RSS

Category Archives: Biografi Sastrawan Indonesia

Tajuddin Noor Ganie

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. (TNG) dilahirkan di kota Banjarmasin, 1 Juli 1958.Menempuh pendidikan dasarnya di SDN Mawar Kencana Banjarbaru (lulus tahun 1971), kemudian melanjutkan ke SMEP Negeri Martapura (lulus tahun 1974), dan SMEAN Martapura (lulus tahun 1977).Ketika berusia 39 tahun, TNG secara tiba-tiba tertarik melanjutkan pendidikannya ke PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (tahun 2002 diwisuda dengan predikat sebagai wisudawan terbaik). Skripsinya berjudul Profil Sastrawan Kalsel 1930-1999 telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2002).Tanpa sempat jeda barang sejenak, tahun 2003 TNG langsung melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana (S2) PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (lulus dengan predikat sangat memuaskan). Tesisnya berjudul Karakteristik Paribasa : Kajian Bentuk, Fungsi, Makna, dan Nilai telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2006).
Semua bahan kajian yang dikumpulkannya untuk keperluan menulis tesis ini pada tahun 2006 diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kamus Peribahasa Banjar (dengan jumlah entri/lema 1.538 buah, tahun 2007 sudah dicetak ulang), pada tahun 2011 diterbitkan Kamus Peribahasa Banjar dengan jumlah entri/lema sebanyak 9.058 buah).Sejak tahun 1979, bekerja di lingkungan Departemen Tenaga Kerja. Transmigrasi, dan Koperasi (Depnakertranskop). Pernah bertugas di Kantor Binaguna Tenaga Kerja Kotamadya Banjarmasin (1978-1985), Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru (1986), Kantor Kursus Latihan Kerja di Pelaihari (1986-1988), Kantor Kepaniteraan P4 Daerah Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1988-2006), dan sejak tanggal 1 Juni 2006 dipindah-tugaskan ke Balai Hyperkes dan Keselamatan Kerja di Banjarmasin.Sejak tahun 2002, TNG menjadi dosen tamu untuk mata kuliah kajian prosa fiksi, kritik sastra, pendekatan struktural sastra, penelitian sastra dan pengajarannya, penulisan kreatif sastra, prosa fiksi dan drama, puisi, sastra Banjar, dan sosiologi sastra di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.Kegiatan lain yang juga ditekuninya secara serius adalah sebagai Pengelola Harian Rumah Pustaka Karya Sastra dan Rumah Pustaka Folklor Banjar di Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalsel.Melalui lembaga penelitian dan dokumentasi yang dipimpinnya ini TNG memberikan bantuan bahan referensi yang diperlukan kepada masyarakat umum dan para mahasiwa yang sedang menulis skripsi mengenai masalah-masalah sastra Indonesia, sastra Banjar, dan Folklor Banjar.Mulai merintis karier sebagai penulis karya sastra sejak tahun 1980-an. Publikasi karya sastranya, meliputi puisi, cerpen dan esei sastra. Buletin/jurnal/ koran/majalah yang pernah memuat karya tulisnyanya antara lain: Buletin Antara Spektrum LKBN Antara, SKH Berita Buana, SKH Suara Karya, SKH Pelita, SKH Terbit, SKH Merdeka, SKM Swadesi, SKM Simponi, Majalah Senang, Majalah Idola, Majalah Topik. Majalah Misteri, SKH Media Indonesia, Majalah Warnasari, Majalah Intisari, Jurnal Kebudayaan (jurnal imiah Depdikbud), Majalah Mata Baca (semuanya terbitan Jakarta), SKH Jawa Pos, SKH Surya, Majalah Liberty (semuanya terbitan Surabaya), SKM Minggu Pagi (Yogyakarta), Majalah Bahana (Brunei Darussalam), SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita, SKH Kalimantan Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Mata Banua, dan SKM Orbit Post (semuanya terbitan Banjarmasin).Sejumlah tulisan TNG yang pernah dimuat di berbagai koran/majalah edisi online dapat dibaca kembali melalui website mesin pencari data : Google/Tajuddin Noor Ganie atau Yaaho/Tajuddin Noor Ganie. Email : tajuddinnoorganie@Yahoo. comAntologi puisinya yang sudah diterbitkan adalah Bulu Tangan (HPMB, Banjarmasin, 1982),Sedangkan antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain : Antologi Puisi ASEAN (Denpasar, 1982), Puisi Indonesia (Jakarta, 1987), Selagi Ombak Mengejar Pantai 6 (Selangor, 1989), Festival Puisi XII (Surabaya, 1990), Potret Pariwisata Indonesia Dalam Puisi (Jakarta, 1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995).Selain itu, TNG juga telah menjadi editor untuk sejumlah penerbitan antologi puisi bersama terbitan Banjarmasin, antara lain : Dahaga-B.Post 1981 (1982), Banjarmasin Kota Kita (1984), Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1986), dan Festival Puisi Kalimantan (1992),Buku sastra hasil karya TNG yang lainnya yang juga sudah diterbitkan dalam bentuk buku antara lain adalah : Penyair Kalsel Terkemuka Selepas Tahun 1980 (1992), Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (1995), Apa dan Siapa Sastrawan Kalsel (1985), Ensiklopedi Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (Edisi 1995) (naskah aslinya disimpan di Perpustakaan KITLV Leiden, dan telah pula dimuat secara bersambung di SKM Media Masyarakat Banjarmasin, 1995-1996), Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (bersama Jarkasi, Pusat Bahasa Banjarmasin, 2001), Profil Sastrawan Kalimantan Selatan 1930-1999 (berasal dari naskah Skripsi S1, PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, 2002), Karakteristik Bentuk, Makna, Fungsi dan Nilai Peribahasa Banjar (berasal dari tesis S2, PBSID FKIP Unlam Banjarmasin, 2005), dan Kamus Peribahasa Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, 2006)Buku kumpulan cerpennya berjudul Nyanyian Alam Pedalaman (bersama dengan Hadian Noor) telah diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta pada tahun 1999.Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen hasil karya sastrawan Kalsel yang pertama kali diterbitkan di luar daerah Kalsel.Novelnya berjudul Tegaknya Masjid Kami telah dimuat secara bersambung di SKH Radar Banjarmasin (2005).Pada tahun 2005, menjadi anggota tim penulis Riwayat Hidup Walikota Banjarmasin H. Midfai Yabani berjudul Perjalanan Seorang Wali Kelas Menjadi WalikotaSejumlah cerpennya juga sudah dijadikan sebagai objek penelitian untuk penulisan skripsi oleh sejumlah mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, antara lain : Profil Tokoh Antagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Fetty Dahliani, 2001), Profil Tokoh Protagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Ni Ketut Suwandi, 2001), Analisis Tema dan Penokohan Dalam Kumpulan Cerpen Karya Tajuddin Noor Ganie (Noorhidayat, 2003), Cerita Rakyat Etnis Banjar Sebagai Sumber Ilham Penulisan Kreatif Sastra : Analisis Hubungan Intertektualitas Penulisan Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Dra. Hj. Endang Sulistyowati, M.Pd, 2005), dan Gambaran Manusia Banjar dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie di Majalah Idola Jakarta (Miftahul Jannah, 2009), Citraan dalam Antologi Puisi Bulu Tangan Karangan Tajuddin Noor Ganie (Mukhlis, 2010), dan Profil Tokoh Pendulang Intan dalam Cerpen-cerpen Karangan Para Cerpenis Kalsel (Raya Saidyah, 2010).Forum sastra dan budaya yang pernah diikutinya antara lain : Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel, (Banjarmasin, 1982), Apresiasi Puncak Penyair ASEAN (Denpasar, 1983), Siklus Lima Penyair Kalsel, (Banjarmasin, 1983). Festival Puisi XII (Surabaya, (1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Hari Sastera X (Shah Alam, Selangor, Malaysia, 1993), Festival Puisi XIV (Surabaya, 1994), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995), Temu Penyair Nasional (Tasikmalaya, 1999), dan Dialog Borneo VII (Banjarmasin, 2003)Berkaitan prestasi, reputasi dan dedikasinya sebagai sastrawan TNG telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain : Penulis Esai Sastra dalam Rangka Bulan Bahasa dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Jakarta, 1985), Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Ir. H. Akbar Tanjung, 1991), Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Gusti Hasan Aman, 1998), Penulis Naskah Fiksi Keagamaan dari Menteri Agama (Prof. Dr. Said Agil Husin al Munawar, (2002).Biografi kesastrawanan TNG ikut dimuat dalam sejumlah buku referensi antara lain : Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, Penerbit Djambatan Jakarta, 1990:186), Leksikon Kesusastraan (Suhendra Yusuf MA, Bandung, 1995:97), Sesuatu Indonesia (Afrizal Malna, Penerbit Yayasan Pustaka Adikarya, Jakarta, 2000), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2000), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2002), Ensiklopedi Sastra Indonesia (Hasanuddin WS dkk, Penerbit Titian Ilmu Bandung, 2007), Melayu Online, dan Wikipedia Indonesia (ensiklopedi dunia maya berkaitan dengan statusnya sebagai seorang budayawan Banjar).Alamat Rumah :Jalan Mayjen Soetoyo S,Gang Sepakat RT 13 Nomor 30,Banjarmasin, 70119Telepon Rumah (0511) 4424304Telepon Selular : 08195188521Email : tajuddinnoorganie@yahoo. co.idFacebook : tajuddinnoorganieDAFTAR BUKUTAJUDDIN NOOR GANIE1. Antologi Biografi Sastrawan Kalsel2. Asal-usul Orang Banjar3. Aspek-aspek Etnografi Laskar Pelangi4. Jatidiri Puisi Indonesia5. Kajian Puisi6. Kamus Mimpi Orang Banjar7. Kamus Peribahasa Banjar8. Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar9. Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung10. Mengenal Benda-benda Bertuah Magis dalam Religi Orang Banjar di Kalimantan Selatan11. Penyair Kalsel 1930-1942 : Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Mereka12. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin13. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Mantra14. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Pantun15. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Peribahasa16. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair17. Sasirangan, Kain Khas Tanah Banjar18. Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi19. Sejarah Nasional Cerpen Indonesia 1920-200920. Sejarah Nasional Drama Indonesia 1920-200921. Sejarah Nasional Kesusastraan Indonesia 1920-200922. Sejarah Nasional Puisi Indonesia 1920-200923. Sejarah Nasional Roman/Novel Indonesia 1920-200924. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-200925. Tegaknya Masjid Kami (Novel)26. Tengah Malam di Kuala Lumpur27. Teori dan Praktek Menulis Cerpen28. Teori dan Praktik Menulis Puisi29. Teori dan Praktik Penelitian Sastra30. Teori Sastra31. Tragedi Intan Trisakti

