menunjukkan karya yang bergaya ekspresionistis. Dengan demikian, Dr. H.B. Jassin menyanggah pendapat Prof. Teeuw di atas.Karya-karya Armijn Pane memperlihatkan adanya pengaruh Noto Soeroto, Rabindranath Tagore, Krisnamurti dan pelajaran Theosofie. Gerakan kesusastraan sesudah tahun 1880 di negeri Belanda tampak juga mempengaruhi karya-karyanya, begitu juga Dosxtojevski, di samping Tolstoy.Armijn Pane adalah pengarang yang berpendirian kokoh. Ia mengibaratkan keyakinannya seperti pohon beringin. Hal itu diungkapkannya pada pengantar novelnya, Belenggu seperti berikut, “kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan yang lain.”Jadi, apapun yang dihadapkan pada keyakinannya yang sudah kokoh itu tak akan menggoyahkannya. Dalam karya Belenggu, tekadnya menjadi seorang manusia yang berguna bagi bangsa dan negara seperti yang disarankan Armijn Pane dalam ceramahnya yang tercermin pada tokoh dr. Sukartono dalam novel Belenggu. Tokoh itu sangat memperhatikan para pasiennya sehingga menomorduakan rumah tangganya sehingga berantakan. Ketidakharmonisan rumah tangga dr. Sukartono memang berawal dari ketidakpuasan Tini akan sikap dr. Sukartono yang lebih mengutamakan pasiennya daripada istrinya itu.Dalam hal teknik penyusunan ada kesamaan antara Armijn dan Putu Wijaya serta Iwan Simatupang. Teknik itu menyatu dengan pemikiran yang ingin disampaikan seperti tampak dalam novel Belenggu itu.Kritikus sastra Indonesia, Dr. H.B. Jassin (1954:67—70) mengatakan bahwa Belenggu merupakan karya sastra modern Indonesia yang pertama menggambarkan kehidupan kaum intelktual sebelum perang.Di dalam sajak, Armijn Pane berhasil mengumpulkan sajaknya di dalam dua kumpulan Jiwa Berjiwa yang menurut tafsiran Ayip Rosidi berarti jiwa yang hidup (dalam Anita, 1993). Kumpulan lain berjudul Gamelan Djiwa yang jika dilihat dari artinya, “Gamelan”berarti alat-alat musik atau bunyi-bunyian. Jadi, gamelan jiwa dapat diartikan bunyi atau suara batin, yaitu suara batin si penulis yang menyuarakan cinta, yaitu cinta sebagaimana lazimnya anak muda. Cinta pada tanah air, cinta pada Tuhan, dan cinta pada sastra. Sampai pada saat terakhir cinta pada sastra ternyata masih tetap kuat. Ceramahnya tentang sastra di Taman Ismail Marzuki sebulan sebelum ia meninggal 15-1-1970 membuktikan cintanya pada sastra. Ceramah itu berjudul “Pengalaman Batin Pengarang Armijn Pane”. Dalam ceramah itu pengarang mengungkapkan pengalamannya yang berkaitan dengan kepenga-rangannya dan sedikit menyinggung soal angkatan. Butir-butir pikiran yang disampaikannya pada saat itu adalah (1) “Mengapa Aku Rela dan Ikhlas Jadi Pengarang”, (2) “Bagaimana Aku Memperbaharui Kerelaan and Keikhlasanku sebagai Pengarang di Zaman Sekarang ”, (3) “Sikap Hidup Bagi Pengarang”, (4) “Struktur Mengarang Fase-Fase Mengarang”, (5) “Pengarang Keagamaan dan Pengarang Nasional”, (6) “Apa yang Perlu Kita Dapat dari Pengarang-Pengarang Luar Negeri”, (7) “Apakah Pengarang Manurut Pendapat Pengarang”, (8) “Serba Sedikit Tentang Angkatan”.Armijn mengakui bahwa kepengarangannya banyak didorong oleh kesadaran kebangsaannya. Ia juga mengatakan bahwa saat itu sedang disiapkan roman yang ketiga. Akan tetapi, roman itu tidak muncul.Dalam ceramah itu Armijn menegaskan bahwa untuk menjadi pengarang lebih dulu harus kita dapatkan dunia keindahan dan harus kita memiliki sikap hidup yang tegas untuk