RSS

Category Archives: Biografi Sastrawan Indonesia

Tajuddin Noor Ganie

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. (TNG) dilahirkan di kota Banjarmasin, 1 Juli 1958.Menempuh pendidikan dasarnya di SDN Mawar Kencana Banjarbaru (lulus tahun 1971), kemudian melanjutkan ke SMEP Negeri Martapura (lulus tahun 1974), dan SMEAN Martapura (lulus tahun 1977).Ketika berusia 39 tahun, TNG secara tiba-tiba tertarik melanjutkan pendidikannya ke PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (tahun 2002 diwisuda dengan predikat sebagai wisudawan terbaik). Skripsinya berjudul Profil Sastrawan Kalsel 1930-1999 telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2002).Tanpa sempat jeda barang sejenak, tahun 2003 TNG langsung melanjutkan pendidikannya ke Program Pascasarjana (S2) PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (lulus dengan predikat sangat memuaskan). Tesisnya berjudul Karakteristik Paribasa : Kajian Bentuk, Fungsi, Makna, dan Nilai telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan oplah terbatas (2006).
Semua bahan kajian yang dikumpulkannya untuk keperluan menulis tesis ini pada tahun 2006 diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kamus Peribahasa Banjar (dengan jumlah entri/lema 1.538 buah, tahun 2007 sudah dicetak ulang), pada tahun 2011 diterbitkan Kamus Peribahasa Banjar dengan jumlah entri/lema sebanyak 9.058 buah).Sejak tahun 1979, bekerja di lingkungan Departemen Tenaga Kerja. Transmigrasi, dan Koperasi (Depnakertranskop). Pernah bertugas di Kantor Binaguna Tenaga Kerja Kotamadya Banjarmasin (1978-1985), Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru (1986), Kantor Kursus Latihan Kerja di Pelaihari (1986-1988), Kantor Kepaniteraan P4 Daerah Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1988-2006), dan sejak tanggal 1 Juni 2006 dipindah-tugaskan ke Balai Hyperkes dan Keselamatan Kerja di Banjarmasin.Sejak tahun 2002, TNG menjadi dosen tamu untuk mata kuliah kajian prosa fiksi, kritik sastra, pendekatan struktural sastra, penelitian sastra dan pengajarannya, penulisan kreatif sastra, prosa fiksi dan drama, puisi, sastra Banjar, dan sosiologi sastra di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.Kegiatan lain yang juga ditekuninya secara serius adalah sebagai Pengelola Harian Rumah Pustaka Karya Sastra dan Rumah Pustaka Folklor Banjar di Pusat Pengkajian Masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA) Kalsel.Melalui lembaga penelitian dan dokumentasi yang dipimpinnya ini TNG memberikan bantuan bahan referensi yang diperlukan kepada masyarakat umum dan para mahasiwa yang sedang menulis skripsi mengenai masalah-masalah sastra Indonesia, sastra Banjar, dan Folklor Banjar.Mulai merintis karier sebagai penulis karya sastra sejak tahun 1980-an. Publikasi karya sastranya, meliputi puisi, cerpen dan esei sastra. Buletin/jurnal/ koran/majalah yang pernah memuat karya tulisnyanya antara lain: Buletin Antara Spektrum LKBN Antara, SKH Berita Buana, SKH Suara Karya, SKH Pelita, SKH Terbit, SKH Merdeka, SKM Swadesi, SKM Simponi, Majalah Senang, Majalah Idola, Majalah Topik. Majalah Misteri, SKH Media Indonesia, Majalah Warnasari, Majalah Intisari, Jurnal Kebudayaan (jurnal imiah Depdikbud), Majalah Mata Baca (semuanya terbitan Jakarta), SKH Jawa Pos, SKH Surya, Majalah Liberty (semuanya terbitan Surabaya), SKM Minggu Pagi (Yogyakarta), Majalah Bahana (Brunei Darussalam), SKH Banjarmasin Post, SKH Dinamika Berita, SKH Kalimantan Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Mata Banua, dan SKM Orbit Post (semuanya terbitan Banjarmasin).Sejumlah tulisan TNG yang pernah dimuat di berbagai koran/majalah edisi online dapat dibaca kembali melalui website mesin pencari data : Google/Tajuddin Noor Ganie atau Yaaho/Tajuddin Noor Ganie. Email : tajuddinnoorganie@Yahoo. comAntologi puisinya yang sudah diterbitkan adalah Bulu Tangan (HPMB, Banjarmasin, 1982),Sedangkan antologi puisi bersama yang ikut memuat puisi-puisinya antara lain : Antologi Puisi ASEAN (Denpasar, 1982), Puisi Indonesia (Jakarta, 1987), Selagi Ombak Mengejar Pantai 6 (Selangor, 1989), Festival Puisi XII (Surabaya, 1990), Potret Pariwisata Indonesia Dalam Puisi (Jakarta, 1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995).Selain itu, TNG juga telah menjadi editor untuk sejumlah penerbitan antologi puisi bersama terbitan Banjarmasin, antara lain : Dahaga-B.Post 1981 (1982), Banjarmasin Kota Kita (1984), Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1986), dan Festival Puisi Kalimantan (1992),Buku sastra hasil karya TNG yang lainnya yang juga sudah diterbitkan dalam bentuk buku antara lain adalah : Penyair Kalsel Terkemuka Selepas Tahun 1980 (1992), Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (1995), Apa dan Siapa Sastrawan Kalsel (1985), Ensiklopedi Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalimantan Selatan (Edisi 1995) (naskah aslinya disimpan di Perpustakaan KITLV Leiden, dan telah pula dimuat secara bersambung di SKM Media Masyarakat Banjarmasin, 1995-1996), Sketsa Sastrawan Kalimantan Selatan (bersama Jarkasi, Pusat Bahasa Banjarmasin, 2001), Profil Sastrawan Kalimantan Selatan 1930-1999 (berasal dari naskah Skripsi S1, PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, 2002), Karakteristik Bentuk, Makna, Fungsi dan Nilai Peribahasa Banjar (berasal dari tesis S2, PBSID FKIP Unlam Banjarmasin, 2005), dan Kamus Peribahasa Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, 2006)Buku kumpulan cerpennya berjudul Nyanyian Alam Pedalaman (bersama dengan Hadian Noor) telah diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta pada tahun 1999.Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen hasil karya sastrawan Kalsel yang pertama kali diterbitkan di luar daerah Kalsel.Novelnya berjudul Tegaknya Masjid Kami telah dimuat secara bersambung di SKH Radar Banjarmasin (2005).Pada tahun 2005, menjadi anggota tim penulis Riwayat Hidup Walikota Banjarmasin H. Midfai Yabani berjudul Perjalanan Seorang Wali Kelas Menjadi WalikotaSejumlah cerpennya juga sudah dijadikan sebagai objek penelitian untuk penulisan skripsi oleh sejumlah mahasiswa PBSID STKIP PGRI Banjarmasin, antara lain : Profil Tokoh Antagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Fetty Dahliani, 2001), Profil Tokoh Protagonis dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Ni Ketut Suwandi, 2001), Analisis Tema dan Penokohan Dalam Kumpulan Cerpen Karya Tajuddin Noor Ganie (Noorhidayat, 2003), Cerita Rakyat Etnis Banjar Sebagai Sumber Ilham Penulisan Kreatif Sastra : Analisis Hubungan Intertektualitas Penulisan Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie (Dra. Hj. Endang Sulistyowati, M.Pd, 2005), dan Gambaran Manusia Banjar dalam Cerpen-cerpen Tajuddin Noor Ganie di Majalah Idola Jakarta (Miftahul Jannah, 2009), Citraan dalam Antologi Puisi Bulu Tangan Karangan Tajuddin Noor Ganie (Mukhlis, 2010), dan Profil Tokoh Pendulang Intan dalam Cerpen-cerpen Karangan Para Cerpenis Kalsel (Raya Saidyah, 2010).Forum sastra dan budaya yang pernah diikutinya antara lain : Forum Penyair Muda Delapan Kota Kalsel, (Banjarmasin, 1982), Apresiasi Puncak Penyair ASEAN (Denpasar, 1983), Siklus Lima Penyair Kalsel, (Banjarmasin, 1983). Festival Puisi XII (Surabaya, (1990), Festival Puisi XIII (Surabaya, 1992), Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Hari Sastera X (Shah Alam, Selangor, Malaysia, 1993), Festival Puisi XIV (Surabaya, 1994), Refleksi Setengah Abad Indonesia (Surakarta, 1995), Temu Penyair Nasional (Tasikmalaya, 1999), dan Dialog Borneo VII (Banjarmasin, 2003)Berkaitan prestasi, reputasi dan dedikasinya sebagai sastrawan TNG telah menerima sejumlah penghargaan, antara lain : Penulis Esai Sastra dalam Rangka Bulan Bahasa dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Jakarta, 1985), Pemuda Pelopor Bidang Seni Budaya dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Ir. H. Akbar Tanjung, 1991), Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Gusti Hasan Aman, 1998), Penulis Naskah Fiksi Keagamaan dari Menteri Agama (Prof. Dr. Said Agil Husin al Munawar, (2002).Biografi kesastrawanan TNG ikut dimuat dalam sejumlah buku referensi antara lain : Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, Penerbit Djambatan Jakarta, 1990:186), Leksikon Kesusastraan (Suhendra Yusuf MA, Bandung, 1995:97), Sesuatu Indonesia (Afrizal Malna, Penerbit Yayasan Pustaka Adikarya, Jakarta, 2000), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2000), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2002), Ensiklopedi Sastra Indonesia (Hasanuddin WS dkk, Penerbit Titian Ilmu Bandung, 2007), Melayu Online, dan Wikipedia Indonesia (ensiklopedi dunia maya berkaitan dengan statusnya sebagai seorang budayawan Banjar).Alamat Rumah :Jalan Mayjen Soetoyo S,Gang Sepakat RT 13 Nomor 30,Banjarmasin, 70119Telepon Rumah (0511) 4424304Telepon Selular : 08195188521Email : tajuddinnoorganie@yahoo. co.idFacebook : tajuddinnoorganieDAFTAR BUKUTAJUDDIN NOOR GANIE1. Antologi Biografi Sastrawan Kalsel2. Asal-usul Orang Banjar3. Aspek-aspek Etnografi Laskar Pelangi4. Jatidiri Puisi Indonesia5. Kajian Puisi6. Kamus Mimpi Orang Banjar7. Kamus Peribahasa Banjar8. Karakteristik Bentuk, Fungsi, Makna dan Nilai Peribahasa Banjar9. Legenda Awi Tadung dan Ular Buntung10. Mengenal Benda-benda Bertuah Magis dalam Religi Orang Banjar di Kalimantan Selatan11. Penyair Kalsel 1930-1942 : Apa, Siapa, dan Bagaimana Puisi Mereka12. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin13. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Mantra14. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Pantun15. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Peribahasa16. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Syair17. Sasirangan, Kain Khas Tanah Banjar18. Sastra Banjar Genre Lama Bercorak Puisi19. Sejarah Nasional Cerpen Indonesia 1920-200920. Sejarah Nasional Drama Indonesia 1920-200921. Sejarah Nasional Kesusastraan Indonesia 1920-200922. Sejarah Nasional Puisi Indonesia 1920-200923. Sejarah Nasional Roman/Novel Indonesia 1920-200924. Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel 1930-200925. Tegaknya Masjid Kami (Novel)26. Tengah Malam di Kuala Lumpur27. Teori dan Praktek Menulis Cerpen28. Teori dan Praktik Menulis Puisi29. Teori dan Praktik Penelitian Sastra30. Teori Sastra31. Tragedi Intan Trisakti