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Kahlil Gibran

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di Bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk.
Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik Organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di Apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”. Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah Asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931. Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik Kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

J.E. Tatengkeng

Biografi J.E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng memang merupakan salah satu fam dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907. J.E. Tatengkeng adalah satu-satunya penyair zaman Pujangga Baru yang membawa warna kekristenan dalam karya-karyanya. Hal ini tidaklah ganjil jika ditelusuri latar belakang kehidupannya. Ia adalah putra dari seorang guru Injil yang juga merupakan kepala sekolah zending. Di samping itu, tanah kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang tuanya, adalah sebuah pulau kecil di timur laut Sulawesi yang konon masyarakatnya hampir seluruhnya beragama Kristen. J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda, HIS, di Manganitu.
Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk Middagkweekscool atau Sekolah Pendidikan Guru Kristen di Bandung, Jawa Barat dan Christelijk Hogere Kweekschool atau Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen di Solo, Jawa Tengah. Di sekolah-sekolah itulah J.E. Tatengkeng mulai berkenalan dengan kesusastraan Belanda dan gerakan Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karyanya. Meskipun banyak dipengaruhi Angkatan 80-an Belanda, J.E. Tatengkeng ternyata juga tidak sependapat dengan Jacques Perk yang mempertaruhkan seni dalai segala-galanya. Dalam sebuah tulisannya, “Penyelidikan dan Pengakuan (1935), Tatengkeng menulis, “Kita tidak boleh menjadikan seni itu Allah. Akan tetapi, sebaliknya, janganlah kita menjadikan seni itu alat semata-mata. Seni harus tinggal seni.” Bagi Tatengkeng, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang menjelma ke indah kata! Itulah seni bahasa!,” katanya. Sebagai penyair, J.E. Tatengkeng dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam. Konon, kedekatan Tatengkeng dengan alam itu timbul sebagai akibat kekecewaannya karena tidak dapat menemukan kebenaran di dunia barat yang masih alami. Meskipun alam merupakan pelariannya dalam usaha menemukan kebenaran, alam baginya tetap merupakan misteri. Di kawanan awan, di warna bunga yang kembang, pada gunung, dan pada bintang, tetap saja Tatengkeng belum merasa berhasil menemukan kebenaran hakiki. Oleh karena itu, setelah jiwanya lelah mencari kebenaran hakiki, ia menjadikan Tuhan sebagai tempatnya berlabuh. Gelombang kehidupan Tatengkeng itu tergambar pada sebagian besar sajak-sajaknya. Tentu saja sajak-sajaknya yang religius itu bernafaskan ke-Kristenan, agama yang dianutnya. Sejak tahun 1953, J.E. Tatengkeng mulai jarang menulis. Akan tetapi, krativitasnya sebagai penyair tidak pernah hilang meskipun ia bergiat dalam bidang politik dan pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan beberapa sajaknya yang dimuat pada beberapa majalah setelah tahun 1953. J.E Tatengkeng meninggal pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Karya-Karya PuisiRindu Dendam. 1934. Solo: Chr. Derkkerij “Jawi” (Buku ini memuat 32 buah sajak) Dalam majalah Pujangga Baru“Hasrat Hati”“Laut”“Petang”“O, Bintang”“Sinar dan Bayang”“Sinar di Balik”“Tangis”“Anak Kecil”“Beethoven”“Alice Nahon”“Gambaran”“Katamu Tuhan”Willem Kloos” Dalam majalah lain“Anak Kecil”“Gadis Bali”“Gua Gaja”Ke Balai”“Sekarang Ini”“Sinar dan Bayang”“Aku Dilukis”“Bertemu Setan”“Penumpang kelas 1”“Aku Berjasa”“Cintaku”“Mengheningkan Cipta”“Aku dan Temanku”“Kepada Dewan Pertimbangan Kebudayaan”“Sang Pemimpin (Waktu) Kecil” Prosa“Datuk yang Ketularan”“Kemeja Pancawarna”“Prawira Pers Tukang Nyanyi”“Saya Masuk Sekolah Belanda”“Sepuluh Hari Aku Tak Mandi” Drama1. “Lena”. Sulawesi. No. 1. Tahun 1. 1958Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Hasan Alwi