melaksanakan tugas sebagai pengarang. Selanjutnya, pengarang itu mengemukakan bahwa untuk mengarang ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Langkah-langkah itu adalah mengumpulkan baha, mendapatkan ide, dan menyusun kerangka cerita. Dalam struktur karangan harus selalu ada tiga pihak, yaitu yang dilawan, yang melawan, dan yang menggerakan. Di samping itu, pengarang memiliki hati nurani, moral, dan inspirasi, yaitu inspirasi yang dikendalikan pengarang, agar pengarang selalu sadar akan apa yang harus dilakukan.Dalam kesempatan itu Armijn juga mengarapkan agar di antara pengarang muda akan muncul pengarang keagamaan Indonesia yang dapat dihargai. Untuk itu, ia pun berkeinginan menjadi pengarang keagamaan.Tentang kekhasan Indonesia dalam dunia kepengarangan, ia menganjurkan agar pengarang Indonesia mendapatkan kekhasan Indonesia. Akan tetapi, tidak berarti pengarang Indonesia dilarang mencontohkan pengarang asing, malahan ia menganjurkan asalkan tidak melakukan plagiat. Mengenai karya sastra yang lahir tahun 1920—1930, bahkan sampai sekarang, Armijn berpendapat bahwa Angkatan 1920—1930 mempunyai pengabdian. Angkatan Pujangga Baru memiliki tanda pro kepada yang baru, dinamis, anti yang fanatik, dan anti yang naif. Angkatan 45 memiliki tanda sebagai pejuang, Angkatan 50 mengemukakan masalah sosial, dan Angkatan terbaru memperlihatkan aksi. Dari uraian dalam ceramah itu, dapat disimpulkan bahwa Armijn Pane, ternyata samapai usia 62 tahun, pengamatan dan cintanya terhadap dunia sastra tetap segar. 5. Karya Armijn Panea. Puisi(1) Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960(2) Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.b. NovelBelenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991c. Kumpulan Cerpen(1) Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940(2) Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979d. Drama “Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.Karya Bahrum Rangkuti1) Puisi:a. Sajak-sajak yang Sudah Diterbitkan(1) “Tuhanku” Pandji Poestaka (1943)(2) “Langit dan Bumi Baru” Pandji Poestaka (1944)(3) “Peperangan Badar” Pandji Poestaka (1944)(4) “Prajurit Rohani” Pandji Poestaka (1944)(5) “Akibat” Pantja Raja (1946)(6) “Borobudur” Pantja Raja (1946)(7) “Cita-Cita” Pantja Raja (1946)(8) “Doa Makam” Pantja Raja (1946)(9) “Hidupku” Pantja Raja (1946)(10) “Insyaf” Pantja Raja (1946)(11) “Kembali” Pantja Raja (1946)(12) “Laut Kenangan” Pantja Raja (1946)(13) “Sakura” Pantja Raja (1946)(14) “Tugu Kenangan” Pantja Raja (1946)(15) “Laila” Gema Suasana (1948)(16) “Pasar Ikan” Gema (1948)(17) “Sajak-Sajak Muhammad Iqbal” Siasat (1951)(18) “Syuhada” Hikmah (1952)(19) “Iqbal” Hikmah (1953)(20) “Malam dari Segala Malam” Gema Islam (1962)(21) “Pesan” Gema Islam (1966)(22) “Nafiri Ciputat” Horison (1970)(23) “Anak-Anakku” Horison (1971)(24) “Dunia Baru” Horison (1971)(25) “Ayahanda” Horison (1971)(26) “Bunda” Horison (1971)(27) “Lebaran di Tengah-Tengah Gelandangan” Horison (1971)(28) “Mercon Malam Takbiran” Horison (1971)(29) “Pejuang” Horison (1971)(30) “Rumah” Horison (1971)(31) “Sembahyang di Taman HI” Horison (1971)(32) “Tuhan di Tengah-Tengah Insan” Horison (1971)(33) “Sumbangsih” Koninklijke Boekhandel dan Drukkery G. Kollf dan Co(34) “Hikmah Puasa dan Idul Fitri” Koninklijke Boekhandel dan Drukkery G. Kollf dan Cob. Sajak-sajak yang Belum Diterbitkan dan Tahun Ciptaannya(1) “Tao Toba” (1970)(2) “Sipirok” (1970)(3) “Natalandi Gita Bahari” (t.th.)