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Kahlil Gibran

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di Bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk.
Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik Organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di Apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”. Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah Asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931. Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik Kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

J.E. Tatengkeng

Biografi J.E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng memang merupakan salah satu fam dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907. J.E. Tatengkeng adalah satu-satunya penyair zaman Pujangga Baru yang membawa warna kekristenan dalam karya-karyanya. Hal ini tidaklah ganjil jika ditelusuri latar belakang kehidupannya. Ia adalah putra dari seorang guru Injil yang juga merupakan kepala sekolah zending. Di samping itu, tanah kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang tuanya, adalah sebuah pulau kecil di timur laut Sulawesi yang konon masyarakatnya hampir seluruhnya beragama Kristen. J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda, HIS, di Manganitu.
Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk Middagkweekscool atau Sekolah Pendidikan Guru Kristen di Bandung, Jawa Barat dan Christelijk Hogere Kweekschool atau Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen di Solo, Jawa Tengah. Di sekolah-sekolah itulah J.E. Tatengkeng mulai berkenalan dengan kesusastraan Belanda dan gerakan Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karyanya. Meskipun banyak dipengaruhi Angkatan 80-an Belanda, J.E. Tatengkeng ternyata juga tidak sependapat dengan Jacques Perk yang mempertaruhkan seni dalai segala-galanya. Dalam sebuah tulisannya, “Penyelidikan dan Pengakuan (1935), Tatengkeng menulis, “Kita tidak boleh menjadikan seni itu Allah. Akan tetapi, sebaliknya, janganlah kita menjadikan seni itu alat semata-mata. Seni harus tinggal seni.” Bagi Tatengkeng, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang menjelma ke indah kata! Itulah seni bahasa!,” katanya. Sebagai penyair, J.E. Tatengkeng dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam. Konon, kedekatan Tatengkeng dengan alam itu timbul sebagai akibat kekecewaannya karena tidak dapat menemukan kebenaran di dunia barat yang masih alami. Meskipun alam merupakan pelariannya dalam usaha menemukan kebenaran, alam baginya tetap merupakan misteri. Di kawanan awan, di warna bunga yang kembang, pada gunung, dan pada bintang, tetap saja Tatengkeng belum merasa berhasil menemukan kebenaran hakiki. Oleh karena itu, setelah jiwanya lelah mencari kebenaran hakiki, ia menjadikan Tuhan sebagai tempatnya berlabuh. Gelombang kehidupan Tatengkeng itu tergambar pada sebagian besar sajak-sajaknya. Tentu saja sajak-sajaknya yang religius itu bernafaskan ke-Kristenan, agama yang dianutnya. Sejak tahun 1953, J.E. Tatengkeng mulai jarang menulis. Akan tetapi, krativitasnya sebagai penyair tidak pernah hilang meskipun ia bergiat dalam bidang politik dan pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan beberapa sajaknya yang dimuat pada beberapa majalah setelah tahun 1953. J.E Tatengkeng meninggal pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Karya-Karya PuisiRindu Dendam. 1934. Solo: Chr. Derkkerij “Jawi” (Buku ini memuat 32 buah sajak) Dalam majalah Pujangga Baru“Hasrat Hati”“Laut”“Petang”“O, Bintang”“Sinar dan Bayang”“Sinar di Balik”“Tangis”“Anak Kecil”“Beethoven”“Alice Nahon”“Gambaran”“Katamu Tuhan”Willem Kloos” Dalam majalah lain“Anak Kecil”“Gadis Bali”“Gua Gaja”Ke Balai”“Sekarang Ini”“Sinar dan Bayang”“Aku Dilukis”“Bertemu Setan”“Penumpang kelas 1”“Aku Berjasa”“Cintaku”“Mengheningkan Cipta”“Aku dan Temanku”“Kepada Dewan Pertimbangan Kebudayaan”“Sang Pemimpin (Waktu) Kecil” Prosa“Datuk yang Ketularan”“Kemeja Pancawarna”“Prawira Pers Tukang Nyanyi”“Saya Masuk Sekolah Belanda”“Sepuluh Hari Aku Tak Mandi” Drama1. “Lena”. Sulawesi. No. 1. Tahun 1. 1958Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Idrus