Biografi Hasan Alwi adalah mantan Kepala Pusat Bahasa, Jakarta. Ia dilahirkan di Talaga, Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 14 Juli 1940. Ia dibesarkan dalam keluarga yang beragama Islam. Pada tahun 2000 bersama istrinya ia menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah. Hasan Alwi mempunyai empat orang anak. Hasan Alwi menyelesaikan pendidikan sekolah rakyat tahun 1952, SMP negeri tahun 1955, dan SGB tahun 1956, semuanya di Majalengka. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di SMA Taman Siswa, Bogor, tahun 1962. Pada tahun 1971 ia menyelesaikan pendidikan sarjana S-1 Jurusan Bahasa Prancis, IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Gelar akademiknya tertinggi diperoleh pada tahun 1990 dalam Program Doktor Bidang Linguistik, Universitas Indonesia.Sebelumnya, ia mengikuti pendidikan Centre de Linguistique Appliquée, Faculté de Lettres, Université de Besançon, Prancis (1973—1974), Post Graduate Training Programme for General and Austronesian Linguistics, Rijksuniversiteit, Leiden (1979—1980), dan Johann Wolfgang Goethe Universitat, Frankfurt (1986/1987).Karier Hasan Alwi diawali dengan menjadi guru SD di Banjaran, Talaga (1956–1959); di Ciheuleut, Bogor (1959–1962); dan di Jakarta (1962–1965). Kemudian, ia juga menjadi guru Bahasa Prancis pada SMA IPPI Jakarta, SMA Wedha Jakarta, SMA Santa Ursula II Jakarta, SMA Proyek Perintis Sekolah Pembangunan IKIP Jakarta (1965–1969). Ia juga mengajar bahasa Prancis pada Akademi Bahasa Asing, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1966-1978),
pada Djakarta Academy of Languages, Jakarta (1966–1979), pada Pusat Kebudayaan Prancis, Jakarta (1972–1986). Selain itu, ia pernah menjadi redaksi/penyiar pada Seksi Prancis, Siaran Luar Negeri, RRI Jakarta (1964–1973). Pada tahun 1978 Hasan Alwi bekerja di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pembantu pimpinan.Jabatan struktural yang pernah dipegang Hasan Alwi diawalinya ketika ia diangkat sebagai Kepala Bidang Perkamusan dan Peristilahan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pen¬didikan dan Kebudayaan (1991). Pada tahun 1992—2001 ia diangkat sebagai Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pen¬didikan dan Kebudayaan .Setelah selesai jabatannya itu, Hasan Alwi menjadi peneliti pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang). Selain itu, ia menjadi penguji/pembimbing/pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Padja¬djaran, Universitas Indonesia, dan Universitas Negeri Jakarta (1992–sekarang).Sebagai ahli bahasa, Hasan Alwi banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan profesinya, baik dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan itu, antara lain, sebagai penanggung jawab majalah Cadence, Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (1988–1990), Pemimpin Redaksi Majalah Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang), Dewan Penasihat Pengurus Pusat Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Periode 1994-1997 dan 1997—2000, Ketua Panitia Penyelenggara Kongres Bahasa Indonesia VI Tahun 1993 dan Kongres Bahasa Indonesia VII Tahun 1998, Wakil Ketua Panitia Pengarah Kongres Bahasa Jawa II, Batu, Malang, 1996, Ketua Komite Nasional RELC untuk Indonesia (1992—2001), Ketua Panitia Kerja Sama Kebahasaan (Pakersa)(1992—2001), Ketua Perutusan Indonesia pada Sidang Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim)(1992—1999 dan 2001), Ketua Perutusan Indonesia pada Sidang Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) (1996—1999 dan 2001), Ahli Jawatankuasa Mastera pada Bengkel Kesusastraan Bandingan 1996, 13–14 Agustus 1996, Kuala Lumpur, Ahli Jawatankuasa Eksekutif Majlis Antarabangsa Bahasa Melayu (MABM) (2000—2001), Ahli Jawatankuasa Kerja Majlis Antarabangsa Bahasa Melayu (MABM) (2001—sekarang), Ketua ASEAN-COCI Working Group on Literary and Asean Studies (1996—1998), dan Anggota Governing Board SEAMEO-RELC (2001—sekarang).Di samping itu, ia juga aktif di berbagai organisasi profesi, seperti Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (sebagai Sekretaris Pengurus Pusat , 1970—1973 dan Ketua Pengurus Pusat, 1983—1990; Pemimpin Redaksi majalah Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang); Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) ( anggota, 1986–sekarang); Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) (anggota, 988—sekarang); Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (anggota, 1999—sekarang)Dalam perjalanan kariernya sebagai pakar bahasa, Hasan Alwi banyak menghasilkan karya tulis, baik yang berupa buku maupun makalah, yang sudah diterbitkan dan yang belum diterbitkan, antara lain, sebagai berikut.A. Karya Tulis yang Sudah Diterbitkan1. Modalitas dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. 1992.2. “Kata Seperti, Mungkin, dan Barangkali”. .Dalam Berita ILDEP, Tahun II, No. 4 (1991): 26–363. “Dari Bahasa Melayu Ke Bahasa Indonesia: Pemantapan Sarana Pencerdasan Kehidupan Bangsa.” Majalah Sastra Horison. Desember 1996: 9–134. “Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia melalui Pembinaan Bahasa Indo¬nesia.” Majalah Bahasa dan Sastra Tahun XVI, No. 1, 1998: 1–155. “Sastra di Indonesia Perlukah Dibina dan Dikembangkan?”. Majalah Sastra Horison. Februari 1999: 6–96. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Tim Penyusun bersama Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. Jakarta: Balai Pustaka. 19997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Wakil Penanggung Jawab Tim Redaksi. Jakarta: Balai Pustaka. 1999 (Cetakan Pertama 1991)8. “Seputar Kalimat Imperatif dalam Bahasa Indonesia”. Dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (Ed.) 88–96. Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pusat Pem¬binaan dan Pengembangan Bahasa. 19999. ”Fungsi Politik Bahasa”. Dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (Ed.): 6—20. Politik Bahasa (Risalah Seminar Politik Bahasa). Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2000. 10. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakaiannya. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2000.11. “Penelitian Kebahasaan di Indonesia: Bagaimana Dasar Kebijakan dan Perencanaannya?” Dalam Bambang Kaswanti Purwo (Ed.):151—160. Tipologi Bahasa Pragmatik Pengajaran Bahasa. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atma Jaya. 200112. “Sastra dan Tingkat Keberaksaraan”. Dalam Riris K Toha-Sarumpaet (Ed.):12—19. Sastra Masuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera. 2002.13. “Bahasa Indonesia di Antara Kemauan Politik dan Belantara Pemakaiannya”. Dalam Ied Veda Sitepu (Ed.):3—22. Tujuh Puluh Tahun Pak Maurits Simatupang. Festschrift. Jakarta: Universitas Kristen Indonesia Press. 200214. “Bahasa Menunjukkan Bangsa”. Dalam Katharina Endriati Sukamto (Ed):201—216. Menabur Benih Menuai Kasih. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2004B. Karya Tulis yang Belum Diterbitkan1. “Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing.” Makalah Simposium Perkembangan Bahasa Indonesia di Kawasan Timur Jauh. 19–20 Juli 1993 di Tokyo2. “Pengajaran BIPA: Upaya Pengembangan.” Makalah Simposium Bahasa Indonesia di Asia Timur, 14–17 Desember 1995, Beijing3. “Upaya Pengembangan Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia.” Makalah Seminar Jaringan Melayu Antar Bangsa, 12–13 September 1996, Hotel Grand Hyatt, Jakarta4. “Bahasa, Daya Nalar, dan Kecermatan.” Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Budaya di Dunia Melayu (Asia Tenggara), Mataram, 21–23 Juli 19975. “Upaya Meningkatkan Pengajaran BIPA di Luar Indonesia.” Makalah Seminar dan Workshop Penyebaran/Peningkatan Studi Bahasa dan Kebu¬dayaan Indonesia, Passau (Jerman), 18–21 September 19976. “Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Sastra di Indonesia.” Makalah untuk Pertemuan Sastrawan Nusantara IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia di Sumatera Barat, 6–11 Desember 19977. “Upaya Peningkatan Kerja Sama Pembinaan dan Pengembangan Sastra dalam Menghadapi Tantangan Zaman.” Makalah Seminar Mastera I, Malaysia, 16 Februari 19988. “Beberapa Catatan tentang Penerjemahan.” Makalah Seminar Penerjemahan, dise-lenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2–6 Oktober 1978, di Wisma Arga Mulya, Tugu, Bogor9. “Pengembangan Kesusastraan Indonesia pada Abad Ke-21.” Makalah Per¬temuan Sastrawan Nusantara X dan Pertemuan Sastrawan Malaysia I, 16–20 April 1999, Johor Bahru, Malaysia10. “Sastra dan Tingkat Keberaksaraan”. Makalah Diskusi Angkatan Sastra 2000, Komunitas Sastra Indonesia, 2 Oktober 1999, PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki11. “Peran Tradisi dalam Sistem Pendidikan Nasional dan Pembentukan Wacana Kebudayaan”. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III, 14–16 Oktober 1999, Jakarta12. “Plus-Minus Kamus Badudu-Zain”. Makalah Seminar Bedah Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain, 2 Mei 2001, Universitas Padjadjaran, Bandung13. “Bahasa Indonesia di Antara Kemauan Politik dan Belantara Pemakaiannya”. Makalah Seminar Nasional XI Bahasa dan Sastra HPBI, 10—12 Juli 2001, BPG Denpasar14. “Penelitian Kebahasaan di Indonesia: Bagaimana Dasar Kebijakan dan Perencanaannya?”. Makalah Pertemuan Linguistik PELBA 14, 24—25 Juli 2001, Unika Atma Jaya, Jakarta15. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Bahan Penataran Leksikografi I, diselenggarakan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 13—16 Agustus 2001, Hotel Parkroyal, Kuala Lumpur16. “Bahasa Kebangsaan dan Pengembangan Ilmu”. Makalah Persidangan Serantau Bahasa, Sastra, dan Budaya Melayu, 20—23 Oktober 2001, Universiti Putera Malaysia, Serdang17. “Pemertahanan Bahasa Indonesia sebagai Upaya Pembinaan Peradaban Bangsa”. Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia-Melayu “Peran Bahasa dan Sastra Indonesia-Melayu dalam Pendidikan dan Pembinaan Peradaban Bangsa”, diselenggarakan oleh Universitas Pakuan bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Universitas Pakuan, Bogor, 14—16 September 200218. “Pembinaan Bahasa dalam Konteks Otonomi Daerah”. Makalah Seminar Bahasa dan Kebahasaan “Kebijakan Bahasa Nasional dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah”, Program Studi Linguistik USU bekerja sama dengan Ikatan Alumni Linguistik Program Pascasarjana USU, Pusat Bahasa USU, Medan, 22 April 2004 Atas dedikasinya pada profesinya itu, Hasan Alwi mendapat piagam tanda kehormatan, yaitu Satyalancana Dwidya Sistha dari Kepala Staf TNI-AL (1984); Satyalancana Karya Satya Tingkat III, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 001/TK/Tahun 1988, tanggal 6 Januari 1988; Satyalancana Karya Satya 30 Tahun, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 071/TK/Tahun 2001, tanggal 8 Agustus 2001; Penghargaan Pusat Bahasa sebagai pendiri Mastera (2005).Alamat Kantor: Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta TimurTelepon 021-4894564, Faksimile 021-4750407Pos-el: hasanalwi40@yahoo.comAlamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara VII No. 26, Kelurahan Jati Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta 13220, Telepon 021-4894227