(4) “Nunukan” (1970)(5) “Mesjid di Tanjung Selor” (1970)(6) “Ka’bah” (1971)(7) “Bungan Bondar” (1971)(8) “Mina” (1971)(9) “Madinah” (1971)(10) “Arafah” (1971)(11) “Makkah” (1971)(12) “Hajir” (1971)(13) “Nisbah” (1971)(14) “Yang Genap dan Yang Ganjil” (1971)(15) “Bengkel Manusia” (t.th.)(16) “meluruskan bahtera” (1973)(17) “Nyanyian di Pohon Kelapa” (1973)(18) “Mi’raj” (t.th.)(19) “kepada Biniku A. Bara” (t.th.)(20) “Isa a.s.” (1969)(21) “Idul Fitri” (t.th.)(22) “Mula Segala” (1969)(23) “Muhammad s.a.w.” (1969)(24) “Beton, Beling, dan Besi” (t.th.)(25) “Laut Lepas Menanti” (t.th.) (PDS. H.B. Jassin) 2) Drama(1) “Laila Majenun” Gema Suasana (1949)(2) “Sinar memancar dari Jabal Ennur” Indonesia (1949)(3) “Asmaran Dahana” Indonesia (1949)(4) “Arjuna Wiwaha”3) Cerpen(1) “Ditolong Arwah” Pandji Poestaka (1936)(2) “Rindu” Poedjangga Baroe (1941)(3) “Renungan Jiwa” Pandji Poestaka (1942)(4) “Ngobrol dengan Cak Lahama” gema Suasana (1946)(5) “Sayuti Parinduri Alfaghuru” atau “Antero Krisis Cita, Moral, dan benda” Zenith (1952)(6) “Laut, Perempuan, dan Tuhan” Gema Tanah Air (1969) 4) Esai(1) “Setahun di negeri Bulan Bintang I” Zenith (1951)(2) “Setahun di negeri Bulan Bintang II” Zenith (1951)(3) “Setahun di negeri Bulan Bintang II” Zenith (1951)(4) “Angka dan Penjelmaannya” Zenith (1951)(5) “Pengantar kepad Cita Iqbal” Indonesia (1953)(6) “Kandungan Al Fatihah” (1953)(7) “Nabi Kita” Bacaan untuk Anak-anak (t.th.)(8) “Islam dan kesusastraan Indonesia Modern”: skripsi s-1 (1961). Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul(9) “Islam and “Modern Indonesian Literature”(10) “Pramudya Ananta Toer; dan Karya seninya” (1963)(11) “Terapan Hikmah Isra dan Mikraj dalam kehidupan Sehari-hari” Operasi (1968)(12) “Muhammad Iqbal Pemikir dan Penyair” ceramah di TIM (1969)(13) “Ceramah Tentang Cita-Cita M. Iqbal” TIM (1976)(14) “Al Quran, Sejarah, dan Kebudayaan” Pidato pengukuhan sebagai Guru Besar (1976)(15) “Sejarah Indonesia I dan II”(16) “Metode Mempelajari Tafsir Qur’an dan Bahasa Arab”(17) “Sejarah Khalifah Usman r.a”(18) “Sejarah Nabi Muhammad s.a.w”(19) “Islam dan PEmbangunan”(20) “The Spritual Wealth in Islam” 5) Terjemahan (1) “Puisi Dunia” karya Sophocles dari Antagone (1948)(2) “Dengan Benih Kemerdekaan” karya Alexander Pushkin (1949)(3) “Kepada Penyair” karya M. Iqbal(4) “Insan dan Alam” karya M. Iqbal (1953)(5) “Waktu itu Adalah Pedang” karya M. Iqbal (1953)(6) “Iqbal Di Hadapan Rumi” karya M. Iqbal (1953)(7) “Soledad Montoya” karya Lorca(8) “Lintas Sejarah Dunia” karya Jawaharlal Nehru(9) “Asrar-J. Khudi” karya Dr. Muhammad IqbalSumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Adinegoro

Biografi Adinegoro lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada tanggal 14 Agustus 1904. Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di Stovia ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Maka, dipakainyalah nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru. Ia pun bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin. Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman Timur. Ia mendalami masalah jurnalistik di sana. Selain itu, ia juga mempelajari masalah kartografi, geografi politik, dan geopolitik. Tentu saja, pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik.