Biografi Idrus lahir pada tanggal 21 September 1921, di Padang, Sumatera Barat. Ia menikah dengan Ratna Suri, pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat putra dan dua putri, Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riadi Idrus, Rizal Idrus, Damayati Idrus, Lenita Idrus, dan Taufik Idrus.Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu. Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai tempatnya bekerja. Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia di sana dan berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Dan, keinginannya itu pun terwujud, ia berkenalan dengan H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain. Meskipun menolak digolongkan sebagai sastrawan Angkatan ’45, ia tidak dapat memungkiri bahwa sebagian besar karyanya memang membicarakan persoalan-persoalan pada masa itu. Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya.
Hasratnya yang besar terhadap sastra membuatnya tidak hanya menulis karya sastra, tetapi juga menulis karya-karya ilmiah yang berkenaan dengan sastra, seperti “Teknik Mengarang Cerpen” dan “International Understanding Through the Study of Foreign Literature”. Kemampuannya menggunakan tiga bahasa asing (Belanda, Inggris, dan Jerman) membuatnya berpeluang untuk menerjemahkan buku-buku asing. Hasilnya, antara lain, adalah Perkenalan dengan Anton Chekov, Perknalan dengan Jaroslov Hask, Perkenalan dengan Luigi Pirandello, dan Perkenalan dengan Guy de Maupassant.Karena tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat terhadap penulis-penulis yang tidak sepaham dengan mereka, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air dan pindah ke Malaysia. Di Malaysia, lepas dari tekanan Lekra, ia terus berkarya. Karyanya saat itu, antara lain, Dengan Mata Terbuka (1961) dan Hati Nurani Manusia (1963).Di dalam dunia sastra, Kehebatan Idrus diakui khalayak sastra, terutama, setelah karyanya, Surabaya, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Aki diterbitkan. Ketiga karyanya itu menjadi karya monumental. Setelah ketiga karya itu, memang, pamor Idrus mulai menurun. Namun, tidak berarti ia lantas tidak disebut lagi, ia masih tetap eksis dengan menulis kritik, esai, dan hal-hal yang berkenaan dengan sastra di surat kabar, majalah, dan RRI (untuk dibacakan).Karya-KaryaNovel1. Surabaya2. Aki3. Perempuan dan kebangsaan4. Dengan Mata Terbuka5. Hati Nurani Manusia6. Hikayat Putri Penelope7. Hikayat Petualang LimaCerpen1. “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma”Drama1. Dokter Bisma2. Jibaku Aceh3. Keluarga Surono4. Kejahatan Membalas DendamKarya Terjemahan1. Kereta Api Baja2. Roti Kita Sehari-hari3. Keju4. Perkenalan dengan Anton Chekov5. Cerita Wanita Termulia6. Dua Episode Masa Kecil7. Ibu yang Kukenang8. Acoka9. Dari Penciptaan KeduaSumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Hasan Alwi