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Idrus

Biografi Idrus lahir pada tanggal 21 September 1921, di Padang, Sumatera Barat. Ia menikah dengan Ratna Suri, pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat putra dan dua putri, Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riadi Idrus, Rizal Idrus, Damayati Idrus, Lenita Idrus, dan Taufik Idrus.Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu. Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai tempatnya bekerja. Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia di sana dan berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Dan, keinginannya itu pun terwujud, ia berkenalan dengan H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain. Meskipun menolak digolongkan sebagai sastrawan Angkatan ’45, ia tidak dapat memungkiri bahwa sebagian besar karyanya memang membicarakan persoalan-persoalan pada masa itu. Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya.
Hasratnya yang besar terhadap sastra membuatnya tidak hanya menulis karya sastra, tetapi juga menulis karya-karya ilmiah yang berkenaan dengan sastra, seperti “Teknik Mengarang Cerpen” dan “International Understanding Through the Study of Foreign Literature”. Kemampuannya menggunakan tiga bahasa asing (Belanda, Inggris, dan Jerman) membuatnya berpeluang untuk menerjemahkan buku-buku asing. Hasilnya, antara lain, adalah Perkenalan dengan Anton Chekov, Perknalan dengan Jaroslov Hask, Perkenalan dengan Luigi Pirandello, dan Perkenalan dengan Guy de Maupassant.Karena tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat terhadap penulis-penulis yang tidak sepaham dengan mereka, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air dan pindah ke Malaysia. Di Malaysia, lepas dari tekanan Lekra, ia terus berkarya. Karyanya saat itu, antara lain, Dengan Mata Terbuka (1961) dan Hati Nurani Manusia (1963).Di dalam dunia sastra, Kehebatan Idrus diakui khalayak sastra, terutama, setelah karyanya, Surabaya, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Aki diterbitkan. Ketiga karyanya itu menjadi karya monumental. Setelah ketiga karya itu, memang, pamor Idrus mulai menurun. Namun, tidak berarti ia lantas tidak disebut lagi, ia masih tetap eksis dengan menulis kritik, esai, dan hal-hal yang berkenaan dengan sastra di surat kabar, majalah, dan RRI (untuk dibacakan).Karya-KaryaNovel1. Surabaya2. Aki3. Perempuan dan kebangsaan4. Dengan Mata Terbuka5. Hati Nurani Manusia6. Hikayat Putri Penelope7. Hikayat Petualang LimaCerpen1. “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma”Drama1. Dokter Bisma2. Jibaku Aceh3. Keluarga Surono4. Kejahatan Membalas DendamKarya Terjemahan1. Kereta Api Baja2. Roti Kita Sehari-hari3. Keju4. Perkenalan dengan Anton Chekov5. Cerita Wanita Termulia6. Dua Episode Masa Kecil7. Ibu yang Kukenang8. Acoka9. Dari Penciptaan KeduaSumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Gorys Keraf

Biografi Dr. Gorys Keraf lahir di Lamera/ Lembata NTT tanggal 17 Nopember 1936. Beliau meninggal diusia 61 tahun pada tanggal 30 Agustus 1997.Beliau adalah seorang ahli bahasa di Indonesia dan juga tokoh Katolik Indonesia. Beliau menamatkan Sekolah Menengah Pertama di Seminari Hokeng (1954).Kemudian Sekolah Menegah Atas beliau selesaikan di Syuradikara Ende (1958). Masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959 hingga memperoleh gelar Sarjana Sastra Jurusan Bahasa Indonesia Jurusan Lingustik tahun 1964. Terakhir beliau meraih Doktor dalam bidang Lingustik dari Universitas Indonesia (22 Pebruari 1978) dengan disertasi berjudul Morfologi Dialek Lamarela.Pernah mengajar di SMA Syuradikara, SMA Seminari di Hokeng, SMA Buddahaya II Jakarta (1962—1965),
SMA Santa Ursula dan SMA Theresia (1964),. Beliau juga pernah menjadi dosen di Fakultas Pendidikan dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Unika Atma Jaya (1967), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian dan Jakarta Accademy Languages Jakarta (1971).Terakhir beliau menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak tahun 1963, disamping menjadi koordinator mata kuliah Bahasa Indonesia dan Retorika di Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia.Karya-karya beliau, antara lain;1. Tatabahasa Indonesia (1970)2. Komposisi (1971, 1980)3. Diksi dan Gaya Bahasa (1981)4. Eksposisi dan Deskripsi (1981)5. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Pendidikan Menengah (1991)6. Lingustik Bandingan Historis (1958)7. Lingusitik Bandingan Tipologis (1990)8. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia Untuk Umum (1992)br>

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Harimurti Kridalaksana

Biografi Harimurti Kridalaksana lahir di Ungaran, Jawa Tengah, pada tanggal 23 Desember 1939. Ia memiliki nama lengkap Raden Mas Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana. Pada tahun 1963 Harimurti menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Pada tahun 1971 ia mengikuti pendidikan tentang didaktik bahasa di University of Pittsburg, Amerika Serikat, dan pada tahun 1973 mengikuti summer school sekaligus menjadi visiting scholar di University of Michigan Ann Arbor, Amerika Serkat. Ia pernah menjadi Fulbright Scholar di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 1971; Ia juga pernah menjadi visiting scholar di University of Michigan, Amerika Serikat, pada 1973. Pada tahun 1985 ia menjadi pengajar dan peneliti tamu di Johan Wolfgang Goethe Universitat, Jerman. Kemudian, pada tahun 1987 ia memperoleh gelar doktor ilmu sastra .Harimurti memulai karier dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan pada tahun 1961 ketika ia menjadi guru dalam bidang civies dan penerjemah karya-karya dalam ilmu politik dan ilmu sosial selama beberapa tahun.
Pada tahun 1961 ia mulai mengabdi di Universitas Indonesia dan mendapat tugas mengajar sejarah linguistik dan linguistik historis komparatif Austronesia pada tahun 1963. Setahun kemudian Harimurti mengajar di Universitas Atma Jaya dan di pelbagai perguruan tinggi di Jakarta dan Yogyakarta, termasuk di Sekolah Staf dan Komando AngkatanLaut, Universitas Gadjah Mada. Ia juga pernah mengajar di Frankfurt, Napoli, Kuala Lumpur, dan Bangkok. Ia juga pernah dan masih menjadi external examiner di Universiti Malaya, Universiti Putra Malaysia, Annamalia University (India), dan Universiti Brunei Darussalam. Di Universitas Indonesia ia juga pernah menjadi Ketua Jurusan Sastra Indonesia dua kali dan menjadi Koordinator Bidang Ilmu Budaya Program Pascasarjana selama dua periode.Sebagai pakar bahasa, Harimurti telah manulis makalah lebih dari 100 dan buku lebih dari 20. Di awal kariernya, Ia pernah menulis, antara lain “Towards a standardization of phonologic and morphologic borrowed elements in Indonesian” dalam International Conference of Orientalists, Kuala Lumpur 1967; “Second participant in Indonesian address” dalam International Congress of Orientalist, Camberra (Australia) 1971; dan “Lexicography in Indonesia” dalam International Congress of Linguists, Wina (Austria) 1979. Beberapa penelitian lapangan pernah juga dilaksanakannya, antara lain penelitian sosiolinguistik di Jakarta dalam rangka kerja sama Stanford University dan Universitas Indonesia pada tahun 1969. Selain penelitian sosiolinguistik, Harimurti juga pernah mengadakan penelitian mengenai bahasa Melayu Riau di Pulau Bintan dan Pulau Lingga, lalu melanjutkan penelitiannya mengenai bahasa Orang Laut di Kepulauan Riau dan mengenai bahasa Orang Sakai di Riau Daratan dari tahun 1969 sampai dengan 1972 Penenlitian ini disponsori oleh Lembaga Research Kebudayaan Nasional LIPI. Kemudian, pada tahun 1974 ia melakukan survei politik bahasa di Malaysia, Singapura, dan Filipina.Harimurti adalah editor Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua dan Kamus Mandarin-Indonesia. Di antara buku-buku yang pernah ditulisnya ialah Kamus Linguistik, Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, Masa Lampau Bahasa Indonesia:Sebuah Bunga Rampai, Introduction to Word Formation and Word Classes in Indonesian, Wiwara: Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Makalah pentingterkini yang beredar di luar negeri berjudul “The Sanskrit legacy in Indonesia today” yang disajikannya dalam 11th World Conference of Sanskrit di Turino Italia pada 3 April 2000, dan “Paradigma semiotik dalam linguistik Melayu/Indonesia” yang disajikan di Universiti PutraMalaysia pada 22 Oktober 2001. Dalam bulan Juli 2002 diluncurkan buku terbarunya yang berjudul Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Di organisasi profesi Harimurti juga aktif. Ia pernah menjadi anggota organisasi ilmiah seperti Linguistic Society of America, Societas Linguistica Europaea, Royal Asiatic Society, International Association of Cognitive Linguistics, Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, Masyarakat Linguistik Indonesia, Perkumpulan Linguistik Malaysia. Ia juga menjadi salah seorang anggota International Committee on Indonesian Etymology, Ketua Himpunan Pembina Bahasa Indonesia yang pertama (2 periode), dan Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia 2 periode. Sampai sekarang ia masih menjadi profesor teori linguistik dan Bahasa Indonesia dan Kepala Pusat Leksikologi dan Leksikografi di Universitas Indonesia; dan pada 1 Desember 1999 ia mulai menjabat Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Asrul Sani