Adinegoro, memang, lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan. Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926—1930), ia nyambi menjadi wartawan bebas (freelance journalist) pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta). Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka (pada tahun 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama di sana , hanya enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932—1942). Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948—1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Persbiro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi KBN Antara). Sampai akhir khayatnya Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut. Dua buah novel Adinegoro yang terkenal (keduanya dibuat pada tahun 1928), yang membuat namanya sejajar dengan nama-nama novelis besar Indonesia lainnya, adalah Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982) mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu (yang dijalankan oleh pihak kaum tua). Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga membuat novel lainnya, yaitu Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1930. Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul “Kritik atas Kritik” terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang dieditori oleh Achdiat Karta Mihardja (1977). Dalam esainya itu. Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tak dapat ditiru oleh orang lain. Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan demikian pun sebaliknya. Karya-karya Adinegoroa. Novel1. Darah Muda. Batavia Centrum: Balai Pustaka. 1931 2. Asmara Jaya. Batavia Centrum: Balai Pustaka. 1932. 3. Melawat ke Barat. Jakarta: Balai Pustaka. 1950. b. Cerita pendek 1. “Bayati es Kopyor”. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961, hlm. 3—4, 32. 2. “Etsuko”. Varia. No. 278. Th. Ke-6. 1961. hlm. 2—3, 31 3. “Lukisan Rumah Kami”. Djaja. No. 83. Th. Ke-2. 1963. hlm. 17—18. 4. “Nyanyian Bulan April”. Varia. No. 293. Th. Ke-6. 1963. hlm. 2-3 dan 31—32.

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Amir Hamzah

Biografi Nama lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah, tetapi biasa dipanggil Amir Hamzah. Ia dilahirkan di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911. Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Pamannya, Machmud, adalah Sultan Langkat yang berkedudukan di ibu kota Tanjung Pura, yang memerintah tahun 1927-1941. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil (yang tidak lain adalah saudara Sultan Machmud sendiri), menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur.Mula-mula Amir menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916. Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927.
Amir, kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum.Amir Hamzah tidak dapat dipisahkan dari kesastraan Melayu. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam dirinya mengalir bakat kepenyairan yang kuat. Buah Rindu adalah kumpulan puisi pertamanya yang menandai awal kariernya sebagai penyair.
Puncak kematangannya sebagai penyair terlihat dalam kumpulan puisi Nyanyi Sunyi dan Setanggi Timur. Selain menulis puisi, Amir Hamzah juga menerjemahkan buku Bagawat Gita.Riwayat hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Ketika itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai.Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepda rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung.Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revuolusi sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Achdiat Karta Miharja

Biografi Achdiat Karta Miharja lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, tanggal 6 Maret 1911. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga menak yang feodal. Ayahnya bernama Kosasih Kartamiharja, seorang pejabat pangreh praja di Jawa Barat. Achdiat rnenikah dengan Suprapti pada bulan Juli 1938. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai lima orang anak.Ia memulai sekolah dasarnya di HIS (sekolah Belanda) di kota Bandung dan tamat tahun 1925. Ia masuk ke AMS (sekolah Belanda setara SMA), bagian Sastra dan Kebudayaan Timur, di kota Solo tahun 1932. Lalu, melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia di kota Jakarta. Ketika kuliah, ia pernah diajar oleh Prof. Beerling dan Pastur Dr. Jacobs S.J., dosen Filsafat. Tahun 1956, dalam rangka Colombo Plan, Achdiat men¬dapat kesempatan belajar bahasa dan sastra Inggris, serta karang me-ngarang di Australia.Tamat dari AMS, Achdiat sempat mengajar di Perguruan Nasio¬nal, Taman Siswa, tetapi tidak lama. Tahun 1934 Ia beralih kerja menjadi anggota redaksi Bintang Ti¬mur dan redaktur mingguan Paninjauan. Tahun 1941 Ia menjadi redak¬tur Balai Pustaka. Pada zaman pendudukan Jepang, Achdiat menjadi penerjemah di bagian siaran, radio Jakarta. Tahun 1946 ia me¬mimpin mingguan Gelombang Zaman dan Kemajuan Rakyat yang terbit di Garut sekaligus menjadi anggota bagian penerangan pe¬nyelidik Divisi Siliwangi.