Biografi Hasan Alwi adalah mantan Kepala Pusat Bahasa, Jakarta. Ia dilahirkan di Talaga, Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 14 Juli 1940. Ia dibesarkan dalam keluarga yang beragama Islam. Pada tahun 2000 bersama istrinya ia menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah. Hasan Alwi mempunyai empat orang anak. Hasan Alwi menyelesaikan pendidikan sekolah rakyat tahun 1952, SMP negeri tahun 1955, dan SGB tahun 1956, semuanya di Majalengka. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di SMA Taman Siswa, Bogor, tahun 1962. Pada tahun 1971 ia menyelesaikan pendidikan sarjana S-1 Jurusan Bahasa Prancis, IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Gelar akademiknya tertinggi diperoleh pada tahun 1990 dalam Program Doktor Bidang Linguistik, Universitas Indonesia.Sebelumnya, ia mengikuti pendidikan Centre de Linguistique Appliquée, Faculté de Lettres, Université de Besançon, Prancis (1973—1974), Post Graduate Training Programme for General and Austronesian Linguistics, Rijksuniversiteit, Leiden (1979—1980), dan Johann Wolfgang Goethe Universitat, Frankfurt (1986/1987).Karier Hasan Alwi diawali dengan menjadi guru SD di Banjaran, Talaga (1956–1959); di Ciheuleut, Bogor (1959–1962); dan di Jakarta (1962–1965). Kemudian, ia juga menjadi guru Bahasa Prancis pada SMA IPPI Jakarta, SMA Wedha Jakarta, SMA Santa Ursula II Jakarta, SMA Proyek Perintis Sekolah Pembangunan IKIP Jakarta (1965–1969). Ia juga mengajar bahasa Prancis pada Akademi Bahasa Asing, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1966-1978),
pada Djakarta Academy of Languages, Jakarta (1966–1979), pada Pusat Kebudayaan Prancis, Jakarta (1972–1986). Selain itu, ia pernah menjadi redaksi/penyiar pada Seksi Prancis, Siaran Luar Negeri, RRI Jakarta (1964–1973). Pada tahun 1978 Hasan Alwi bekerja di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pembantu pimpinan.Jabatan struktural yang pernah dipegang Hasan Alwi diawalinya ketika ia diangkat sebagai Kepala Bidang Perkamusan dan Peristilahan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pen¬didikan dan Kebudayaan (1991). Pada tahun 1992—2001 ia diangkat sebagai Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pen¬didikan dan Kebudayaan .Setelah selesai jabatannya itu, Hasan Alwi menjadi peneliti pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang). Selain itu, ia menjadi penguji/pembimbing/pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Padja¬djaran, Universitas Indonesia, dan Universitas Negeri Jakarta (1992–sekarang).Sebagai ahli bahasa, Hasan Alwi banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan profesinya, baik dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan itu, antara lain, sebagai penanggung jawab majalah Cadence, Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (1988–1990), Pemimpin Redaksi Majalah Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang), Dewan Penasihat Pengurus Pusat Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Periode 1994-1997 dan 1997—2000, Ketua Panitia Penyelenggara Kongres Bahasa Indonesia VI Tahun 1993 dan Kongres Bahasa Indonesia VII Tahun 1998, Wakil Ketua Panitia Pengarah Kongres Bahasa Jawa II, Batu, Malang, 1996, Ketua Komite Nasional RELC untuk Indonesia (1992—2001), Ketua Panitia Kerja Sama Kebahasaan (Pakersa)(1992—2001), Ketua Perutusan Indonesia pada Sidang Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim)(1992—1999 dan 2001), Ketua Perutusan Indonesia pada Sidang Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) (1996—1999 dan 2001), Ahli Jawatankuasa Mastera pada Bengkel Kesusastraan Bandingan 1996, 13–14 Agustus 1996, Kuala Lumpur, Ahli Jawatankuasa Eksekutif Majlis Antarabangsa