Biografi ASRUL SANI (1926—2004)*Asrul Sani lahir di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat, pada tanggal 10 Juni 1926 dan meninggal di Jakarta, pada tanggal …2004.Asrul Sani berasal dari keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang raja yang bergelar “Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti RaoMapat”. Meski membenci Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran musik bergengsi dari Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk pribumi pada saat itu, apalagi di daerah terbelakang seperti Rao). Oleh karena itu, Asrul patut berbangga hati karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya-karya terkenal dari Schubert. Ibunya adalah seorang wanita yang sederhana, namun sangat memperhatikan pendidikannya. Sejak kecil ia dimanjakan oleh ibunya dengan buku-buku cerita ternama. Ibunya selalu membacakan buku-buku tersebut untuknya. Oleh karena itu, sekali lagi, ia patut berbangga hati karena sebelum pandai membaca, ia sudah mendengar cerita Surat Kepada Raja karya Tagore.Inilah gambaran Asrul muda di mata Pramoedya Ananta Toer:Seorang pemuda langsing, gagah, ganteng, berhidung mancung bersikap aristokrat tulen…Tinggalnya di jalan Gondangdia Lama. Mendengar nama jalan ini saja, kami pribumi kampung yang lain, mau tak mau terpaksa angkat pandang menatap wajahnya.
Di Gondangdia Lama hanya ada gedung-gedung besar, megah, dan mewah. Akan tetapi, kami pun punya kebanggaan “penerbitan kami”. Begitulah, pada suatu kali kami undang dia datang menghadiri diskusi sastra. “Penerbitan” kebanggaan kami, kami perlihatkan kepadanya. Dia baca pendapat redaksi tentang sajak-sajak peserta. Tentunya, kami ingin tahu pendapatnya, dan sudah tentu juga perhatiannya. Ternyata pendapat dan perhatiannya tepat sebaliknya daripada yang kami harapkan. Aku masih ingat kata-katanya: “Tahu apa orang-orang ini tentang sajak?” Dan, kami pun sadar, sesungguhnya kami tidak tahu. Tapi itu tidaklah begitu mengejutkan dibanding dengan kata-katanya yang lain: “Tahu apa orang-orang ini tentang Keats dan Shelley! Bukan hanya kami yang baru dengar kata-kata aneh itu, juga Victor Hugo-nya Sanjaya menjadi gagu kehilangan lidah! Pemuda berpeci merah tebal itu adalah asrul Sani . Dan “penerbitan” kamipun mati kehabisan darah kebakaran semangant.Asrul memulai pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (HIS), Bukittinggi, pada tahun 1936. Lalu, ia masuk ke SMP Taman Siswa, Jakarta (1942), Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor (194.). Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1955. Jadi, ia adalah seorang dokter hewan. Akan tetapi, gelar bergengsi itu tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari dunia seni (sastra, teater, dan film). Bahkan, di sela-sela kuliahnya, ia masih sempat belajar drama di akademi seni drama di Amsterdam (bea siswa dari Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).Asrul Sani bisa memuji secara habis, selamanya disediakan tempat yang lebih tinggi bagi dirinya. (M. Balfas dalamHutagalung)g Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Kariernya sebagai Sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia sastra dengan memproklamirkan “Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan mereka.Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul “Sahabat Saya Cordiaz” dimasukkan oleh Teeuw ke dalam “Moderne Indonesische Verhalen” dan dramanya ,Mahkamah, mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun ’50-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah “Surat atas Kertas Merah Jambu” (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film. Ia mementaskan “Pintu Tertutup” karya Jean-Paul Sartre, “Burung Camar” karya Anton P. Chekov, dll. Ia menulis skenario film “Lewat Jam Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955), “Apa yang Kau Cari Palupi?” (mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), “Kemelut Hidup” (mendapat Piala Citra 1979),dll. Ia juga menyutradarai film “Salah Asuhan” (1972), “Jembatan Merah” (1973), Bulan di atas Kuburan (1973), dll. Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan Asrul Sani semasa hidupnya dan berbagai bidang pula. Ia pernah menjadi Laskar Rakyat (pada masa proklamasi), redaktur majalah (Pujangga Baru, Gema Suasana, Siasat, dan Zenith). Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1977—1987), Ketua Lembaga Seniman Kebudayaan Muslim (Lesbumi), Anggota Badan Sensor Film, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama, Anggota DPR-MPR (1966—1983), dll. Dalam perjalanan hidupnya, Asrul pernah menikah dua kali. Yang pertama, ia menikahi Siti Nuraini, temannya sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di Bogor (dan bercerai pada tahun 1961). Yang kedua, ia menikahi Mutiara Sarumpaet, 22 tahu lebih muda darinya, pada tanggal 29 desember 1972. Dari pernikahannya yang pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan dan dari pernikahannya yang kedua Asrul dikaruniai tiga anak laki-lakiPada masa akhir hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia mendampinginya. Asrul yang mulai renta dan sudah harus duduk di kursi roda tidak menghalangi keduanya untuk tampil di depan umum dengan mesra. Ketika menghadiri acara pelantikan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D. (adik kandung Mutiara) menjadi guru besar di Universitas Indonesia (3 September 2003), Mutiara dengan mesra menyuapi Asrul di atas kursi rodanya. Makanan dan minuman yang sesekali meluncur dari bibir dan mengotori dagunya, dilap oleh Mutiara dengan lembut.Karya-Karya Asrul SaniI. Karya Aslia) puisib) cerita pendekc) dramad) esaiII. Karya Terjemahana) puisib) cerita pendekc) novel (masih berupa naskah)d) drama (sebagian besar masih berupa naskah)Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Armijn Pane