Tahun 1948 Ia kembali bekerja sebagai re¬daktur Balai Pustaka. Tahun 1949 Ia menjadi redaktur kebudayaan di berbagai majalah, seperti Spektra dan Pujangga Baru di samping seba¬gai pembantu kebudayaan harian Indonesia Raya dan Konfrontasi. Pada tahun 1951–1961, Ia dipercayai memegang jabatan Kepala Bagian Nas¬kah dan Majalah Jawatan Pendidikan Masyarakat Kementerian PPK.Pada tahun 1951 Achdiat juga menjadi wakil ketua Organisasi Pe¬ngarang Indonesia (OPI) dan anggota pengurus Badan Musyawarah Ke¬budayaan Nasional (BMKN). Pada tahun itu juga, ia bertugas menjadi Ketua Seksi Kesusastraan Badan Penasihat Siaran Radio Republik Indo¬nesia (BPSR) dan menjadi Ketua Pen-Club Internasional Sentrum Indo¬nesia. Tahun 1954 Achdiat menjabat ketua bagian naskah/majalah baru. Tahun 1959 ia menjadi anggota juri Hadiah Berkala BMKN untuk ke¬susastraan. Tahun 1959–1961 Achdiat menjadi dosen Sastra Indonesia Modern di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta. Pada tahun 196 1—1969 ia mendapat kesempatan untuk menjadi Lektor Kepala (senior lecturer) di Australian National University (ANU) Canberra.Achdiat tertarik pada sastra berawal dari rumahnya sendiri, ketika ia masih kecil, masih di SD. Ayahnya adalah seorang penggemar sastra, terutama sastra dunia. Ayahnya sering menceritakan kembali karya-karya yang telah dibacanya kepada Achdiat. Lama-kelamaan, Achdiat kecil pun menjadi gemar juga membaca buku-buku koleksi ayahnya itu. Ia pun ikut melahap buku-buku sastra ayahnya itu. Dari koleksi ayahnya, ia telah membaca, antara lain, buku karangan Dostojweski, Dumas, dan Multatuli. Buku Quo Vadis karya H. Sinckiwicq, Alleen op de Wereld karya Hector Malot dan Genoveva karya C. von Schimdt, bahkan telah dibacanya ketika kelas VI SD.Hasilnya adalah tulisan-tulisan Achdiat yang lahir di kemudian hari, baik itu yang berupa kar¬ya sastra maupun esai tentang sastra atau kebudayaan. Novelnya yang berjudul Atheis adalah novel yang membawa namanya di deretan pengarang novel terkemuka di Indonesia. Banyak pakar sastra yang membicarakan novelnya itu, antara lain, Ajip Rosidi, Boen S. Oemarjati, A. Teeuw, dan Jakob Sumardjo.Karya-Karya Achdiat Karta Mihardja:a. Cerpen(1) Kesan dan Kenangan (kump. cerpen). 1960. Jakarta: Balai Pustaka.(2) Keretakan dan Ketegangan (kump. cerpen).1956. Jakarta: Balai Pustaka.(3) Belitan Nasib (kump. cerpen). 1975. Singapura: Pustaka Nasional.