Bahasa Melayu (MABM) (2000—2001), Ahli Jawatankuasa Kerja Majlis Antarabangsa Bahasa Melayu (MABM) (2001—sekarang), Ketua ASEAN-COCI Working Group on Literary and Asean Studies (1996—1998), dan Anggota Governing Board SEAMEO-RELC (2001—sekarang).Di samping itu, ia juga aktif di berbagai organisasi profesi, seperti Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (sebagai Sekretaris Pengurus Pusat , 1970—1973 dan Ketua Pengurus Pusat, 1983—1990; Pemimpin Redaksi majalah Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2001—sekarang); Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) ( anggota, 1986–sekarang); Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) (anggota, 988—sekarang); Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (anggota, 1999—sekarang)Dalam perjalanan kariernya sebagai pakar bahasa, Hasan Alwi banyak menghasilkan karya tulis, baik yang berupa buku maupun makalah, yang sudah diterbitkan dan yang belum diterbitkan, antara lain, sebagai berikut.A. Karya Tulis yang Sudah Diterbitkan1. Modalitas dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. 1992.2. “Kata Seperti, Mungkin, dan Barangkali”. .Dalam Berita ILDEP, Tahun II, No. 4 (1991): 26–363. “Dari Bahasa Melayu Ke Bahasa Indonesia: Pemantapan Sarana Pencerdasan Kehidupan Bangsa.” Majalah Sastra Horison. Desember 1996: 9–134. “Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia melalui Pembinaan Bahasa Indo¬nesia.” Majalah Bahasa dan Sastra Tahun XVI, No. 1, 1998: 1–155. “Sastra di Indonesia Perlukah Dibina dan Dikembangkan?”. Majalah Sastra Horison. Februari 1999: 6–96. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Tim Penyusun bersama Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. Jakarta: Balai Pustaka. 19997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Wakil Penanggung Jawab Tim Redaksi. Jakarta: Balai Pustaka. 1999 (Cetakan Pertama 1991)8. “Seputar Kalimat Imperatif dalam Bahasa Indonesia”. Dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (Ed.) 88–96. Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pusat Pem¬binaan dan Pengembangan Bahasa. 19999. ”Fungsi Politik Bahasa”. Dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (Ed.): 6—20. Politik Bahasa (Risalah Seminar Politik Bahasa). Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2000. 10. Bahasa Indonesia: Pemakai dan Pemakaiannya. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2000.11. “Penelitian Kebahasaan di Indonesia: Bagaimana Dasar Kebijakan dan Perencanaannya?” Dalam Bambang Kaswanti Purwo (Ed.):151—160. Tipologi Bahasa Pragmatik Pengajaran Bahasa. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atma Jaya. 200112. “Sastra dan Tingkat Keberaksaraan”. Dalam Riris K Toha-Sarumpaet (Ed.):12—19. Sastra Masuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera. 2002.13. “Bahasa Indonesia di Antara Kemauan Politik dan Belantara Pemakaiannya”. Dalam Ied Veda Sitepu (Ed.):3—22. Tujuh Puluh Tahun Pak Maurits Simatupang. Festschrift. Jakarta: Universitas Kristen Indonesia Press. 200214. “Bahasa Menunjukkan Bangsa”. Dalam Katharina Endriati Sukamto (Ed):201—216. Menabur Benih Menuai Kasih. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2004B. Karya Tulis yang Belum Diterbitkan1. “Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing.” Makalah Simposium Perkembangan Bahasa Indonesia di Kawasan Timur Jauh. 19–20 Juli 1993 di Tokyo2. “Pengajaran BIPA: Upaya Pengembangan.” Makalah Simposium Bahasa Indonesia di Asia Timur, 14–17 Desember 1995, Beijing3. “Upaya Pengembangan Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia.” Makalah Seminar Jaringan Melayu Antar Bangsa, 12–13 September 1996, Hotel Grand Hyatt, Jakarta4. “Bahasa, Daya Nalar, dan Kecermatan.” Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Budaya di Dunia Melayu (Asia Tenggara), Mataram, 21–23 Juli 19975. “Upaya Meningkatkan Pengajaran BIPA di Luar Indonesia.” Makalah Seminar dan Workshop Penyebaran/Peningkatan Studi Bahasa dan Kebu¬dayaan Indonesia, Passau (Jerman), 18–21 September 19976. “Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Sastra di Indonesia.” Makalah untuk Pertemuan Sastrawan Nusantara IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia di Sumatera Barat, 6–11 Desember 19977. “Upaya Peningkatan Kerja Sama Pembinaan dan Pengembangan Sastra dalam Menghadapi Tantangan Zaman.” Makalah Seminar Mastera I, Malaysia, 16 Februari 19988. “Beberapa Catatan tentang Penerjemahan.” Makalah Seminar Penerjemahan, dise-lenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2–6 Oktober 1978, di Wisma Arga Mulya, Tugu, Bogor9. “Pengembangan Kesusastraan Indonesia pada Abad Ke-21.” Makalah Per¬temuan Sastrawan Nusantara X dan Pertemuan Sastrawan Malaysia I, 16–20 April 1999, Johor Bahru, Malaysia10. “Sastra dan Tingkat Keberaksaraan”. Makalah Diskusi Angkatan Sastra 2000, Komunitas Sastra Indonesia, 2 Oktober 1999, PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki11. “Peran Tradisi dalam Sistem Pendidikan Nasional dan Pembentukan Wacana Kebudayaan”. Makalah Seminar Internasional Tradisi Lisan III, 14–16 Oktober 1999, Jakarta12. “Plus-Minus Kamus Badudu-Zain”. Makalah Seminar Bedah Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain, 2 Mei 2001, Universitas Padjadjaran, Bandung13. “Bahasa Indonesia di Antara Kemauan Politik dan Belantara Pemakaiannya”. Makalah Seminar Nasional XI Bahasa dan Sastra HPBI, 10—12 Juli 2001, BPG Denpasar14. “Penelitian Kebahasaan di Indonesia: Bagaimana Dasar Kebijakan dan Perencanaannya?”. Makalah Pertemuan Linguistik PELBA 14, 24—25 Juli 2001, Unika Atma Jaya, Jakarta15. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Bahan Penataran Leksikografi I, diselenggarakan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 13—16 Agustus 2001, Hotel Parkroyal, Kuala Lumpur16. “Bahasa Kebangsaan dan Pengembangan Ilmu”. Makalah Persidangan Serantau Bahasa, Sastra, dan Budaya Melayu, 20—23 Oktober 2001, Universiti Putera Malaysia, Serdang17. “Pemertahanan Bahasa Indonesia sebagai Upaya Pembinaan Peradaban Bangsa”. Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia-Melayu “Peran Bahasa dan Sastra Indonesia-Melayu dalam Pendidikan dan Pembinaan Peradaban Bangsa”, diselenggarakan oleh Universitas Pakuan bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Universitas Pakuan, Bogor, 14—16 September 200218. “Pembinaan Bahasa dalam Konteks Otonomi Daerah”. Makalah Seminar Bahasa dan Kebahasaan “Kebijakan Bahasa Nasional dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah”, Program Studi Linguistik USU bekerja sama dengan Ikatan Alumni Linguistik Program Pascasarjana USU, Pusat Bahasa USU, Medan, 22 April 2004 Atas dedikasinya pada profesinya itu, Hasan Alwi mendapat piagam tanda kehormatan, yaitu Satyalancana Dwidya Sistha dari Kepala Staf TNI-AL (1984); Satyalancana Karya Satya Tingkat III, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 001/TK/Tahun 1988, tanggal 6 Januari 1988; Satyalancana Karya Satya 30 Tahun, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 071/TK/Tahun 2001, tanggal 8 Agustus 2001; Penghargaan Pusat Bahasa sebagai pendiri Mastera (2005).Alamat Kantor: Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta TimurTelepon 021-4894564, Faksimile 021-4750407Pos-el: hasanalwi40@yahoo.comAlamat Rumah: Jalan Pulo Asem Utara VII No. 26, Kelurahan Jati Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta 13220, Telepon 021-4894227