Biografi Latar Belakang KeluargaMenurut J.S Badudu dkk. (1984:30). Armijn Pane juga bernama Ammak, Ananta, Anom Lengghana, Antar Iras, AR., A.R., Ara bin Ari, dan Aria Indra. Dengan nama-nama itu ia menulis puisi dalam majalah Pedoman Masyarakat, Poedjangga Baroe, dan Pandji Islam. Armijn Pane, anak ketiga dari 8 bersaudara, mempunyai nama samaran banyak, yaitu Adinata, A. Jiwa, Empe, A. Mada, A. Panji, dan Kartono. Ia dilahirkan tanggal 18 Agustus 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang seniman daerah yang telah berhasil membukukan sebuah cerita daerah berjudul Tolbok Haleoan. Selain sebagai seniman sastrawan, ayah Armijn Pane juga menjadi guru. Bahkan Armijn Pane dan adik bungsunya, Prof. Dr. Lafran Pane yang menjadi sarjana ilmu politik yang pertama, juga mewarisi bakat ayahnya sebagai pendidik. Armijn Pane menjadi guru Taman Siswa dan Lafran Pane adalah Guru Besar IKIP Negeri Yogya dan Universitas Islam Indonesia Yogya. Ia meninggal tanggal 24 Januari 1991. Ayah Armijn Pane itu juga seorang aktivis Partai Nasional pada masa Pergerakan Nasional, di Palembang. Dan hal ini juga menyiratkan bahwa orang tua itu termasuk golongan yang cinta tanah air. Rasa cinta terhadap tanah air ini juga terwariskan kepada anaknya, baik Armijn Pane, Sanusi Pane, maupun Lafran Pane. Pada Armijn Pane dapat kita lihat dalam sajak-sajaknya “Tanah Air dan Masyarakat” dalam Gamelan Djiwa, bagian dua.
Sayang sekalai ayahnya telah mengecewakan Armijn Pane karena ia telah mengecewakan ibunya. Ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Kekecewaan itu terus berbekas sampai akhir hayatnya.Armijn Pane meninggal pada hari Senin, tanggal 16 Februari 1970 pukul 10.00 pagi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam usia 62 tahun. Ia mengalami pendarahan otak dan tidak sadarkan diri selama dua hari. Menurut berita di surat kabar ia diserang Pneumonic Bronchiale. Tempat peristirahatannya yang terakhir adalah pemakaman Karet, Jakarta, berdampingan dengan makam kakaknya, Sanusi Pane, yang meninggal satu tahun sebelumnya.Armijn Pane meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkatnya berusia 6 tahun yang pada saat ia meninggal beralamat di jalan Setia Budi II No. 5, Jakarta.2. Latar Belakang PendidikanArmijn Pane mengawali pendidikannya di Hollandsislandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung Balai. Kemudian masuk Europese lagere School (ELS), yaitu pendidikan untuk anak-anak Belanda di Sibolga dan Bukittinggi. Pada tahun 1923 menjadi Studen Stovia (sekolah kedokteran) di Jakarta. Sayang sekolahnya tidak dilanjutkan, kemudian tahun 1927 ia pindah ke Nederlands-Indische Artsenschool (Nias) ‘sekolah kedokteran’ (Nias) yang didirikan tahun 1913 di Surabaya. Jiwa seninya tidak dapat dikendalikan sehingga ia kemudian masuk ke AMS bagian AI jurusan bahasa dan kesusastraan di Surakarta hingga tamat tahun 1931.Dalam dunia pendidikan ia juga tercatat sebagai guru bahasa dan sejarah di perguruan Taman Siswa, baik di Kediri maupun di Jakarta. Oleh karena itu salah seorang tokoh Taman Siswa, Pak Said, atas nama seluruh warga Taman Siswa menyampaikan penghargaan atas jasa almarhum dalam upacara pemakamannya.Apakah pengalamannya sebagai studen kedokteran (Stovia) di Jakarta dan Surabaya melatarbelakangi ciptaannya yang tokoh-tokohnya dokter, seperti dr. Sukartono dalam novel Belenggu dan dr. Abidin dalam drama “Antara Bumi dan Langit”. Dalam kedua cerita itu tidak tampak hal-hal yang mendasar tentang ilmu kedokteran yang dimiliki tokoh, yang disajikan hanya wajah dan perilaku tokoh dokter secara permukaan. Hal ini mungkin saja karena ia sekolah kedokteran tidak sampai tamat sehingga tidak sampai menghayati segalanya yang berhubungan dengan ilmu itu. Ternyata, memang Armijn Pane bukan tertarik oleh dunia kedokteran, melainkan tertarik oleh dunia seni. Untuk itu ia mampu menamatkan pendidikannya di AMS AI (Jurusan Kebudayaan Timur) di Solo.3. Latar Belakang PekerjaanTahun 1949 Armijn Pane kembali ke Jakarta dari pengungsiannya di Yogyakarta. Diberitakan bahwa Armijn Pane setibanya di Jakarta akan menceburkan diri di lapangan penerbitan. Armijn Pane mengasuh majalah Indonesia yang berisi 124 halaman sejak Februari 1955 bersama Mr. St. Moh. Syah, dan Boeyoeng Saleh. Armijn menulis “ Produksi Film Cerita di Indonesia”, setebal 112 halaman dalam majalah Indonesia itu.Di samping itu, ia juga memimpin majalah Kebudayaan Timur yang dikeluarkan oleh kantor Pendidikan Kebudayaan. Di dalam dunia sandiwara ia menjadi anggota terkemuka gabungan usaha sandiwara Jawa, di samping sebagai Ketua Muda “Angkatan Baru”, perkumpulan seniman di kantor kebudayaan itu. Ia memulai kariernya sebagai pengarang dan sastrawan ketika ia menjadi wartawan, dan sebagai guru pada Pendidikan Taman Siswa. Ia pernah mengajar bahasa dan sejarah di Sekolah Taman Siswa di Kendiri kemudian di Jakarta. Dari situ kariernya dalam bidang penerbitan setapak demi setapak dirintis di Balai Pustaka, sebagai pegawai kantor itu. Tahun 1936 Armijn diangkat menjadi redaktur. Zaman Jepang ia menjabat kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan Djakarta. Di sampaing itu, tahun 1938 ia menjadi sekretaris Kongres Bahasa Indonesia yang pertama, ia juga menjadi penganjur Balai Bahasa Indonesia dan di zaman Jepang ia menjadi anggota komosi istilah.Dalam dunia organisasi kebudayaan/kesastraan, Armijn Pane juga aktif. Ternyata ia menjadi penganjur dan sekretaris Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). Selanjutnya, ia menjadi anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) selepas tahun 1950.Dalam penerbitan, ternyata Armijn Pane tidak hanya berkecimpung dalam majalah Pujangga Baru, tetapi juga menjadi anggota dewan redaksi makalah Indonesia.. Demikian pula dalam dunia film Armijn aktif sebagai anggota sensor film, (1950—1955).Atas jasanya dalam bidang seni (sastra), ia memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah tahun 1969.Akan tetapi, dalam masa menjalani tugasnya, baik di zaman Beanda, zaman Jepang, maupun zaman republik Armijn selalu menyaksikan hal-hal yang tidak beres yang menusuk hati nuraninya. Ketika ia menjadi Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan, atasannya, orang Jepang, menunjukkan majalah yang bersisi berita tantang dilancarkannya armada Jepang oleh armada Sekuti di sekitar Morotai. Jepang itu meminta agar Armijn membuat releasenya. Karena Armijn seorang yang polos, jujur, dan tidak pernah mengubah fakta, dibuatnyalah laporan yang diberikan Jepang itu. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan kempetai sehingga ia menderita lahir dan batin akibat perlakukan kasar kempetai yang kemungkinan ingin menguji ke mana Armijn memihak. Itulah salah satu pengalaman pahitnya yang menyebabkan dirinya terkena pukulan batin terus-menerus dalam pekerjaannya.4. Latar Belakang KesastraannyaDalam sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia Armijn terkenal sebagai salah seorang pelopor pendiri majalah Pujangga Baru tahun 1933 di samping Sutan Takdir Alisyahbana dan Amir Hamzah. Mulai tahun 1933—1938 ia menduduki jabatan sekretaris redaksi majalah itu. Novelnya, Belenggu sebelum diterbitkan sebagai buku, dimua dalam majalah Pujangga Baru.Prof. Dr. Teeuw (dalam Anita, 1992) menyatakan bahwa Armijn Pane adalah pelopor Angkatan 45. Akan tetapi, Dr. H.B. Jassin menyangkalnya karena, baik dalam prosa maupun dalam puisi terlihat gaya impresionistis, terutama dalam sajak-sajaknya. Dalam novelnya Belenggu gaya romantis dapat diketemukan sehingga tampak suasana yang diliputi perasaan yang terayun-ayun serta pikiran yang menggembirakan dan menyedihkan silih berganti. Padahal Angkatan 45 banyak menunjukkan karya yang bergaya ekspresionistis. Dengan demikian, Dr. H.B. Jassin menyanggah pendapat Prof. Teeuw di atas.Karya-karya Armijn Pane memperlihatkan adanya pengaruh Noto Soeroto, Rabindranath Tagore, Krisnamurti dan pelajaran Theosofie. Gerakan kesusastraan sesudah tahun 1880 di negeri Belanda tampak juga mempengaruhi karya-karyanya, begitu juga Dosxtojevski, di samping Tolstoy.Armijn Pane adalah pengarang yang berpendirian kokoh. Ia mengibaratkan keyakinannya seperti pohon beringin. Hal itu diungkapkannya pada pengantar novelnya, Belenggu seperti berikut, “kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan yang lain.”Jadi, apapun yang dihadapkan pada keyakinannya yang sudah kokoh itu tak akan menggoyahkannya. Dalam karya Belenggu, tekadnya menjadi seorang manusia yang berguna bagi bangsa dan negara seperti yang disarankan Armijn Pane dalam ceramahnya yang tercermin pada