(4) Pembunuh dan Anjing Hitam (kump. cerpen). Jakarta: Balai Pus¬(5) “Pak Sarkam”. Poedjangga Baroe. No.5, Th. 13, 1951.(6) “Buku Tuan X”. Poedjangga Baroe. No.7,8, Th. 4, 1953.(7) “Salim, Norma, Sophie”. Prosa. No.2, Th. 1, 1953.(8) “Sutedjo dan Rukmini”. Indonesia. No. 8,9, Th. 4, 1953.(9) “Bekas Wartawan Sudirun”. Indonesia. Th. 4, 1953.(10) “Si Ayah Menyusul”. Konfrontasi. No. 18, 1957.(11) “Si Pemabok”.Varia. No. 104, Th. 3. 1960.(12) “Latihan Melukis”. Budaya Jaya. No. 47, Th. 5. 1972.b. Puisi(1) “Pemuda Indonesia”. Gelombang Zaman, 2.1, (45), 2.(2) “Bagai Melati”. Gelombang Zaman, 7.1(46), 2.(3) “Bunga Bangsa”. Gelombang Zaman, 13.1 (46), 2.(4) “O, Pudjangga”. Gelombang Zaman, 35.1, (46), 10.c. Novel(1) Atheis. 1949. Jakarta: Balai Pustaka.(2) Debu Cinta Bertebaran. 1973. Malaysia: Pena Mas.d. Drama(1) Bentrokan dalam Asmara. 1952. Jakarta: Balai Pustaka.(2) ‘Pak Dulah in Extremis”. Indonesia. No. 5, Tb. 10. 1959.(3) “Keluarga R. Sastro” (drama satu babak). Indonesia. No. 8. Th.5. 1959.e. Esai, antara lain(1) Polemik Kebudayaan. 1948. Jakarta: Balai Pustaka.(2) “Ada Sifat Tuhan dalam Diri Kita”. Pikiran Rakyat 28 Juni 1991.(3) “Pengaruh Kebudayaan Feodal”. Sikap. Tb. ke-1, 13/X, 1948.(4) “Bercakap-cakap dengan Jef Last”. Kebudayaan 10 Agustus 1950.Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Abdul Muis

Biografi Abdul Muis (1883—1959)Abdul Muis lahir pada tanggal 3 Juni 1883 di Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia adalah putra Datuk Tumenggung Lareh, Sungai Puar. Seperti halnya orang-orang Minangkabau Iainnya, Abdul Muis juga memiliki jiwa petualang yang tinggi. Sejak masih remaja ia sudah berani meninggalkan kampung halamannya, merantau ke Puiau Jawa. Bahkan, masa tuanya pun dihabiskannya di perantauan. Sastrawan yang sekaligus juga pejuang dan wartawan mi meninggal dunia di Bandung pada tanggal 17 Juni 1959 dalam usia 76 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra, Bandung, sehari kemudian. Ia meninggalkan dua orang istri dan tiga belas orang anak (lihat Mimbar Indonesia, No.24-25, 18 Juni 1959; Suluh Indonesia. No~211, l9Juni 1959; dan HarianAbadi, No.132, l9Juni 1959).Abdul Muis hanyalah lulusan Sekolah Eropa Rendah (Eur. Lagere School atau yang sering disingkat ELS). Ia memang pernah belajar di Stovia selama tiga setengah tahun (1900–1902). Namun, karena sakit, ia terpaksa keluar dan sekolah kedokteran tersebut. Pada tahun 1917 ia sempat pergi ke Negeri Belanda untuk menambah pengetahuannya.