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Harimurti Kridalaksana

Biografi Harimurti Kridalaksana lahir di Ungaran, Jawa Tengah, pada tanggal 23 Desember 1939. Ia memiliki nama lengkap Raden Mas Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana. Pada tahun 1963 Harimurti menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Pada tahun 1971 ia mengikuti pendidikan tentang didaktik bahasa di University of Pittsburg, Amerika Serikat, dan pada tahun 1973 mengikuti summer school sekaligus menjadi visiting scholar di University of Michigan Ann Arbor, Amerika Serkat. Ia pernah menjadi Fulbright Scholar di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 1971; Ia juga pernah menjadi visiting scholar di University of Michigan, Amerika Serikat, pada 1973. Pada tahun 1985 ia menjadi pengajar dan peneliti tamu di Johan Wolfgang Goethe Universitat, Jerman. Kemudian, pada tahun 1987 ia memperoleh gelar doktor ilmu sastra .Harimurti memulai karier dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan pada tahun 1961 ketika ia menjadi guru dalam bidang civies dan penerjemah karya-karya dalam ilmu politik dan ilmu sosial selama beberapa tahun.
Pada tahun 1961 ia mulai mengabdi di Universitas Indonesia dan mendapat tugas mengajar sejarah linguistik dan linguistik historis komparatif Austronesia pada tahun 1963. Setahun kemudian Harimurti mengajar di Universitas Atma Jaya dan di pelbagai perguruan tinggi di Jakarta dan Yogyakarta, termasuk di Sekolah Staf dan Komando AngkatanLaut, Universitas Gadjah Mada. Ia juga pernah mengajar di Frankfurt, Napoli, Kuala Lumpur, dan Bangkok. Ia juga pernah dan masih menjadi external examiner di Universiti Malaya, Universiti Putra Malaysia, Annamalia University (India), dan Universiti Brunei Darussalam. Di Universitas Indonesia ia juga pernah menjadi Ketua Jurusan Sastra Indonesia dua kali dan menjadi Koordinator Bidang Ilmu Budaya Program Pascasarjana selama dua periode.Sebagai pakar bahasa, Harimurti telah manulis makalah lebih dari 100 dan buku lebih dari 20. Di awal kariernya, Ia pernah menulis, antara lain “Towards a standardization of phonologic and morphologic borrowed elements in Indonesian” dalam International Conference of Orientalists, Kuala Lumpur 1967; “Second participant in Indonesian address” dalam International Congress of Orientalist, Camberra (Australia) 1971; dan “Lexicography in Indonesia” dalam International Congress of Linguists, Wina (Austria) 1979. Beberapa penelitian lapangan pernah juga dilaksanakannya, antara lain penelitian sosiolinguistik di Jakarta dalam rangka kerja sama Stanford University dan Universitas Indonesia pada tahun 1969. Selain penelitian sosiolinguistik, Harimurti juga pernah mengadakan penelitian mengenai bahasa Melayu Riau di Pulau Bintan dan Pulau Lingga, lalu melanjutkan penelitiannya mengenai bahasa Orang Laut di Kepulauan Riau dan mengenai bahasa Orang Sakai di Riau Daratan dari tahun 1969 sampai dengan 1972 Penenlitian ini disponsori oleh Lembaga Research Kebudayaan Nasional LIPI. Kemudian, pada tahun 1974 ia melakukan survei politik bahasa di Malaysia, Singapura, dan Filipina.Harimurti adalah editor Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua dan Kamus Mandarin-Indonesia. Di antara buku-buku yang pernah ditulisnya ialah Kamus Linguistik, Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, Masa Lampau Bahasa Indonesia:Sebuah Bunga Rampai, Introduction to Word Formation and Word Classes in Indonesian, Wiwara: Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Makalah pentingterkini yang beredar di luar negeri berjudul “The Sanskrit legacy in Indonesia today” yang disajikannya dalam 11th World Conference of Sanskrit di Turino Italia pada 3 April 2000, dan “Paradigma semiotik dalam linguistik Melayu/Indonesia” yang disajikan di Universiti PutraMalaysia pada 22 Oktober 2001. Dalam bulan Juli 2002 diluncurkan buku terbarunya yang berjudul Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Di organisasi profesi Harimurti juga aktif. Ia pernah menjadi anggota organisasi ilmiah seperti Linguistic Society of America, Societas Linguistica Europaea, Royal Asiatic Society, International Association of Cognitive Linguistics, Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, Masyarakat Linguistik Indonesia, Perkumpulan Linguistik Malaysia. Ia juga menjadi salah seorang anggota International Committee on Indonesian Etymology, Ketua Himpunan Pembina Bahasa Indonesia yang pertama (2 periode), dan Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia 2 periode. Sampai sekarang ia masih menjadi profesor teori linguistik dan Bahasa Indonesia dan Kepala Pusat Leksikologi dan Leksikografi di Universitas Indonesia; dan pada 1 Desember 1999 ia mulai menjabat Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 

Gorys Keraf

Biografi Dr. Gorys Keraf lahir di Lamera/ Lembata NTT tanggal 17 Nopember 1936. Beliau meninggal diusia 61 tahun pada tanggal 30 Agustus 1997.Beliau adalah seorang ahli bahasa di Indonesia dan juga tokoh Katolik Indonesia. Beliau menamatkan Sekolah Menengah Pertama di Seminari Hokeng (1954).Kemudian Sekolah Menegah Atas beliau selesaikan di Syuradikara Ende (1958). Masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959 hingga memperoleh gelar Sarjana Sastra Jurusan Bahasa Indonesia Jurusan Lingustik tahun 1964. Terakhir beliau meraih Doktor dalam bidang Lingustik dari Universitas Indonesia (22 Pebruari 1978) dengan disertasi berjudul Morfologi Dialek Lamarela.Pernah mengajar di SMA Syuradikara, SMA Seminari di Hokeng, SMA Buddahaya II Jakarta (1962—1965),
SMA Santa Ursula dan SMA Theresia (1964),. Beliau juga pernah menjadi dosen di Fakultas Pendidikan dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Unika Atma Jaya (1967), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian dan Jakarta Accademy Languages Jakarta (1971).Terakhir beliau menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak tahun 1963, disamping menjadi koordinator mata kuliah Bahasa Indonesia dan Retorika di Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia.Karya-karya beliau, antara lain;1. Tatabahasa Indonesia (1970)2. Komposisi (1971, 1980)3. Diksi dan Gaya Bahasa (1981)4. Eksposisi dan Deskripsi (1981)5. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia untuk Tingkat Pendidikan Menengah (1991)6. Lingustik Bandingan Historis (1958)7. Lingusitik Bandingan Tipologis (1990)8. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia Untuk Umum (1992)br>

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2011 in Biografi Sastrawan Indonesia

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.