tokoh dr. Sukartono dalam novel Belenggu. Tokoh itu sangat memperhatikan para pasiennya sehingga menomorduakan rumah tangganya sehingga berantakan. Ketidakharmonisan rumah tangga dr. Sukartono memang berawal dari ketidakpuasan Tini akan sikap dr. Sukartono yang lebih mengutamakan pasiennya daripada istrinya itu.Dalam hal teknik penyusunan ada kesamaan antara Armijn dan Putu Wijaya serta Iwan Simatupang. Teknik itu menyatu dengan pemikiran yang ingin disampaikan seperti tampak dalam novel Belenggu itu.Kritikus sastra Indonesia, Dr. H.B. Jassin (1954:67—70) mengatakan bahwa Belenggu merupakan karya sastra modern Indonesia yang pertama menggambarkan kehidupan kaum intelktual sebelum perang.Di dalam sajak, Armijn Pane berhasil mengumpulkan sajaknya di dalam dua kumpulan Jiwa Berjiwa yang menurut tafsiran Ayip Rosidi berarti jiwa yang hidup (dalam Anita, 1993). Kumpulan lain berjudul Gamelan Djiwa yang jika dilihat dari artinya, “Gamelan”berarti alat-alat musik atau bunyi-bunyian. Jadi, gamelan jiwa dapat diartikan bunyi atau suara batin, yaitu suara batin si penulis yang menyuarakan cinta, yaitu cinta sebagaimana lazimnya anak muda. Cinta pada tanah air, cinta pada Tuhan, dan cinta pada sastra. Sampai pada saat terakhir cinta pada sastra ternyata masih tetap kuat. Ceramahnya tentang sastra di Taman Ismail Marzuki sebulan sebelum ia meninggal 15-1-1970 membuktikan cintanya pada sastra. Ceramah itu berjudul “Pengalaman Batin Pengarang Armijn Pane”. Dalam ceramah itu pengarang mengungkapkan pengalamannya yang berkaitan dengan kepenga-rangannya dan sedikit menyinggung soal angkatan. Butir-butir pikiran yang disampaikannya pada saat itu adalah (1) “Mengapa Aku Rela dan Ikhlas Jadi Pengarang”, (2) “Bagaimana Aku Memperbaharui Kerelaan and Keikhlasanku sebagai Pengarang di Zaman Sekarang ”, (3) “Sikap Hidup Bagi Pengarang”, (4) “Struktur Mengarang Fase-Fase Mengarang”, (5) “Pengarang Keagamaan dan Pengarang Nasional”, (6) “Apa yang Perlu Kita Dapat dari Pengarang-Pengarang Luar Negeri”, (7) “Apakah Pengarang Manurut Pendapat Pengarang”, (8) “Serba Sedikit Tentang Angkatan”.Armijn mengakui bahwa kepengarangannya banyak didorong oleh kesadaran kebangsaannya. Ia juga mengatakan bahwa saat itu sedang disiapkan roman yang ketiga. Akan tetapi, roman itu tidak muncul.Dalam ceramah itu Armijn menegaskan bahwa untuk menjadi pengarang lebih dulu harus kita dapatkan dunia keindahan dan harus kita memiliki sikap hidup yang tegas untuk melaksanakan tugas sebagai pengarang. Selanjutnya, pengarang itu mengemukakan bahwa untuk mengarang ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Langkah-langkah itu adalah mengumpulkan baha, mendapatkan ide, dan menyusun kerangka cerita. Dalam struktur karangan harus selalu ada tiga pihak, yaitu yang dilawan, yang melawan, dan yang menggerakan. Di samping itu, pengarang memiliki hati nurani, moral, dan inspirasi, yaitu inspirasi yang dikendalikan pengarang, agar pengarang selalu sadar akan apa yang harus dilakukan.Dalam kesempatan itu Armijn juga mengarapkan agar di antara pengarang muda akan muncul pengarang keagamaan Indonesia yang dapat dihargai. Untuk itu, ia pun berkeinginan menjadi pengarang keagamaan.Tentang kekhasan Indonesia dalam dunia kepengarangan, ia menganjurkan agar pengarang Indonesia mendapatkan kekhasan Indonesia. Akan tetapi, tidak berarti pengarang Indonesia dilarang mencontohkan pengarang asing, malahan ia menganjurkan asalkan tidak melakukan plagiat. Mengenai karya sastra yang lahir tahun 1920—1930, bahkan sampai sekarang, Armijn berpendapat bahwa Angkatan 1920—1930 mempunyai pengabdian. Angkatan Pujangga Baru memiliki tanda pro kepada yang baru, dinamis, anti yang fanatik, dan anti yang naif. Angkatan 45 memiliki tanda sebagai pejuang, Angkatan 50 mengemukakan masalah sosial, dan Angkatan terbaru memperlihatkan aksi. Dari uraian dalam ceramah itu, dapat disimpulkan bahwa Armijn Pane, ternyata samapai usia 62 tahun, pengamatan dan cintanya terhadap dunia sastra tetap segar. 5. Karya Armijn Panea. Puisi(1) Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960(2) Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.b. NovelBelenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991c. Kumpulan Cerpen(1) Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940(2) Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979d. Drama “Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.Karya Bahrum Rangkuti1) Puisi:a. Sajak-sajak yang Sudah Diterbitkan(1) “Tuhanku” Pandji Poestaka (1943)(2) “Langit dan Bumi Baru” Pandji Poestaka (1944)(3) “Peperangan Badar” Pandji Poestaka (1944)(4) “Prajurit Rohani” Pandji Poestaka (1944)(5) “Akibat” Pantja Raja (1946)(6) “Borobudur” Pantja Raja (1946)(7) “Cita-Cita” Pantja Raja (1946)(8) “Doa Makam” Pantja Raja (1946)(9) “Hidupku” Pantja Raja (1946)(10) “Insyaf” Pantja Raja (1946)(11) “Kembali” Pantja Raja (1946)(12) “Laut Kenangan” Pantja Raja (1946)(13) “Sakura” Pantja Raja (1946)(14) “Tugu Kenangan” Pantja Raja (1946)(15) “Laila” Gema Suasana (1948)(16) “Pasar Ikan” Gema (1948)(17) “Sajak-Sajak Muhammad Iqbal” Siasat (1951)(18) “Syuhada” Hikmah (1952)(19) “Iqbal” Hikmah (1953)(20) “Malam dari Segala Malam” Gema Islam (1962)(21) “Pesan” Gema Islam (1966)(22) “Nafiri Ciputat” Horison (1970)(23) “Anak-Anakku” Horison (1971)(24) “Dunia Baru” Horison (1971)(25) “Ayahanda” Horison (1971)(26) “Bunda” Horison (1971)(27) “Lebaran di Tengah-Tengah Gelandangan” Horison (1971)(28) “Mercon Malam Takbiran” Horison (1971)(29) “Pejuang” Horison (1971)(30) “Rumah” Horison (1971)(31) “Sembahyang di Taman HI” Horison (1971)(32) “Tuhan di Tengah-Tengah Insan” Horison (1971)(33) “Sumbangsih” Koninklijke Boekhandel dan Drukkery G. Kollf dan Co(34) “Hikmah Puasa dan Idul Fitri” Koninklijke Boekhandel dan Drukkery G. Kollf dan Cob. Sajak-sajak yang Belum Diterbitkan dan Tahun Ciptaannya(1) “Tao Toba” (1970)(2) “Sipirok” (1970)(3) “Natalandi Gita Bahari” (t.th.)(4) “Nunukan” (1970)(5) “Mesjid di Tanjung Selor” (1970)(6) “Ka’bah” (1971)(7) “Bungan Bondar” (1971)(8) “Mina” (1971)(9) “Madinah” (1971)(10) “Arafah” (1971)(11) “Makkah” (1971)(12) “Hajir” (1971)(13) “Nisbah” (1971)(14) “Yang Genap dan Yang Ganjil” (1971)(15) “Bengkel Manusia” (t.th.)(16) “meluruskan bahtera” (1973)(17) “Nyanyian di Pohon Kelapa” (1973)(18) “Mi’raj” (t.th.)(19) “kepada Biniku A. Bara” (t.th.)(20) “Isa a.s.” (1969)(21) “Idul Fitri” (t.th.)(22) “Mula Segala” (1969)(23) “Muhammad s.a.w.” (1969)(24) “Beton, Beling, dan Besi” (t.th.)(25) “Laut Lepas Menanti” (t.th.) (PDS. H.B. Jassin) 2) Drama(1) “Laila Majenun” Gema Suasana (1949)(2) “Sinar memancar dari Jabal Ennur” Indonesia (1949)(3) “Asmaran Dahana” Indonesia (1949)(4) “Arjuna Wiwaha”3) Cerpen(1) “Ditolong Arwah” Pandji Poestaka (1936)(2) “Rindu” Poedjangga Baroe (1941)(3) “Renungan Jiwa” Pandji Poestaka (1942)(4) “Ngobrol dengan Cak Lahama” gema Suasana (1946)(5) “Sayuti Parinduri Alfaghuru” atau “Antero Krisis Cita, Moral, dan benda” Zenith (1952)(6) “Laut, Perempuan, dan Tuhan” Gema Tanah Air (1969) 4) Esai(1) “Setahun di negeri Bulan Bintang I” Zenith (1951)(2) “Setahun di negeri Bulan Bintang II” Zenith (1951)(3) “Setahun di negeri Bulan Bintang II” Zenith (1951)(4) “Angka dan Penjelmaannya” Zenith (1951)(5) “Pengantar kepad Cita Iqbal” Indonesia (1953)(6) “Kandungan Al Fatihah” (1953)(7) “Nabi Kita” Bacaan untuk Anak-anak (t.th.)(8) “Islam dan kesusastraan Indonesia Modern”: skripsi s-1 (1961). Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul(9) “Islam and “Modern Indonesian Literature”(10) “Pramudya Ananta Toer; dan Karya seninya” (1963)(11) “Terapan Hikmah Isra dan Mikraj dalam kehidupan Sehari-hari” Operasi (1968)(12) “Muhammad Iqbal Pemikir dan Penyair” ceramah di TIM (1969)(13) “Ceramah Tentang Cita-Cita M. Iqbal” TIM (1976)(14) “Al Quran, Sejarah, dan Kebudayaan” Pidato pengukuhan sebagai Guru Besar (1976)(15) “Sejarah Indonesia I dan II”(16) “Metode Mempelajari Tafsir Qur’an dan Bahasa Arab”(17) “Sejarah Khalifah Usman r.a”(18) “Sejarah Nabi Muhammad s.a.w”(19) “Islam dan PEmbangunan”(20) “The Spritual Wealth in Islam” 5) Terjemahan (1) “Puisi Dunia” karya Sophocles dari Antagone (1948)(2) “Dengan Benih Kemerdekaan” karya Alexander Pushkin (1949)(3) “Kepada Penyair” karya M. Iqbal(4) “Insan dan Alam” karya M. Iqbal (1953)(5) “Waktu itu Adalah Pedang” karya M. Iqbal (1953)(6) “Iqbal Di Hadapan Rumi” karya M. Iqbal (1953)(7) “Soledad Montoya” karya Lorca(8) “Lintas Sejarah Dunia” karya Jawaharlal Nehru(9) “Asrar-J. Khudi” karya Dr. Muhammad IqbalSumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Arswendo Atmowiloto