Meskipun hanya berijazah ujian amtenar kecil (klein ambtenaars examen) dan ELS, Abdul Muis memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang baik. Bahkan, menurut orang Belanda, kemampuan Abdul Muis dalam berbahasa Belanda dianggap melebihi rata-rata orang Belanda sendiri (Mimbar Indonesia. No.24-25, 19 Juni 1959). Oleh karena itu, begitu keluar dan Stovia, ia diangkat oleh Mr. Abendanon, Directeur Onderwzjs (Direktur Pendidikan) pada Departement van Onderwijs en Eredienst yang kebetulan membawahi Stovia. menjadi kierk. Padahal, pada waktu itu belum ada orang prihumi yang diangkat sebagai kierk. Konon, Abdul Muislah orang indonesia pertama yang dapat menjadi kierk.Pengangkatan Abdul Muis menjadi kierk tersebut ternyata tidak disukai oleh pegawai-pegawai Belanda lainnya. Hal itu tentu saja membuat Abdul Muis tidak betah bekerja. Akhirnya, pada tahun 1905 Ia keluar dan Departemen itu setelah dijalaninya selama Iebih kurang dua setengah tahun (1903– 1905).Sekeluarnya dan Department van Onderwzjs en Eredienst sebagai kierk hingga akhir hayatnya, Abdul Muis sempat menekuni berbagai macam pekerjaan, baik di bidang sastra, jurnalistik. maupun politik. Bidang pekerjaan yang pertama kali diterjuninya adalah bidang jurnalistik. Pada tahun 1905 itu juga ia diterima sebagai anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia, sebuah majalah yang banyak memuat berita politik, di Bandung. Karena pada tahun 1907 Bintang Hindia dilarang terbit, Abdul Muis pindah kerja ke Bandungsche Afdeelingsbank sebagai mantri lumbung. Pekerjaan itu ditekuninya selama lebih kurang lima tahun, sebelum ia diperhentikan dengan hormat (karena cekcok dengan controleur) pada tahun 1912. Ia kemudian bekerja di De Prianger Bode, sebuah surat kabar (harian) Belanda yang terbit di Bandung, sebagal korektor, Hanya dalam tempo tiga bulan, ia diangkat menjadi hoofdcorrector(korektor kepala) karena kemampuan berbahasa Belandanya yang baik (Mimbar Indonesia. No.24-25, 119 Juni 1959).Pada tahun 1913 Abdul Muis keluar dan De Prianger Bode. Sebagai pemuda yang berjiwa patriot, ia mulai tertarik pada dunia politik dan masuklah ia ke Serikat Islam (SI). Bersama dengan mendiang A.H. Wignyadisastra, Ia dipercaya untuk memimpin Kaum Muda, salah satu surat kabar milik SI yang terbit di Bandung. Pada tahun itu pula, atas imsiatif dr. Cipto Mangunkusumo, Abdul Muis (bersama dengan Wignyadisastra dan Suwardi Suryaningrat) membentuk Komite Bumi Putra untuk mengadakan perlawanan terhadap maksud Belanda mengadakan perayaan besar-besaran 100 tahun kemerdekaannya serta untuk mendesak Ratu Belanda agar memberikan kebebasan bagi bangsa Indonesia dalam berpolitik dan bernegara (Mimbar Indonesia, No.24-25, 19 Juni 959).Di zaman pergerakan, bersama dengan H.O.S. Cokroaminoto, Abdul Muis terus berjuang memimpin Serikat Islam. Pada tahun 1917 ia dipercaya sebagai utusan SI pergi ke Negeri Belanda untuk mem-propagandakan comite Indie Weerbaar.Pada tahun 1918, sekembalinya dan Negeri Belanda, Abdul Muis terpaksa harus pindah kerja ke harian Neraca karena Kaum Muda telah diambil alih oleh Politiek Economische Bond, sebuah gerakan politik Belanda di bawah pimpinan Residen Engelenberg. Pada tahun 1918 itu juga, Abdul Muis menjadi anggota dewan Volksraad (Dewan Rakyat Jajahan).Perjuangan Abdul Muis ternyata tidak hanya berhenti sampal di situ. Bersama dengan tokoh-tokoh lainnya, Abdul Muis terus berjuang menentang penjajah, Belanda. Pada tahun 1922, misalnya, ia memimpin anak buahnya yang tergabung dalain PPPB (Perkumpulan Pegawal Pegadaian Bumiputra) mengadakan pemogokan di Yogyakarta. Setahun kemudian, ia pun memimpin sebuah gerakan memprotes aturan landrentestelsel (Undang-undang Pengawasan Tanah) yang akan diberlakukan oleh Belanda di Sumatra Barat (Biodata “Abdul Muis” yang tersimpan di Perpustakaan PDS H.B. Jassin). Protes tersebut herhasil. Dan, landrentestelsel pun urung diberlakukan. Di samping itu, ia juga masih tetap memimpin harian Utusan Melayu dan Perobahan. Melalui kedua surat kabar tersebut ia terus melancarkan serangannya.Oleh pemerintah Belanda, tindakan Abdul Muis tersebut dianggap dapat mengganggu ketenteraman dan ketertiban masyarakat. OIeh karena itu, pada tahun 1926 Abdul Muis ‘dikeluarkan’ dan daerah luar Jawa dan Madura. Akibatnya, selama Iebih kurang tiga belas tahun (1926–1939) Ia tidak diperkenankan meninggalkan Pulau Jawa.Meskipun tidak boleh meninggalkan Pulau Jawa, tidak berarti Abdul Muis berhenti berjuang. Ia kemudian mendirikan harian Kaum Kita di Bandung dan Mimbar Rakyat di Garut. Sayang, kedua surat kabar tersebut tidak lama hidupnya.Di samping berkecimpung di dunia pers, Abdul Muis tetap aktif di dunia politik. Oleh Serikat Islam ia pada tahun 1926 dicalonkan (dan terpilih) menjadi anggota Regentschapsraad Garut. Enam tahun kemudian (1932) ia diangkat menjadi Regentschapsraad Gontroleur. Jabatan itu diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia (1942).Di masa pendudukan Jepang, Abdul Muis masih kuat bekerja meskipun penyakit darah tinggi mulai meñggerogotinya. Ia, oleh Jepang, diangkat sebgai pegawai sociale zaken ‘hal-hal kemasyarakatan’. Karena sudah merasa tua, pada tahun 1944 Abdul Muis berhenti bekerja. Anehnya, pada zaman pascaprokiamasi, ia aktif kembali dan ikut bergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan. Bahkan, ia pernah pula diminta untuk menjadi anggota DPA.Bakat kepengarangan Abdul Muis sebenarnya baru terlihat setelah Ia bekerja di dunia penerbitan, terutama di harian Kaum Muda yang dipimpinnya. Dengan menggunakan inisial nama: A.M. ia menulis hanyak hal. salah satu di antananya adalah roman sejarahnya. Surapati. Konon. sebelum diterbitkan sebagai buku, roman tersebut dimuat sebagal feui/.leton ‘cerita bersambung’ pada Kaum Muda.Sebagai sastrawan, Abdul Muis tergolong kurang produktif. Menurut catatan yang ada, ia hanya menghasilkan empat buah novel/roman dan beberapa karya terjemahan saja. Namun, dari karyanya yang hanya sedikit itu, nama Abdul Muis tercatat indah dalam sejarah sastra Indonesia. Konon, karya besarnya, Salah Asuhan, dianggap sebagal corak baru penulisan prosa pada saat itu. Jika pada saat itu sebagian besar penganang selalu menyajikan tema-tema lama: pertentangan kaum tua dengan kaum muda, kawin paksa, dan adat istiadat, Salah Asuhan justru menampilkan masalah konflik pribadi: dendam, cinta, dan cita-cita.Karya-karya Abdul Muis(1) Tom Sawyer Anak Amerika (terjemahan dan karya Mark Twain, Amerika), Jakarta:Balai Pustaka, 1928(2) Sebatang Kara (terjemahan dan karya Hector Malot, Perancis), cetakan 2, Jakarta:Balai Pustaka, 1949(3) Hikavat Bachtiar (saduran cerita lama), Bandung:Kolff, 1950(4) Hendak Berbalai, Bandung:KoIff, 1951(5) Kita dan Demokrasi, Bandung:Kolff, 1951(6) Robert Anak Surapati, Jakarta:Balai Pustaka, 1953(7) Hikayat Mordechai: Pemimpin Yahudi, Bandung:Kolff. 1956(8) Kurnia, Bandung:Masa Baru, 1958(9) Pertemuan Djodoh (cetakan 4), Jakarta:Nusantana, 1961(10) Surapati. Jakarta:Balai Pustaka, 1965(11) Salah Asuhan, Jakarta:Balai Pustaka, 1967(12) Cut Nyak Din: Riwayat Hithip Seorang Putri Aceh (Terjemahan dan karya Lulofs, M.H. Szekely), Jakarta:Chailan Sjamsoe, t.t.(13) Don Kisot (terjemahaiun dan karya Cervantes, Spanyol)(14) Pangeran Kornel (terjemahan dan karya Memed Sastrahadiprawira, Sunda)(15) Daman Brandal Sekolah Gudang, Jakarta:Noordhoff, t.t.Sumber : http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.