Biografi Arswendo Atmowiloto mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang. Lahir tanggal 26 November 1948 di Solo, Jawa Tengah.Arswendo Atmowiloto menganut agama Kristen dan menikah dengan wanita yang seiman dengannya Agnes Sri Hartini pada tahun 1971.Dari pernikahannya itu, mereka memperoleh tiga orang putra, yaitu Albertus Wibisono, Pramudha Wardhana, dan Cicilia Tiara.Setelah lulus sekolah menengah atas, beliau masuk ke Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, IKIP Solo, tetapi tidak tamat. Aswendo semula bercita-cita menjadi dokter, tetapi itu tidak tercapai. Beliau pernah mengikuti program penulisan kreatif di Lowa University, Amerika Serikat.Setelah keluar dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, beliau bekerja di pabrik bihun dan kemudian di pabrik susu. Beliau juga pernah bekerja sebagai penjaga sepeda dan sebagai pemungut bola di lapangan tenis.Beliau mulai merintis karirnya sebagai sastrawan sejak tahun 1971. Cerpen pertamanya muncul berjudul “Sleko”, yang dimuat dalam majalah Mingguan Bahari.Di samping sebagai penulis,
beliau juga aktif sebagai pemimpin di Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, Solo (1972).Setelah itu beliau bekerja sebagai konsultan penerbitan Subentra Citra Media (1974—1990), sebagai pemimpin redaksi dalam majalah remaja Hai, sebagai pemimpin redaksi/ penangung jawab majalah Monitor (1986) dan pengarah redaksi majalah Senang (1998).Aswendo Atmowiloto adalah pengarang serba bisa yang sebagian besar karyanya berupa novel. Isi ceritannya bernada humoris, fantatis, spekulatif, dan suka bersensasi. Karyannya banyak dimuat dalam berbagai media massa, antara lain Kompas, Sinar Harapan, Aktual, dan Horison. Karangannya, antara lain diterbitkan oleh penerbit Gramedia, Pustaka Utama Grafiti, Ikapi, dan PT Temprint.Aswendo Atmowiloto banyak menerima beberapa penghargaan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Penghargaan itu, antara lain Hadiah Zakse (1972) untuk karya esainya yang berjudul “Buyung Hok dalam Kreativitas Kompromi”.Dramanya yang berjudul “Penantang Tuhan” dan “Bayiku yang Pertama” memperoleh Hadiah Harapan. Hadiah Perangsang Minat Menulis dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ tahun 1972 dan tahun 1973.Tahun 1975 beliau memperoleh Hadiah Harapan dalam sayembara serupa untuk drama “Sang Pangeran” dan “Sang Penasehat”. Dua bukunya Dua Ibu dan Mandoblang-Buku Anak-Anak terpilih sebagai buku nasional terbaik. Juga penghargaan ASEAN Award di Bangkok.Puluhan karyanya telah dibukukan, sebagian diangkat ke layar televisi dan film. Ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat.Ketika itu, Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW (Nabi umat Muslim) yang terpilih menjadi tokoh nomor 11. Sebagian masyarakat Muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat.Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai divonis hukuman 5 tahun penjara. Karena tulisannya dianggap subversi dan melanggar Pasal 156 A KUHP dan Pasal 157 KUHP.Setelah itu, beliau menyatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada masyarakat melalui media TVRI dan beberapa surat kabar ibu kota.Ketika beliau berada di dalam tahanan, ia pun menulis cerita bernada absurditas, humoris (anekdot), dan santai.Cerita tersebut bertemakan tentang kehidupan orang-orang tahanan beserta masyarakat umum di ibu kota yang mengalami keputusasaan menghadapi suatu yang sulit. Aswendo pernah mendapat kecaman dan dianggap sebagai pengkhianat karena pendapatnya yang dianggapnya keliru oleh para pengamat sastra.Aswendo berpendapat bahwa “Sastra Jawa telah mati”. Dan beliau sangat menghargai penulis komik, khususnya komik wayang dan silat yang dianggap banyak berjasa dalam pendidikan anak.Karya-karya Aswendo, antara lain berupa naskah drama, cerpen, novel, dan puisi. Berikut adalah karya-karyanya:1. Sleko (1971)2. Ito (1973)3. Lawan Jadi Kawan (1973)4. Bayiku yang Pertama: Sandiwara Komedi dalam 3 Babak (1974)5. Sang Pangeran (1975)6. Sang Pemahat (1976)7. Bayang-Bayang Baur (1976)8. 2 x Cinta (1976)9. The Circus (1977)10. Semesta Merapi Merbabu (1977)11. Surat dengan Sampul Putih (1979)12. Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)13. Dua Ibu (1981)14. Saat-Saat (1981)15. Pelajaran Pertama Calon Ayah (1981)16. Serangan Fajar: diangkat dari film yang memenangkan 6 piala Citra pada Festival Film Indonesia (1982)17. Airlangga (1985)18. Anak Ratapan Insan (1985)19. Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel “Kawinnya Juminten” (1985)20. Pengkhianatan G30S/PKI (1986)21. Dukun Tanpa Kemenyan (1986)22. Akar Asap Neraka (1986)23. Garem Koki (1986)24. Canting: sebuah roman keluarga (1986)25. Indonesia from the Air (1986)26. Telaah tentang Televisi (1986)27. Lukisan Setangkai Mawar: 17 cerita pendek pengarang Aksara (1986)28. Tembang Tanah Air (1989)29. Menghitung Hari (1993)30. Oskep (1994)31. Abal-abal (1994)32. Berserah itu Indah: kesaksian pribadi (1994)33. Auk (1994)34. Projo & Brojo (1994)35. Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994)36. Khotbah di Penjara (1994)37. Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994)38. Suksma Sejati (1994)39. Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995)40. Kisah Para Ratib (1996)41. Darah Nelayan (2001)42. Dewa Mabuk (2001)43. Kadir (2001)44. Keluarga Bahagia (2001)45. Keluarga Cemara 146. Keluarga Cemara 2 (2001)47. Keluarga Cemara 3 (2001)48. Pesta Jangkrik (2001)49. Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)50. Dusun Tantangan (2002)51. Mencari Ayah Ibu (2002)52. Mengapa Bibi Tak ke Dokter? (2002)53. Senopati Pamungkas (1986/2003)54. Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.